Cinta Masa Kecil

Untuk Kadi Oktavianto


Seorang anak kecil laki-laki berumur sepuluh tahun, berlari dengan lincah di lapangan tak berumput. Ia mengenakan sweater kebangsaan berwarna biru putih, hood-nya mengepak seperti sayap. Ia tertawa ketika berhasil membobol gawang lawannya. Senyumnya tipis dan manis, senyum kekanakan yang khas, senyum miliknya.

Sumber Google
Sumber Google

Sumber Google
Yang aku ceritakan di atas itu kamu, Kadi. Bagaimana hidupmu sekarang? Masih hidupkah? Sudah menikah? Sudah punya anak berapa? Kamu seperti hilang semenjak memasuki SMP. Akh aku kangen dengan lapangan sekolah kita, kangen dengan kelas-kelas reot itu, kangen dengan pintu dimana aku sering mengintipmu. Aku kangen kamu juga *sambil malu-malu*.


Tapi sekarang, sekolah kita sudah dipugar. Sekolah kita, kini berlantai dua. Bangunannya bagus dan bersih. Kenapa aku tahu? Bukan karena ingin mengenangmu, lantas aku ke sana. Jangan geer dulu! 

Keponakanku bersekolah di sana. Yah, kita memang tidak satu sekolah, sebenarnya. Hanya satu kompleks sekolah. Sekolahku berada di depan, dan sekolahmu berada di belakang. Kita menggunakan lapangan yang sama untuk upacara bendera maupun olahraga. Syukurlah, dengan begitu aku bisa memandangimu.

Hei Kadi, aku mau bikin sebuah pengakuan, kalau aku waktu SD suka sama kamu. So long-long time ago. Aku yakin kamu juga tahu. Entah kenapa, waktu itu juga, aku punya perasaan kamu juga suka aku. Buktinya, walaupun jadwal sekolah kita suka berbeda, dalam pengertian, aku sekolah pagi dan kamu sekolah siang atau sebaliknya, kamu suka nongkrong depan kelasku. Atau main sepak bola atau apalah yang buat kamu diam di sekolah sampai sore. Kamu juga suka datang lebih awal kalau sekolah pagi.

Pertama kali melihatmu, aku langsung tahu bahwa kamu itu seperti tokoh komik dalam serial cantik, tentu saja pemeran utama laki-lakinya. Seandainya saja aku juga jadi pemeran utama perempuan dalam komik. Seperti aku jatuh cinta pada komik begitupun padamu. Aku masih gadis kecil berumur sembilan tahun, sebagai murid pindahan dari desa. Kau begitu berkilau disinari matahari sekalipun berlindung di bawah pohon pojok lapangan.

Entah kenapa, komik--terutama serial cantik- banyak bercerita tentang persahabatan cewek dan cowok sejak kecil. Lalu ketika dewasa, mereka akan menjauh karena menyadari perasaan masing-masing. Untuk menyelamatkan persahabatan.

Aku tidak punya sahabat kecil yang berjenis kelamin laki-laki sih, tapi aku punya kamu. Cinta masa kecilku.

Bagaimana kita saling mengenal? Aku agak lupa, kalau nggak salah di kantin atau mushola ya? Pokoknya kita berantem. Padahal momen itu memang sengaja kutunggu, masa hanya terus menerus melihat dari kejauhan, tanpa mengenalmu. Saat itu aku merasakan sebuah chemistry yang sama. Kamu memancarkan ketertarikan itu. Setelah itu kita akan terus bertengkar setiap bertemu. Benar-benar seperti cerita serial cantik.

Tapi tunggu dulu, aku memiliki kembaran dan kau juga terlihat tertarik padanya. Apa-apaan ini? Aku berusaha meyakinkan diri, kau hanya tertarik padaku. Selain itu, kau juga punya sahabat, namanya Josep kan? Dia tertarik padaku, dia berusaha mendekatiku, kadang-kadang kau peduli, selebihnya tidak. Kau terlalu percaya diri rupanya.

Kadi, aku menulis segala sesuatu tentangmu di sebuah diary berwarna pink. Bahkan sampai detail terkecil yang menceritakan tentang hari ini kau memakai jaket apa, makan apa, minum apa, apa saja yang kau lakukan ketika waktu istirahat, atau hanya sekedar kejadian kecil ketika kita berpapasan. 

Sayangnya, diary itu sudah kubakar. Kenapa? Suatu hari ketika aku sedang menerima telpon dari seseorang yang entah siapa, kembaranku membaca diary itu. aku melihatnya dan merasa sangat kesal. Kembaranku bilang kalau dia suka kamu dan kamu tampak menyukainya. Aku patah hati. Tapi kamu tidak bisa memecah-belah anak kembar, jadi kami memutuskan untuk berbagi. Hahahaha..

Setelah lulus SD, kau beberapa kali mengunjungi sekolah setelah itu menghilang. Aku berusaha mencari tahu dimana sekolahmu, tapi tak ada kabar sama sekali. Sampai detik ini, aku tidak pernah menemukanmu. Suatu hari setelah ada social media, aku mencarimu di friendster dan facebook, kamu tidak ada. Apa kamu tidak menggunakan nama asli? Sampai sekarang aku masih hapal betul nama lengkapmu dan bulan kau berulang tahun.

Aku melampirkan tiga cover komik. Ketiganya cukup mewakili perasaanku padamu. Kalau senggang, cari dan bacalah komik-komik itu.

Pertama, komik Skip. Ceritanya tentang anak SMA. Dua anak cewek dan cowok yang suka bertengkar. Persis kita, kan?

Kedua, Album Kenangan. Aku sebenarnya agak lupa ceritanya. Hanya saja, seperti ada penyesalan dalam komik ini. Aku juga sangat menyesal, kenapa sekolah kita begitu ketinggalan sampai-sampai tak ada yang namanya album kenangan. Seandainya saja ada, aku mungkin masih bisa mencari jejakmu.

Ketiga, Sejuta Bintang. Ceritanya tentang dua orang cewek yang bertukar tubuh dan posisi. Apa hubungannya dengan kita? Tenang, ceritanya masih berlanjut. Jadi salah satu cewek itu ketemu cowok, artis yang dia sukai. Pada saat dia balik lagi ke tubuhnya. Si cowok itu bilang: "Dari jutaan manusia, aku bisa menemukanmu." So sweet sekali ya? Seandainya aku bisa begitu. Diantara sejuta bintang, aku bahkan tidak bisa melihat yang mana bintangmu. Bintangmu masih bersinar kah?

Hei Kadi, kalau kau tidak sengaja membaca surat ini, balaslah. Biar kita bisa sekedar bertegur sapa.

Dari gadis masa kecilmu


-Evi SR-
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

1 comment:

  1. wahhh... ceritanya seruuu sekaliiii mb evi.. hihihi

    ReplyDelete