
SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang
Tempat yang paling ingin saya kunjungi dalam kurun waktu tahun 2016-2020, ketika saya menulis novel Babad Kopi Parahyangan adalah Bukittinggi dan Padang. Betapa tidak, hampir seperlima latar belakang novel tersebut berada di sana. Sayangnya, saya tidak berkesempatan ke Bukittinggi dan Padang. Meski begitu, sewaktu kecil, saya pernah mampir ke Padang. Lucunya, ini betul-betul bisa disebut mampir sebab saya hanya bisa diam di parkiran sebuah universitas tempat kakak sepupu saya kuliah.
SEPATUALANG
Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang karya Yunis Kartika sedikit
mengobati kerinduan dan rasa keingintahuan saya yang begitu besar. Buku ini
adalah seri SEPATUALANG yang ketiga. Jika SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan keBangka, saya merasakan bagaimana Yunis Kartika menjadikan destinasi sebagai
ritus sejarah serta peristiwa, dalam SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan keBelitung, saya melihat bagaimana penulis menjadikan laut sebagai ruang
nostalgia atau ingatan.
Nuansa
yang saya temukan dalam Sepatualang Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan
Padang berbeda. Buku ini masih berbicara tentang perjalanan dan sejarah,
tetapi kali ini perjalanan tidak hanya membawa pembaca menikmati sebuah tempat.
Ia mengajak kita menyusuri jejak sejarah yang lebih mendalam, membaca kembali
ingatan kolektif, dan memahami identitas masyarakat Minangkabau melalui
berbagai ruang yang dikunjungi.
Sejak
membaca halaman-halaman awal, saya merasa buku ini tidak sedang menawarkan
daftar destinasi wisata. Yunis seolah mengajak pembaca berjalan perlahan untuk
memahami bagaimana sebuah masyarakat merawat ingatannya sebagai bentuk mempertahankan
identitas.
Keterangan Buku
Judul : SEPATUALANG
Edisi Jalan-Jalan ke Bangka
Penulis : Yunis Kartika
Penerbit : Stiletto Book
Tebal : 159
halaman
Proofreader : Tim Stiletto Book
Tata
letak isi : Tim
Stiletto Book
Desain
kover : Tim Stiletto Book
Cetakan : 1, Oktober 2025
ISBN : 978-623-409-554-8
Blurb
Apa
jadinya jika sebuah perjalanan dituturkan bukan hanya dari mata pejalan, tetapi
juga dari langkah sepasang sepatu bernama Samayo?
Sepatualang
Edisi Jalan-jalan ke Bukittinggi dan Padang bukan sekadar
catatan perjalanan, melainkan ajakan untuk menyelami kisah di balik setiap
jejak. Dari Bukittinggi dengan Jam Gadang yang tak pernah berhenti berdetak,
rumah Bung Hatta yang sederhana, hingga lorong gelap Lubang Japang yang
menyimpan luka sejarah, Ngarai Sianok yang memukau, Air Terjun Lembah Anai yang
menyejukkan. Dari Padang dengan Masjid Raya yang megah, panorama Pantai Puruih
yang merekam denyut sejarah pesisir, museum-museum yang bercerita, sampai
randang yang merangkum filosofi hidup.
Dengan
gaya bertutur yang akrab dan reflektif, buku ini menghadirkan perpaduan kisah,
sejarah, dan rasa. Sebuah undangan untuk berjalan lebih perlahan, melihat lebih
dalam, dan pulang dengan hati yang penuh.

SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang
Ketika Perjalanan Menjadi Cara Merawat Ingatan
SEPATUALANG
Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang ini terasa senapas dengan Bangka
yaitu mengusung lebih banyak tentang sejarah. Namun, tema besar ini kemudian
lebih punya kedalaman sebab menyentuh ranah fundamental bagaimana sebuah
masyarakat merawat ingatan kolektifnya.
Hal
itu terlihat dari pilihan destinasi yang dikunjungi. Yunis tidak hanya
mendatangi tempat-tempat populer yang sering muncul dalam brosur wisata. Ia
mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, Jam Gadang, Lubang Japang,
Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, Museum Adityawarman, Museum Randang,
Monumen Gempa Padang, hingga Pantai Air Manis yang lekat dengan legenda Malin
Kundang.
Sekilas
tempat-tempat tersebut tampak berbeda satu sama lain. Namun setelah membaca
seluruh buku, saya menemukan benang merah yang menghubungkan semuanya: ingatan
kolektif dan identitas orang Minang.
Rumah
Bung Hatta menyimpan ingatan tentang keteladanan seorang tokoh bangsa. Jam
Gadang menyimpan ingatan sebuah kota. Lubang Japang menyimpan ingatan tentang
penderitaan romusha pada masa pendudukan Jepang. Museum Perjuangan
menyimpan ingatan tentang perjuangan kemerdekaan. Museum Adityawarman menyimpan
ingatan budaya Minangkabau. Museum Randang menyimpan ingatan kuliner yang
diwariskan turun-temurun.
Monumen
Gempa menyimpan ingatan tentang luka dan kehilangan. Bahkan legenda Malin
Kundang pun menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang terus
diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena
itulah saya merasa buku ini tidak sekadar mengajak pembaca mengenal Bukittinggi
dan Padang. Buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana sebuah masyarakat
menjaga hubungan dengan masa lalunya sembari terus melangkah ke masa depan.
Kekuatan Refleksi yang Mengajak Pembaca Berdialog
Salah
satu hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah pola narasi yang digunakan
Yunis. Sebagian besar bab dibuka dengan pertanyaan dan diakhiri dengan
refleksi. Pertanyaan tersebut tidak selalu ditulis secara eksplisit, tetapi
hadir dalam bentuk rasa ingin tahu yang menggerakkan cerita. Apa yang bisa
dipelajari dari Bung Hatta? Mengapa sebuah jam kota bisa begitu penting? Apa
yang sebenarnya tersimpan di balik terowongan Lubang Japang? Mengapa sebuah
legenda terus hidup hingga hari ini? Pola ini membuat pembaca tidak merasa
sedang menerima informasi secara satu arah. Sebaliknya, pembaca diajak ikut
berpikir dan berdialog dengan penulis.
Refleksi
yang muncul di akhir bab juga menjadi ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak
sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Dalam banyak bagian,
saya merasa Yunis tidak sedang menggurui. Ia hanya mengajak pembaca merenungkan
kembali apa yang baru saja dilihat bersama. Menurut saya, pola pertanyaan dan
refleksi inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama buku ini.
Tiga Bab yang Paling Berkesan
Dari
seluruh bab yang ada, ada tiga bab yang menurut saya paling kuat. Pertama,
bab tentang Lubang Japang. Ini adalah salah satu bagian yang paling lengkap
dalam buku. Yunis tidak hanya menjelaskan sejarah terowongan yang dibangun pada
masa pendudukan Jepang, tetapi juga mengajak pembaca membayangkan penderitaan
para romusha yang bekerja di sana. Sejarah tidak tampil sebagai kumpulan
data dan tanggal, melainkan sebagai pengalaman manusia yang penuh luka. Saat
membacanya, hati saya tergetar bahkan merasakan kengerian.
Kedua,
bab tentang Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma. Pada bagian ini saya melihat
keberanian Yunis sebagai penulis semakin matang. Ia tidak hanya memuji museum
yang dikunjungi, tetapi juga mencatat kondisi bangunan yang mulai kusam dan
kurang terawat. Catatan kritis seperti ini membuat buku terasa lebih jujur
karena penulis tidak hanya berperan sebagai wisatawan, tetapi juga sebagai
pengamat.
Ketiga,
bab tentang Museum Randang. Mungkin tidak semua pembaca akan memilih bab ini
sebagai favorit. Namun bagi saya, bab ini berhasil menunjukkan bahwa kuliner
dapat menjadi pintu masuk untuk memahami budaya. Randang tidak hanya
dibicarakan sebagai makanan yang lezat, tetapi sebagai warisan pengetahuan,
identitas, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ini
membuktikan bahwa kuliner adalah bahasa universal.
Ketiga
bab tersebut menunjukkan kemampuan Yunis dalam menghubungkan tempat dengan
makna yang lebih luas.
Ketika Sudut Pandang Mulai Membingungkan
Meski
demikian, buku ini bukan tanpa catatan. Hal pertama yang cukup mengganggu saya
adalah penggunaan sudut pandang yang belum sepenuhnya konsisten. Dalam buku ini
terdapat tiga suara yang digunakan: Yunis, Samayo, dan 3Some Travelers.
Di
satu sisi, kehadiran Samayo terasa semakin hidup dibandingkan seri-seri
sebelumnya. Karakter ini mampu menghadirkan dialog yang lebih cair dan membuat
narasi terasa ringan ketika membahas tema-tema yang cukup berat. Namun saya
masih kesulitan memahami alasan mengapa sebuah bab menggunakan sudut pandang
tertentu.
Mengapa
ada tempat yang diceritakan melalui Yunis? Mengapa ada yang menggunakan Samayo?
Mengapa sebagian lainnya menggunakan 3Some Travelers? Hubungan antara pilihan
tempat dan pilihan narator belum terasa jelas.
Contoh
yang paling saya rasakan adalah pada bab Sate Minangkabau, Martabak Kubang, dan
Roti Cane: Rasa Sejarah dari Ranah Minang. Sebagai pembaca, saya merasa
pengalaman kuliner akan lebih natural jika diceritakan langsung oleh Yunis.
Sebab manusialah yang bisa mencium aroma, mengecap rasa, dan mengalami
pengalaman makan secara langsung. Ketika bab tersebut justru menggunakan sudut
pandang Samayo, saya merasa ada sedikit jarak yang tercipta antara cerita dan
pengalaman yang sedang dibahas. Masalah ini tidak membuat buku kehilangan daya
tariknya, tetapi cukup membuat struktur naratif terasa kurang konsisten
dibandingkan dengan seri Bangka.
Catatan Penting yang Hilang: Penanda Waktu
Catatan
lain yang menurut saya penting adalah tidak adanya penanda waktu yang jelas
dalam sebagian besar catatan perjalanan. Sebagai pembaca, saya mengetahui siapa
yang melakukan perjalanan dan di mana perjalanan itu berlangsung. Namun saya
sering harus menebak-nebak kapan perjalanan tersebut dilakukan. Padahal waktu
merupakan konteks yang penting dalam sebuah catatan perjalanan.
Museum
yang sepi pada tahun tertentu belum tentu masih sepi beberapa tahun kemudian.
Sebuah kawasan wisata dapat berubah dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan
suasana sebuah kota bisa berbeda tergantung periode kunjungannya. Karena itu,
saya merasa kehadiran penanda waktu akan membantu pembaca memahami konteks yang
melatarbelakangi setiap pengalaman yang dituliskan.
Sebuah Buku yang Mengingatkan Kita untuk Tidak Lupa
Setelah
menutup halaman terakhir, ada satu kalimat yang terus teringat dalam benak
saya. Ketika mengunjungi Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, Yunis menulis:
Ketika melangkah keluar dari museum, saya sadar; perjuangan terbesar hari ini bukan lagi mengusir penjajah, melainkan mengusir lupa.
-Hal. 53-
Bagi
saya, kalimat tersebut bukan hanya refleksi atas satu museum. Kalimat itu
adalah kunci untuk membaca keseluruhan buku.
Sepatualang
Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang pada akhirnya adalah
catatan tentang bagaimana sejarah, budaya, kuliner, legenda, dan pengalaman
hidup bersama-sama membentuk identitas sebuah masyarakat.
Di
tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, buku ini mengingatkan bahwa ada
banyak hal yang perlu terus diingat. Sebab ketika ingatan mulai hilang,
perlahan-lahan identitas pun akan ikut memudar. Dan mungkin di situlah makna
perjalanan yang ingin disampaikan Yunis: bukan hanya melihat tempat-tempat
baru, melainkan belajar membawa pulang sesuatu yang layak untuk terus diingat.


No comments:
Post a Comment