Work From Café di Merawat Coffee and Space: Ketika Bekerja Juga Perlu Dirawat

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Work From Café di Merawat Coffee and Space

Pernahkah kamu merasa lelah bekerja di rumah? Bukan karena pekerjaannya terlalu banyak, tetapi karena perhatian kita terpecah ke mana-mana. Baru membuka laptop, tiba-tiba teringat mencuci piring. Sedang mencari ide, malah beralih menyiapkan minuman. Rasanya sulit menemukan ruang yang benar-benar membuat kita bisa fokus sekaligus merasa nyaman. Perasaan itulah yang saya rasakan ketika mencoba work from café di Merawat Coffee and Space. 


Mengapa Work from Café?

Pekerja lepas atau freelancer dalam satu dekade terakhir ini bukanlah status kerja yang langka. Begitu juga dengan sistem kerja remote atau jarak jauh yang semakin massif sejak era Covid-19. Sebagai freelancer sejak tahun 2011 yang saat itu masih jarang, saya merasakan fase perubahan mulai dari orang belum memahami arti pekerja lepas sampai jadi tren. Seringkali, orang memandang saya sebagai pengangguran tetap berpenghasil dan bertanya-tanya dari mana datangnya uang dalam rekening saya. Hiks-hiks.

 

Saya tidak ingat sejak kapan saya mulai suka work from café alias bekerja di kafe. Namun, alasan saya melakukan itu agar tidak disangka ‘pengangguran’. Minimal saya pergi dari rumah. Selain itu, ruang kerja di rumah seringkali tidak efektif. Mengapa? Sebab, dari bangun tidur sampai tidur lagi saya terus bekerja. Tak ada sekat ruang dan waktu yang jelas antara kerja, istirahat, dan bermain. Kalau kata anak zaman sekarang, sekat itu tetap dibutuhkan agar tercipta keseimbangan hidup.

 

Bekerja di rumah kadang juga tidak produktif. Saya kerap terjebak dengan produktivitas semu yang ujung-ujungnya menunda-nunda pekerjaan. Ketika saya mesti mengeluarkan biaya katakanlah untuk ongkos bolak-balik, ngopi, dan makan, saya akan memastikan biaya itu tidak sia-sia. Harus ada pekerjaan yang selesai, dan saya lebih bisa mengatur prioritas.

 

Alasan terakhir, saya butuh suasana baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Jika saya mesti mewawancarai orang atau berjumpa dengan teman, kafe adalah tempat yang tepat. Tidak semua orang bisa masuk ke ruang pribadi saya.

 

Sejak saya pindah ke Bandung Timur, saya kadang-kadang berburu kafe yang nyaman untuk bekerja. Sampai saya bertemu dengan Merawat Coffee and Space, hati saya jatuh pada pandangan pertama.

 

Ruang Kerja, Sosial, dan Kreatif di Merawat Coffee and Space

Merawat Coffee and Space terletak di Jl. Arcamanik Endah No.23, Kota Bandung. Buka setiap hari dari jam 08.00-23.00 WIB, bahkan ketika hari raya. Jamnya cocok untuk kita yang kadang tidak punya jam kerja he he.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area parkir

Merawat Coffee and Space bukan sekadar kafe. Lebih dari itu ia ialah ruang kerja, sosial, dan kreatif yang tercermin dari setiap sudut tempatnya. Oke, saya mulai dari lokasinya yang strategis, mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun umum. Tempat parkirnya cukup luas yang dapat menampung sekitar 5 mobil dan lebih dari 10 motor. Buat kamu yang bawa motor, ada tempat penitipan helm juga, loh.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area toko dan konter pemesanan

Begitu masuk ke Merawat Coffee and Space, saya sudah disambut oleh aura kreatifnya. Bagian depan terdiri dari toko baju dan aksesoris, serta tempat pemesanan makanan maupun minuman. Mengesankan ketika melihat sebuah piano di sudut ruang dan dinding yang dihiasi lukisan maupun mural. Ada sebuah kaca besar juga untuk kita melihat apakah kaos yang kita beli cocok atau tidak. Konon, cermin besar itu juga merupakan spot favorit untuk berfoto.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area kafe

Memasuki bagian dalam, terdapat ruang besar yang meski ada sedikit sekat-sekat tetap terasa luas. Yang paling saya suka adalah ketinggian ruangnya. Jarak antara atap dan lantai yang cukup tinggi, membuat saya merasa lebih bisa bernapas. Bagian dalam terbagi menjadi dua: semi indoor dan outdoor. Pemisahan ruang yang bisa dan tidak merokok juga membuat nyaman. Kursi yang disediakan berupa kursi kayu dan sofa.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area kafe dan photo booth

Aura kreatif Merawat Coffee and Space semakin awur-awuran di sini. Setiap dinding dihiasi mural dan lukisan dengan komposisi yang pas. Tidak membuat pening karena terlalu penuh. Saya paling suka mural di bagian outdoor yang berwarna biru. Ada lukisan kover buku Kafka di sana. Saya bukan penggemar Kafka tapi saya sangat menyukai gambar kovernya.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area kafe terbuka

Hal lain yang saya sukai adalah perhatian Merawat Coffee and Space terhadap kebutuhan pengunjung yang beragam. Jika kamu seorang muslim, tersedia mushola yang nyaman di bagian samping bangunan. Di depannya, terdapat area pemanggangan biji kopi yang bisa dilihat secara langsung.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area toilet dan wastafel

Bagian toilet dan wastafelnya sungguh semarak. Dinding wastafelnya bergambar kepala kucing, lucu sekali. Toiletnya bersih, tentu saja, dan saya tidak menyangka ada satu rak yang berisi pembalut! Iya, kamu tidak salah baca. Dan itu gratis. Saya sampai terharu loh, melihatnya sebab sebagai Perempuan, saya merasa diperhatikan.


work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Fasilitas untuk anak-anak

 

Menariknya lagi, tempat ini juga ramah keluarga. Ada kursi bayi untuk pengunjung yang membawa anak kecil, serta peralatan menggambar dan mewarnai yang bisa digunakan anak-anak. Bahkan hasil karya mereka dipajang di mading dekat konter pemesanan. Detail kecil seperti ini membuat saya merasa bahwa tempat ini memang dipikirkan untuk semua kalangan.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area mushola dan pemanggangan kopi

Saya pikir, Merawat Coffee and Space ini benar-benar nyaman untuk bekerja. Meskipun letaknya di pinggir jalan, tidak berisik. Ketika saya melihat ke sekeliling, banyak orang seperti saya sedang bekerja sendirian. Namun, tak jarang juga ada group meeting. Suasana terasa hidup sekaligus teratur.

 

Merawat Coffee and Space, Merawat Manusia

Pernahkah kamu berpikir ketika bekerja rasanya juga ingin dirawat? Maksudnya, saya ingin bekerja dengan fokus agar memunculkan ide-ide kreatif. Namun, seringkali ketika bekerja di rumah, saya juga mesti menyediakan waktu untuk menyiapkan makanan, minuman, membersihkan ini-itu, dan sebagainya. Ya, namanya pekerjaan rumah memang tidak ada habisnya.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Saya sedang bekerja

Di sisi lain, saya juga ingin berinteraksi dengan manusia tentu dengan vibes yang positif dan menyenangkan. Berinteraksi di sini secara nyata bukan lewat internet.

 

Saya baru menyadari bahwa rasa nyaman itu ternyata lahir dari hal-hal sederhana. Senyum Pak Budi di area parkir, sapaan hangat dari pelayan, hingga suasana yang tertib tanpa terasa kaku. Semuanya membuat saya merasa dirawat sejak pertama datang hingga pulang. Mungkin itulah alasan mengapa nama Merawat Coffee and Space terasa begitu tepat.

 

Cara Merawat Coffee and Space ‘merawat manusia’ terbilang dalam. Perhatian mereka terhadap manusia ternyata tidak berhenti pada pelayanan sehari-hari. Ada satu cerita yang menurut saya sangat menggambarkan filosofi "merawat" yang mereka bangun. Bahkan ketika hari raya Idulfitri pun buka. Mereka menyajikan kue-kue kering dan opor khas lebaran secara gratis demi pengunjung yang tidak bisa pulang ke kampung halaman.

 

Menariknya, banyak pekerja yang bertahan cukup lama di sini. Bagi saya, hal itu menjadi salah satu indikator bahwa Merawat Coffee and Space juga berupaya merawat sumber daya manusianya. Sebab, di tengah kondisi saat ini, membangun lingkungan kerja yang sehat bukanlah hal yang mudah.

 

Komunikasi antara pihak Merawat Coffee and Space dengan konsumen terjalin dengan baik sehingga banyak orang menjadi pelanggan. Termasuk saya. Kamu akan terkesan dengan bagaimana mereka mendengarkan suara konsumen. Setiap masukan dan keluhan ditindaklanjuti. Bahkan mereka tidak segan-segan melibatkan kita untuk pengambilan keputusan apa saja makanan dan minuman yang akan ditulis di menu.

 

Merawat Coffee and Space, Merawat Rasa

Percayalah bahwa setiap minuman dan makanan yang disajikan di Merawat Coffee and Space rasanya enak atau enak banget. Hal ini disebabkan oleh proses mendengarkan suara kita sebagai konsumen tadi.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Area konter pemesanan dan sirup buatan Merawat Coffee and Space

Memang variasi makanan dan minumannya tidak banyak. Namun, setiap makanan dan minuman memiliki bahan dan rasa yang konsisten. Tidak main-main, Merawat Coffee and Space memproses minuman cold brew dalam jangka waktu dua bulan sampai ke lidah kita.

 

Bicara soal variasi, jangan khawatir jika kamu bukan penggemar kopi. Masih banyak pilihan minuman lain. Namun, kalau kamu berani mencoba, ada beberapa kopi light yang menurut saya akan cocok di lidah siapa pun. Misalnya Black Sunkist atau Es Kopi Bandung yang didapuk sebagai es kopi paling kalcer di Bandung. Saya sendiri lebih suka kopi yang kuat sehingga untuk kopi susu, saya suka es kopi aren.


work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Es Kopi Aren dan Black Sunkist

 

Rasanya sulit merekomendasikan makanan dan minuman di sana. Namun, saya akan mencoba memintamu merasakan rice bowl katsu mushroom dan pasta carbonara. Untuk camilannya, dimsumnya patut dicoba.

 

work-from-cafe-di-merawat-coffee-and-space
Rice bowl katsu mushroom, dimsum, dan spaghetti carbonara

Rice bowl katsu mushroom berisi nasi pulen, katsu ayam dengan suas jamur yang creamy, dan salad sayuran. Sementara pasta carbonara terdiri dari spageti dengan toping jamur, smoked beef, potongan ayam besar, dan keju parmesan. Keduanya benar-benar memuaskan. Bahkan, pasta carbonara di sini masuk dalam salah satu carbonara terenak yang pernah saya coba di Bandung.

 

Saya juga merasa Merawat Coffee and Space tidak hanya merawat ruang, manusia, dan rasa, tetapi juga merawat kantong para pengunjungnya. Harga makanan dan minumannya terbilang terjangkau untuk berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja lepas, karyawan, hingga keluarga muda.

 

Menurut saya, hal ini penting karena sebuah tempat bekerja yang nyaman seharusnya tidak menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Dengan harga yang bersahabat, kita bisa datang kembali tanpa rasa khawatir dan tetap menikmati suasana yang mendukung produktivitas. Konsep merawat yang diusung tempat ini terasa semakin utuh: merawat ruang untuk beraktivitas, merawat manusia yang datang, merawat rasa yang disajikan, sekaligus merawat kemampuan pengunjung untuk terus kembali.

 

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa bekerja ternyata bukan hanya soal menyelesaikan daftar pekerjaan yang panjang. Ada kalanya kita juga membutuhkan ruang yang membuat kita merasa tenang, fokus, dan terhubung kembali dengan orang-orang di sekitar.

 

Bagi saya, Merawat Coffee and Space berhasil menghadirkan itu melalui ruang yang nyaman, pelayanan yang hangat, komunikasi yang baik, serta makanan dan minuman yang konsisten. Jadi, jika akhir-akhir ini kamu sedang mencari tempat untuk work from café, cobalah datang ke sana. Siapa tahu, yang sedang kamu butuhkan bukan sekadar tempat untuk bekerja, melainkan tempat yang membuatmu merasa dirawat.

#MerawatSpace #MerawatCoffee #CoffeeSpaceBandung #CafeBandungTimur #CafeArcamanik #WFCBandung #TempatWFCBandung

  Work From Café di Merawat Coffee and Space Pernahkah kamu merasa lelah bekerja di rumah? Bukan karena pekerjaannya terlalu banyak, teta...

SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang: Perjalanan untuk Merawat Ingatan Kolektif dan Mempertahankan Identitas

 

Sepatualang-edisi-jalan-jalan-ke-bukittinggi-dan-padang
SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang

Tempat yang paling ingin saya kunjungi dalam kurun waktu tahun 2016-2020, ketika saya menulis novel Babad Kopi Parahyangan adalah Bukittinggi dan Padang. Betapa tidak, hampir seperlima latar belakang novel tersebut berada di sana. Sayangnya, saya tidak berkesempatan ke Bukittinggi dan Padang. Meski begitu, sewaktu kecil, saya pernah mampir ke Padang. Lucunya, ini betul-betul bisa disebut mampir sebab saya hanya bisa diam di parkiran sebuah universitas tempat kakak sepupu saya kuliah.

  SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang Tempat yang paling ingin saya kunjungi dalam kurun waktu tahun 2016-2020, ketika...

SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung: Laut dan Ruang Ingatan


Sepatualang-edisi-jalan-jalan-ke-belitung
SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung


Saya pernah menginjakkan kaki ke Belitung. Namun, tidak seperti Bangka, ingatan saya hanya berkutat pada waktu itu saya sedang bekerja, pemandangan pantai, dan lepas laut. Saya bahkan tidak ingat kapan, tahun berapa, dan tempat apa saja yang saya kunjungi. Entah karena pengalaman itu sudah berlalu lama sekali, saya terlalu sebentar di sana, atau memang tidak ada kesan yang mendalam. Lebih parahnya, saya luput mencatatnya.


Maka saat buku SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung ini ada di tangan, saya sangat bersemangat. Siapa tahu ada secuil ingatan dan kesan yang terbuka di dalam diri saya. Namun, saya mesti kecewa sebab saya benar-benar tidak ingat meski membaca buku ini berulang kali. Di sisi lain, hal ini membuat saya bersemangat sebab saya seperti menyusuri tempat yang benar-benar baru. 

 

Ketika pertama kali membaca seri SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka, saya melihat bagaimana Yunis Kartika menjadikan perjalanan bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, melainkan cara untuk memahami sejarah, masyarakat, dan ruang hidup yang ia kunjungi. Kesan serupa saya temukan kembali dalam SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung, meskipun kali ini dengan nuansa yang sedikit berbeda. Jika perjalanan sering kali identik dengan daftar destinasi yang harus dikunjungi, Yunis justru mengajak pembaca berjalan lebih pelan dan menikmati Belitung melalui pengalaman, percakapan, kenangan, dan lanskap yang ia temui sepanjang perjalanan.

 

Keterangan Buku

Judul              : SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung

Penulis            : Yunis Kartika

Penerbit         : Stiletto Book

Tebal               : 113 halaman

Proofreader   : Tim Stiletto Book

Tata letak isi  : Tim Stiletto Book

Desain kover  : Tim Stiletto Book

Cetakan          : 1, Agustus 2024

ISBN               : 978-623-409-435-0

E-ISBN           : 978-623-409-436-7 (PDF)

Blurb

Balitong atau Belitong demikian penduduk setempat menyebutnya. Pulau kecil penghasil timah ini kini dikenal dengan sebutan Negeri Laskar Pelangi berkat tetralogi novel Laskar Pelangi beserta filmnya yang menggambarkan keindahan panorama alam Pulau Belitung dan budaya penduduk setempat.

 

Geliat pariwisata meningkat serta memengaruhi kehidupan dan perekonomian penduduknya yang multietnis. Belitung pun dipercaya sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi G20 tahun 2022 lalu.

 

Pada edisi kedua seri jalan-jalan Sepatualang ini, Olwen featuring 3Some Travelers mengajak Anda untuk menikmati pulau yang kaya sejarah dan hasil bumi. Menikmati pantai-pantainya yang indah, airnya yang biru jernih, berpasir putih, dengan gugusan batu-batu granitnya yang memesona dan ombaknya yang jinak. Hopping islands atau berkeliling pulau-pulau kecil dengan perahu merupakan kegiatan yang tak boleh dilewatkan. Bukan hanya layak, Belitung begitu istimewa untuk Anda kunjungi.


 

Sepatualang-edisi-jalan-jalan-ke-belitung
SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung

Belitung: Laut dan Ruang Ingatan

Buku setebal 113 halaman yang diterbitkan Stiletto Book ini berisi catatan perjalanan Yunis menjelajahi berbagai sudut Pulau Belitung. Mulai dari Danau Kaolin, Rumah Adat Belitung, Replika Sekolah Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea Hirata, Pantai Serdang, Pantai Bukit Berahu, Tanjung Kelayang, hingga pengalaman island hopping yang menjadi salah satu daya tarik utama wisata Belitung. Namun, sebagaimana seri Sepatualang lainnya, daya tarik buku ini bukan terletak pada banyaknya destinasi yang dikunjungi, melainkan pada cara penulis memaknai setiap tempat yang ia datangi.

 

Hal pertama yang paling saya rasakan setelah membaca buku ini adalah kehadiran laut yang begitu dominan. Laut tidak hanya muncul sebagai pemandangan atau latar belakang foto-foto perjalanan. Laut hadir sebagai ruang hidup masyarakat Belitung, sebagai sumber penghidupan, sekaligus ruang kontemplasi. Hampir di setiap bagian buku, pembaca akan menemukan hubungan yang erat antara masyarakat dan laut. Dari nelayan penangkap cumi di Pantai Serdang, perkampungan nelayan Tanjung Binga, hingga perjalanan menyusuri pulau-pulau kecil di sekitar Tanjung Kelayang, semuanya memperlihatkan bagaimana laut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Belitung.

 

Meski tema besar di buku ini laut, Yunis tetap konsisten dengan kecenderungan minatnya terhadap tempat bersejarah. Namun, kekuatan lain dari buku ini bukan terletak pada tempat bersejarahnya melainkan kemampuannya menghadirkan nostalgia. Beberapa bagian terasa sangat personal dan hangat. Saat mengunjungi Rumah Adat Belitung, misalnya, Yunis tidak hanya mendeskripsikan bentuk bangunan atau informasi sejarahnya. Derak lantai kayu dan aroma pernis justru membawanya pada ingatan tentang kampung halaman sang nenek. Pengalaman sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi refleksi tentang identitas dan akar kehidupan. Kalimat yang menurut saya sangat mewakili semangat buku ini adalah ketika Yunis menulis:

 

Nyatanya sejauh apa pun melangkah, kita tidak pernah bisa lepas dari tradisi dan akar kehidupan, karena ia adalah bagian dari identitas.

-Hal. 23-

 

Nuansa nostalgia juga terasa kuat ketika Yunis mengunjungi Replika Sekolah Laskar Pelangi. Sebagai pembaca yang pernah mengenal kisah Ikal dan kawan-kawannya melalui novel maupun film, saya dapat memahami mengapa tempat ini menjadi salah satu destinasi yang berkesan. Namun yang menarik, Yunis tidak hanya berbicara tentang Laskar Pelangi sebagai fenomena sastra atau wisata. Ia menghubungkannya dengan pengalaman masa kecil, ruang belajar sederhana, dan kenangan banyak orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang jauh dari kata mewah. Bagian ini membuat pembaca tidak sekadar mengenang sebuah karya populer, tetapi juga merenungkan kembali pengalaman belajar mereka sendiri.

 

Gaya menulis Yunis dalam seri SEPATUALANG juga terasa konsisten dan akrab. Ia tidak berusaha menjadi pemandu wisata yang serba tahu. Sebaliknya, ia hadir sebagai teman perjalanan yang berbagi pengalaman secara jujur. Sesekali muncul humor ringan, komentar spontan, atau percakapan sederhana dengan orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Pak Sugeng, misalnya, membuat perjalanan terasa lebih hidup. Pembaca tidak hanya mengenal tempat-tempat yang dikunjungi, tetapi juga orang-orang yang menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

 

SEPATUALANG Tetap dengan Tiga Sudut Pandang

Seri SEPATUALANG menjadi istimewa sebab menghadirkan tiga sudut pandang yaitu Olwen—sang sepatu—Yunis secara pribadi, dan 3Some Travelers. Sayangnya, sebagai pembaca saya tidak diberi penjelasan apa itu 3Some Travelers. Dan lagi-lagi, Yunis masih terjebak dengan gaya bahasa yang sama. Saya sangat berharap untuk buku ketiga, Yunis telah menemukan karakter setiap sudut pandang sehingga memang menawarkan pandangan yang berbeda bukan sekadar gimik.

 

Catatan-Catatan Kritis

Meski bernapas sebagai buku perjalanan, saya juga mengapresiasi keberanian Yunis menyisipkan catatan-catatan kritis. Dalam beberapa bagian, ia menyinggung persoalan tambang timah yang selama bertahun-tahun membentuk wajah Bangka Belitung. Pada bagian pengantar, ia bahkan secara terbuka menuliskan kegelisahannya terhadap kasus korupsi tata niaga timah yang mencuat ketika proses penyuntingan buku berlangsung.

 

Di bagian lain, ia menyoroti kondisi beberapa destinasi wisata yang memerlukan perawatan lebih baik. Kritik-kritik tersebut memang tidak dibahas panjang lebar, tetapi cukup memberi warna dan menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu harus berisi pujian terhadap tempat yang dikunjungi.

 

Potensi Eksplorasi dan Pola Repetitif

Meskipun demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Menurut saya, beberapa bagian terasa lebih deskriptif dibandingkan reflektif atau naratif. Ada sejumlah destinasi yang sebenarnya memiliki potensi cerita yang menarik, tetapi hanya disajikan dalam bentuk informasi singkat dan pengalaman kunjungan. Pembaca yang menyukai pembahasan sejarah, sosial, atau budaya yang lebih mendalam mungkin akan merasa ada ruang yang masih bisa dieksplorasi lebih jauh.

 

Selain itu, karena sebagian besar destinasi berada di kawasan pesisir, beberapa bab memiliki pola yang mirip. Pembaca akan menemukan deskripsi pantai, pasir putih, batu granit, perahu nelayan, dan panorama laut yang berulang. Untungnya, Yunis berusaha mengimbangi pengulangan tersebut dengan menghadirkan sudut pandang yang berbeda pada setiap lokasi sehingga buku tetap nyaman untuk diikuti hingga halaman terakhir.

 

Sebuah Perjalanan untuk Menemukan yang Terlupakan

Tak ada yang mudah dalam hidup, bahkan untuk menikmati secangkir kopi diperlukan perjalanan panjang.

-Hal. 51-

 

Terlepas dari catatan tersebut, saya menikmati perjalanan yang ditawarkan dalam buku ini. Sepatualang Edisi Jalan-Jalan ke Belitung bukan buku yang membuat saya tergesa-gesa ingin mencentang daftar destinasi wisata. Sebaliknya, buku ini membuat saya ingin duduk lebih lama di tepi pantai, memperhatikan perahu-perahu yang berangkat melaut, atau sekadar menyeruput segelas kopi sambil mendengarkan cerita orang-orang setempat.

 

Pada akhirnya, buku ini menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu tentang seberapa jauh kita pergi. Kadang-kadang perjalanan justru mengingatkan kita pada hal-hal yang selama ini terasa dekat tetapi jarang diperhatikan seperti kenangan masa kecil, akar budaya, hubungan manusia dengan alam, dan rasa syukur atas pertemuan-pertemuan sederhana di sepanjang jalan.

 

Bagi pembaca yang menyukai catatan perjalanan dengan bahasa ringan, personal, dan penuh nuansa nostalgia, SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung adalah buku yang layak menemani sore yang tenang. Sebab seperti laut yang berkali-kali hadir dalam halaman-halamannya, buku ini tidak berusaha membuat pembaca takjub dengan gelombang besar. Ia justru mengajak kita menikmati riak-riak kecil yang perlahan meninggalkan kesan mendalam.

SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung Saya pernah menginjakkan kaki ke Belitung. Namun, tidak seperti Bangka, ingatan saya hanya berku...

SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka: Perjalanan Adalah Tentang Peristiwa dan Cerita Sejarah

 

SEPATUALANG-Edisi-Jalan-Jalan-ke-Bangka
SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka


Buku perjalanan bukanlah salah satu jenis favorit saya. It’s not my cup of tea. Namun, semua itu berubah ketika saya mulai menulis novel Babad Kopi Parahyangan dan kuliah di bidang antropologi. Betapa pentingnya catatan perjalanan sebab pengalaman dan informasi di dalamnya sangat kontekstual. Tentunya, sebuah daerah bisa jadi berkembang atau mengalami kemunduran. Masyarakat dan peradaban di suatu tempat akan mengalami perubahan. Itulah mengapa kini, saya menyukai buku catatan perjalanan. Ini bukan sekadar tentang sejarah, lebih dari itu mencatat tentang cerita manusia dan peristiwa di suatu daerah pada periode dan tempat tertentu.

Adalah Yunis Kartika, seorang penulis multitalenta yang kini konsisten menulis buku tentang perjalanan. SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka merupakan buku pertamanya. Nanti saya akan bahas buku-buku lainnya di publikasi yang terpisah.

 

  SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka Buku perjalanan bukanlah salah satu jenis favorit saya.  It’s not my cup of tea . Namun, semua i...

Tidak Ada Ode bagi Lautan: Siasat Bertahan Hidup Kaum Pelaut yang Termarjinalkan

 

tidak-ada-ode-bagi-lautan-karya-adia-puja
Tidak Ada Ode bagi Lautan karya Adia Puja

Makanan apa yang bisa dimakan gratis di tengah dunia kapitalis dan korup ini? Saya mungkin akan menjawab: tumbuhan pangan liar. Namun, ini pun tergantung wilayah geografisnya dan belum tentu mengenyangkan bagi sebagian orang. Jika pun ada, apakah ada akses ke pangan liar tersebut? Misalnya, di kota, pangan liar yang dianggap gulma itu hanya tumbuh di pinggir jalan atau tanah tidak terurus. Kebanyakan orang tentu tidak mau memakannya.


Makanan apa yang bisa dimakan gratis di tengah dunia kapitalis dan korup ini? Ketika akses untuk bahan makanan di laut dan darat terbatas jika tidak mau dibilang tertutup, kaum marjinal hampir tak punya apa-apa selain “sesuatu” yang berasal dari dirinya sendiri. Barangkali hal itu yang mau disampaikan oleh novel “Tidak Ada Ode bagi Lautan” karya Adia Puja.

 

  Tidak Ada Ode bagi Lautan karya Adia Puja Makanan apa yang bisa dimakan gratis di tengah dunia kapitalis dan korup ini? Saya mungkin aka...