Thursday, February 26, 2015

Untuk Rasi Kautsar

Untuk Rasi Kautsar

Rasi Kautsar
Rasi Kautsar - sumber

Dear Rasi Kautsar, putri kecilku.
Saat menulis surat ini, Mama Pi sedang memutar ulang rekaman suara yang kau kirimkan lewat Whatsapp. Rasi, suaramu yang parau itu menghangatkan malamku dan nenekmu. Kami mengisi ruang rindu dengan derai tawamu, lagu-lagu yang kau nyanyikan, dan keluguan senda guraumu.

Nak, lewat suara-suara elektronik itu kau banyak bercerita tentang sekolah. Rupanya kau senang menuntut ilmu dan dan berteman. Kami turut bahagia, Nak. Harapanku tak banyak, Nak, tak perlu kau menggondol juara pertama lomba menggambar atau mendapat nilai tertinggi di kelas. Cukuplah ketika kau menikmati setiap detik setiap kali membaca, berhitung, atau menulis, menjadi kesenanganku juga.

Aku tak sabar menantikanmu memakai seragam merah putih, yang berarti kau telah kembali ke kota kita tercinta. Negeri Hujan memang menyimpan banyak pesona, namun kota yang dipeluk gegunungan ini menyimpan banyak cahaya. Kota sejuk dan kami sekeluarga—aku, nenek, dan kakekmu—menunggumu penuh doa.

Rasi, sekolah adalah tempat yang memukai, di sana kau akan bertemu berbagai karakter manusia, berbagai karakter ilmu dan kegunaannya. Tetaplah mencintai sekolah, Nak. Aku ingat ketika seumurmu, sekolah adalah tujuan utamaku. Aku benci hari libur, karena aku tidak bisa sekolah, tidak bisa bertemu para sahabat. Bertemanlah dengan banyak orang di sekolah, Nak, termasuk dengan penjaga sekolah. Kuberitahu satu rahasia, penjaga sekolah sering meloloskanku ketika aku terlambat datang. Penjaga sekolah memperhatikan keselamatanku ketika aku pulang terlalu larut.

Kau juga harus berteman dengan penjaja kantin. Bukan, bukan untuk minta makanan gratis, tapi kalau diberi sajian lebih, jangan pula kau tolak. Oh ya, kau jangan takut pada guru killer, guru semacam ini punya disiplin tinggi, kau bisa belajar lebih maksimal. Dan ingat, guru killer tetaplah manusia yang bisa tersentuh hatinya, maka perlakukan mereka dengan hormat jangan malah memusuhinya.

Rasi, sekolah memang tempat untuk berteman, berteman dengan segala rupa topeng manusia, segala rupa pengetahuan. Sekolah kadang terasa menjadi beban, namun ketika kau berteman dengan mereka, segala beban bisa sirna.

Nanti, kau bisa ikut kegiatan tambahan, ada beragam ekskull yang bisa kaupilih. Mulai dari melukis, menulis, olah raga, sampai belajar berdebat. Dulu, aku suka sekali kegiatan teater. Mamamu dan aku banyak menghabiskan waktu untuk tampil di panggung. Menurutku, belajar teater itu lengkap sekali. Aku bisa belajar menulis, berperan, menata pakaian, menata rias, sampai menata cahaya. Lebih dari itu, aku bisa belajar bekerja dalam tim. Pilihlah yang kau sukai.

Rasi, Mama Pi kangen sekali. Sampai hari kepulanganmu, aku akan cukupkan rindu dengan memandangi fotomu yang kian menggemaskan. Wajahmu persis Mama Pa waktu seusiamu. Rasi sayang, teruslah kirimi gambar-gambarmu, agar aku merasa tetap dekat, tetap melihatmu bertumbuh. Mama Pi tetap Mamamu yang kedua, biarpun tubuhku jarang ada di dekatmu. Peluk cium untuk gadis kecilku yang lugu. 
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

4 comments:

  1. Rasi mirip teh eva juga teh evi ya. Berasa kayak punya anak sendiri dong ya teh?
    Rasi beneran manggilnya "mama" ke teh evi? Rasi punya dua ibu dong ya :))
    Anak-anak emang menggemaskan, kadang aku selalu bisa langsung jatuh hati sama anak-anak. Mereka lugu dan tulus. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mit, Rasi mirip kita berdua *ngarep*
      Beneran manggilnya Mama Pi, iya dia punya dua ibu heuheu

      Delete
  2. dari cerita diatas teteh ini berjauhan sama putrinya kah,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Putrinya kembaran saya sih tapi udah kayak putri sendiri :)

      Delete