![]() |
| SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka |
Buku perjalanan bukanlah salah satu jenis favorit saya. It’s not my cup of tea. Namun, semua itu berubah ketika saya mulai menulis novel Babad Kopi Parahyangan dan kuliah di bidang antropologi. Betapa pentingnya catatan perjalanan sebab pengalaman dan informasi di dalamnya sangat kontekstual. Tentunya, sebuah daerah bisa jadi berkembang atau mengalami kemunduran. Masyarakat dan peradaban di suatu tempat akan mengalami perubahan. Itulah mengapa kini, saya menyukai buku catatan perjalanan. Ini bukan sekadar tentang sejarah, lebih dari itu mencatat tentang cerita manusia dan peristiwa di suatu daerah pada periode dan tempat tertentu.
Adalah
Yunis Kartika, seorang penulis multitalenta yang kini konsisten menulis buku
tentang perjalanan. SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka merupakan buku pertamanya.
Nanti saya akan bahas buku-buku lainnya di publikasi yang terpisah.
Bangka
memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Sudah dua kali, saya ke sana pada tahun
2010an saat mengikuti kegiatan sastra dan 2018 ketika meliput Asian Para
Games. Saya jadi sangat bersemangat membaca buku ini, siapa tahu penulisnya
membahas tempat-tempat yang pernah saya datangi. Dugaan saya ternyata tidak
salah.
Keterangan
Buku
Judul : SEPATUALANG
Edisi Jalan-Jalan ke Bangka
Penulis : Yunis Kartika
Penerbit : Stiletto Book
Tebal : 173
halaman
Proofreader : Tim Stiletto Book
Tata
letak isi : Tim
Stiletto Book
Desain
kover : Tim Stiletto Book
Cetakan : 1, Februari 2024
ISBN : 978-623-409-358-2
E-ISBN : 978-623-409-359-9
(PDF)
Blurb
Sepatualang
adalah sekumpulan kisah perjalanan sepatu Bernama Olwen dan pemiliknya
featuring 3Some Travelers ke Bangka. Pulau yang terkenal oleh timah dan
lada putihnya, serta menjadi tempat pengasingan para tokoh pergerakan
kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Buku
ini barangkali hanya catatan pengalaman dari rangkaian perjalanan ke beberapa
tempat wisata yang diungkap dengan sangat personal sambil menengok kembali sejarah
Indonesia, dan bukan rujukan referensi yang dilengkapi dengan perkiraan biaya, itinerary,
atau rekomendasi tempat menginap. Bisa jadi tempat tersebut suatu waktu akan
menjadi tidak relevan lagi. Namun untuk itulah keberadaan buku ini,
mendokumentasikan tempat dan kenangan dalam tulisan yang mungkin akan berguna
suatu hari nanti.
Perjalanan
bukan hanya menjejaki waktu dan tempat berbeda, lebih dari itu mengembalikan
semangat kekanakan, kegembiraan, kepolosan, keingintahuan dan spontanitas jiwa
pelakunya.

SEPATUALANG-Edisi-Jalan-Jalan-ke-Bangka
SEPATUALANG
dan Tiga Sudut Pandang yang Berbeda
Suatu
tempat tetaplah tempat. Perjalanan dan petualangan di suatu tempat menjadi
menarik ketika kita menyadari siapa kita, dengan siapa kita melakukan
perjalanan, dan bagaimana kita memaknai peristiwa di tempat tersebut.
Menariknya, pada buku SEPATUALANG ini, Yunis menghadirkan tiga sudut pandang yang berbeda yaitu Olwen, Yunis secara pribadi, dan 3Some Travelers. Olwen merupakan pelaku perjalanan yang sering kita abaikan, yaitu sepatu. Mengapa sepatu? Mengapa tidak ransel, dompet, topi, baju, atau kamu bisa sebut apa saja. Alasan Yunis yang saya kutip dari kata pengantarnya adalah sepatu yang bagus akan membawa kita ke tempat yang bagus. Saya yakin 1000% itu adalah kutipan dari serial Meteor Garden 1 yang diucapkan oleh tokoh bernama Tjing.
Menurut saya, pemilihan sudut pandang sepatu ini sangat tepat. Sepatu merepresentasikan pergerakan atau perpindahan tubuh. Alasan lain juga kita jarang mengganti sepatu saat perjalanan, tidak seperti baju, misalnya. Maka terjawab sudah mengapa judul buku ini SEPATUALANG, yaitu menyatukan dua kata “Sepatu” dan “Petualangan”.
Buku ini didominasi oleh sudut pandang Olwen, sang sepatu. Dari 26 destinasi wisata dalam buku SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka, ada 18 tulisan dengan sudut pandang Olwen, empat sudut pandang Yunis, dan empat sudut pandang 3Some Travelers. Dengan cerdas, Yunis mengganti sudut pandang kepada diri sendiri ketika melibatkan indra pengecap seperti tulisan tentang kopi. Atau ketika suatu tempat dirasa cukup sensitif seperti tempat peribadatan, sudut pandang berganti pada 3Some Travelers yang dirasa lebih netral. Ini membuktikan kepiawaian Yunis dalam membaca fenomena sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
![]() |
| Sepatualang dari sudut pandang Olwen, sang sepatu. |
Sayangnya,
meski memiliki tiga sudut pandang yang unik ini, Yunis terjebak dalam gaya bahasa
yang sama. Yunis tidak memberikan karakter khas dalam setiap sudut pandangnya
sehingga terasa datar. Memang ada usaha untuk meletakkan dasar perbedaan ketiga
sudut pandang tersebut seperti misalnya, Olwen mengira-ngira apa yang dirasakan
Yunis. Namun, usaha ini kurang maksimal terutama antara sudut pandang Yunis dan
3Some Travelers.

Sepatualang dari sudut pandang Yunis
Barangkali
untuk ke depannya, Yunis mesti membuat pengarakteran yang jelas untuk Olwen
atau sepatu-sepatu lainnya. Apakah kekanakan, keibuan, sabar, tidak sabaran,
dan seterusnya. Terutama untuk 3Some Travelers yang saya tahu terdiri dari tiga
orang. Jika sudut pandang orang jamak, bagaimana catatan perjalanan ini
menjadi.

Sepatualang dari sudut pandang 3Some Trevelers
Bangka
sebagai Destinasi Wisata dan Sejarah
Seperti
yang ditulis Yunis dalam kata pengantarnya, buku ini tidak dilengkapi dengan petunjuk
transportasi menuju tempat wisata, perkiraan biaya, itinerary, atau
rekomendasi tempat menginap. SEPATUALANG menawarkan hal lain yaitu peristiwa.
Dalam peristiwa tentu ada pelaku, tempat, dan aktivitas. Peristiwa-peristiwa
itulah yang berusaha dibangun oleh Yunis menjadi cerita dalam buku ini terutama
sudut pandang sejarah.
Bagi
penyuka sejarah seperti saya, buku SEPATUALANG adalah yang teman-teman cari.
Daftar tempat wisata di Bangka yang Yunis bahas didominasi oleh tempat-tempat
bersejarah. Misalnya, Museum Timah Indonesia Pangkalpinang, Pesanggrahan BTW,
Tugu Peringatan Korban Perang Dunia II di Tanjung Kalian, dan bahkan pantai seperti
Pantai Tikus Emas dan Pantai Parai Tenggiri tidak luput dari pembahasan seputar
sejarah dan mitosnya.
Saya
sungguh menyukai bagaimana Yunis menulis cerita sejarah dari sudut pandang pelancong
yang antusias dan serba ingin tahu. Bagaimana Yunis menggali informasi ini dari
sopir, pemandu tur, atau pemilik rumah makan yang kemudian dikombinasikan
dengan data yang didapatkan dari buku atau internet. Tulisan Yunis terasa intim,
mengalir, jujur, dan sederhana. Lebih dari itu semua, tulisan jernih Yunis dalam
memaknai cerita dan peristiwa sejarah yang terkandung dalam tempat wisata di
Bangka membuat saya merenung.
“Sejatinya
ilmu pengetahuan, teknologi, dan keyakinan mendorong manusia untuk lebih welas
asih, bukan malah sebaliknya. Usia bumi yang semakin tua dengan segala
persoalannya tidakkah cukup membuat kita lebih bertafakur? Perang tidak membawa
kebaikan bagi pemenang apalagi yang kalah. Perang bukan hanya berdampak bagi
dua pihak, tapi berdampak bagi seluruh penghuni bumi dan bumi itu sendiri. Suka
atau tidak, kita hanya memiliki satu bumi yang kita tinggali. Jika bumi ini
hancur, pemenang perang pun ikut terkubur.”
Hal.
64
Kelebihan
dari buku SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka memang muatan cerita
sejarahnya. Di sisi lain, ini juga merupakan kelemahannya. Di beberapa tulisan,
Yunis seperti terjebak untuk menyampaikan sejarah hampir persis dalam buku pelajaran
sejarah yang menjejalkan judul besar peristiwa dan tahun tanpa kedalaman.
Setiap
bab dimulai dan diakhiri dengan quotes yang menggambarkan peristiwa yang
ditulis Yunis. Elemen ini mempermanis buku.
“Sejarah
adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal, mereka yang masih
hidup, dan mereka yang belum dilahirkan.” -Edmund Burke-
Hal.
39
“Kalau
orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri, tanah airnya sendiri, gampang jadi
orang asing di antara bangsa sendiri.” -Pramoedya Ananta Toer-
Hal.
47
Selain
itu, pembaca juga disuguhkan oleh foto-foto tempat berwarna hitam putih. Saya
rasa banyak pembaca tentu berharap fotonya berwarna. Namun, bagi saya foto hitam
putih ini lebih dari cukup sebab sudut pandang “sejarah” tadi, membuat buku ini
lebih terasa nostalgik.

Foto hitam putih dalam buku SEPATUALANG
Dari
buku ini juga, saya belajar untuk menghargai kerja-kerja pendokumentasian, baik
seperti Yunis yang menulis catatan perjalanan, para jurnalis, fotografer, dan
siapa pun yang bersusah payah untuk mengabadikan cerita serta peristiwa. Sebab
seperti pun tempat wisata yang ada di Bangka atau di mana saja, bisa hilang dan
berganti.
“….
Seperti foto-foto di Pesanggarahan ini, tanpa nama. Padahal kerja
pendokumentasian sama agungnya dengan perjuangan itu sendiri. Lewat kerja
mereka, kini dokumentasi tersebut ‘berbicara’, menjadi bukti bahwa sejarah ada
dan dibuat.”
Hal.
29




No comments:
Post a Comment