Tidak Ada Ode bagi Lautan: Siasat Bertahan Hidup Kaum Pelaut yang Termarjinalkan

 

tidak-ada-ode-bagi-lautan-karya-adia-puja
Tidak Ada Ode bagi Lautan karya Adia Puja

Makanan apa yang bisa dimakan gratis di tengah dunia kapitalis dan korup ini? Saya mungkin akan menjawab: tumbuhan pangan liar. Namun, ini pun tergantung wilayah geografisnya dan belum tentu mengenyangkan bagi sebagian orang. Jika pun ada, apakah ada akses ke pangan liar tersebut? Misalnya, di kota, pangan liar yang dianggap gulma itu hanya tumbuh di pinggir jalan atau tanah tidak terurus. Kebanyakan orang tentu tidak mau memakannya.


Makanan apa yang bisa dimakan gratis di tengah dunia kapitalis dan korup ini? Ketika akses untuk bahan makanan di laut dan darat terbatas jika tidak mau dibilang tertutup, kaum marjinal hampir tak punya apa-apa selain “sesuatu” yang berasal dari dirinya sendiri. Barangkali hal itu yang mau disampaikan oleh novel “Tidak Ada Ode bagi Lautan” karya Adia Puja.

 

Keterangan Novel

Judul                  : Tak Ada Ode bagi Lautan

Penulis              : Adia Puja

Penerbit            : Langgam Pustaka

Tebal                  : 209 halaman

Penyunting       : Dea Silvia Rahman

Tata letak isi    : Azis Fahrul Roji

Desain kover   : Rido Gilang Pratama

ISBN                    : 978-623-8521-48-7

Blurb

Segala yang terjadi di Karanggaling hari ini berakar pada kepedulian yang minim dari Pemerintah Republik. Mereka terlalu sibuk memperkaya golongannya dan menelurkan sejumlah kebijakan tolol yang menguntungkan orang-orang dalam lingkaran oligarki. Lobi-lobi politik busuk dilakukan demi memuaskan hasrat haus kekuasaan mereka. Korupsi merajalela. Saat mereka makan-makan enak dan mahal, mereka tidak sadar, di belahan lainnya, masih di dalam negeri ini, di salah satu sudut di Selat Uru, ada manusia-manusia yang memakan tahi. Ada manusia-manusia yang terpinggirkan, yang keberadaannya tak lebih dari sekumpulan kerikil yang tidak diperhitungkan.


tidak-ada-ode-bagi-lautan-karya-adia-puja
Tidak Ada Ode bagi Lautan karya Adia Puja

 

Mereka yang Kehilangan Akses terhadap Lautan dan Hutan

Membaca novel Tak Ada Ode bagi Lautan yang berkisah tentang penduduk Karanggaling, mengingatkan saya pada para pengelana laut Kepulauan Pasifik atau Oseania. Para pengembara yang pada akhirnya menempati pulau-pulau kecil atau tetap memilih mengarungi samudera. Sebagian dari mereka mestinya adalah nenek moyang kita.

 

Saya sering bertanya-tanya, apakah saat ini masih ada kaum pengelana laut tersebut? Apakah tradisi dan ilmu melaut mereka masih diturunkan kendati telah menetap di daratan? Tidak, novel “Tak Ada Ode bagi Lautan” tidak menjawab pertanyaan saya secara utuh. Namun, novel ini memberi saya pesan yang lebih dalam, bahwa nenek moyangku yang seorang pelaut dan tetap memilih melaut telah tercerabut dari lautan. Sebuah kisah tentang mereka yang kehilangan akses ke lautan sekaligus tidak diterima di daratan. Mereka, para penghuni karang.

 

“Pada dasarnya, pengembara lautan adalah manusia-manusia bebas yan tidak terikat oleh apa pun. Termasuk urusan kewarganegaraan. Mereka memiliki hukum adat sendiri yang dipatuhi dan terjaga selama berabad lamanya.”

-Hal. 62-

 

Kisah bermula dari seorang wartawan yang ditugasi oleh redaktur media tempatnya bekerja untuk meliput Kampung Karanggaling yang konon memakan tahi. Kampung nelayan tersebut sangat tersembunyi sehingga tidak terlacak oleh teknologi, bahkan penduduk di sekitar kampung tersebut tak yakin kampung itu masih ada. Singkat cerita, setelah melewati berbagai rintangan dan medan yang luar biasa berat, wartawan tersebut sampai di Kampung Karanggaling.

 

Wartawan itu bertemu dengan tetua kampung yaitu Lanteman yang menceritakan tentang asal-muasal mengapa penduduk memakan tahi. Seperti yang saya ceritakan di awal, bahwa penduduk kampung dulunya adalah kaum pengelana lautan. Sebagian dari mereka memilih menetap di kampung yang tersembunyi di balik batu karang.

 

Kampung Karanggaling telah ada sebelum Republik terbentuk. Para penghuni kampung yang merupakan pengembara lautan bertahan hidup dengan menangkap ikan. Sumber kehidupan mereka mulai terancam ketika jalur perdagangan dibuka. Pelan-pelan, Kompeni memonopoli lautan di jalur dagang dengan mangambil kekayaan maritimnya. Kompeni yang menggunakan kapal-kapan besar menyingkirkan para pengembara lautan, dan jumlah ikan tangkapan mereka makin menyurut.

 

Para pengembara yang lelah, akhirnya membuat kampung di Selat Uru, yaitu Karanggaling. Mereka menangkap ikan dari selat. Perlahan, kampung menjadi hidup terlebih banyak kapal merapat untuk membeli ikan kepada mereka. Namun, nasib baik tidak bertahan lama. Ketika Pemerintah Kolonial runtuh dan berganti menjadi Republik, di situlah nasib sial mereka kembali dimulai.

 

Pemerintah Republik tidak hanya merenggut akses penduduk Kampung Karanggaling terhadap lautan, juga pada hutan. Di lautan, mereka tersingkir oleh kapal-kapal besar. Sementara di hutan, mereka diusir oleh para polisi Perusahaan. Ironisnya, baik di laut maupun hutan, penduduk kampung selalu menjadi tokoh antagonisnya. Mereka dikambinghitamkan sebagai perusak alam, menjadi tameng bagi perusahaan-perusahaan.

 

Adalah Lanteman yang mengemukakan sebuah ide yang awalnya tidak masuk akal: memakan tahi. Sebab makan tahi tidak melanggar undang-undang, paling banter melanggar hukum sosial. Namun hukum sosial milik siapa? Jadilah akhirnya penduduk Kampung Karanggaling menjadi pemakan tahi.

 

Kritik Sosial yang Kompleks dalam Gaya Bahasa Sederhana

Premis novel Tak Ada Ode bagi Lautan ini sangat menarik. Pun, ketika saya membacanya, ada banyak kritik sosial yang dijalin. Apa yang terjadi pada penduduk Kampung Karanggaling adalah sebuah studi kasus bagaimana kemiskinan terstruktur dibentuk. Pembaca disuguhi proses pemisahan antara para pengembara lautan ini sebagai produsen dari sumber daya kehidupannya, entah atas nama kekuasaan atau pembangunan ekonomi kerakyatan.

 

Sebagai pembaca, kita diajak untuk melihat pola pengambilalihan sumber daya ini dilakukan oleh kolaborasi pihak penguasa (seringkali negara), korporasi, dan militer kepada mereka yang lemah. Pola yang awalnya dijalankan oleh Kompeni dan diadopsi oleh Pemerintah Republik. Mereka yang termarjinalkan terus dipertahankan posisinya agar tidak naik ke permukaan. Salah satu keuntungannya, kaum marjinal ini akan mudah dikambinghitamkan dan tidak bisa membela diri.

 

Kondisi ini diperkeruh dengan peran media massa (atau mainstream) yang tak terlepas dari kapitalisme. Media, apa pun jenisnya pastilah berpihak dan memiliki kepentingan. Tentu banyak pembaca yang paham bahwa media acap kali membentuk framing, mengemas informasi yang menonjolkan aspek tertentu untuk membentuk pandangan masyarakat. Katakanlah dalam novel ini, ada perdebatan antara si wartawan dengan redakturnya tentang bagaimana cerita kampung nelayan disuguhkan kepada pembaca. Bagaimana kemudian Keputusan-keputusan mereka menyampaikan informasi justru paling berdampak pada penduduk Karanggaling. Novel ini menjewantahkan pemikiran Foucault tentang hubungan kekuasaan, pengetahuan, dan wacana.

 

Saya menyukai gagasan penulis novel ini sebab tidak jatuh pada romantisasi “kaum terpinggirkan”. Sebab di tengah tekanan kapitalisme selalu ada jalan perlawanan atau bisa saya sebut sebagai strategi bertahan hidup. Yaitu, tahi! Di dunia modern, tahi telah dikomodifikasi. Katakanlah, kotoran hewan pun dijual untuk kebutuhan perkebunan atau perladangan, tak terkecuali kebun rumahan. Di banyak tempat, orang mau berak saja mesti membayar. Namun, menariknya, tahi manusia dalam novel ini dimakan lagi oleh manusia. Memakan tahi manusia merupakan strategi bertahan hidup penduduk Kampung Karanggaling yang ajaib. Setidak-tidaknya dalam dunia nyata, manusia belum memakan tahinya sendiri.

 

Sebegitu kompleksnya isu sosial yang diusung dalam novel Tak Ada Ode bagi Lautan, yang barangkali tidak dapat saya jabarkan satu per satu dalam tulisan ini. Namun, Adia Puja menuliskannya dengan gaya bahasa sederhana yang mudah dipahami pembaca. Kesederhanaan ini tidak menghilangkan ketajaman dan kejelian penulisnya dalam merekam realitas sosial. Logika ceritanya cukup rapi dan karakter tokohnya cukup hidup, terutama Lanteman dan wartawan. Saya dapat menangkap emosi, grasak-grusuk, dan betapa hijaunya tokoh wartawan. Atau Lanteman yang bijaksana.

 

Bonus bagi saya yang suka memasak, menu-menu tahi dalam novel ini cukup meyakinkan sebagai masakan yang lezat. Saya menduga-duga apakah Adia Puja sebagai penulisnya yang juga seorang wartawan seringkali meliput kuliner?

 

Dunia yang Maskulin dan Orasi

Meski saya menyukai novel Tak Ada Ode bagi Lautan, sebagai pembaca, saya memiliki keresahan. Novel ini memang menarik. Namun, dunia yang diciptakan oleh Adia Puja terasa maskulin. Tak ada suara perempuan di situ. Tokoh Puspa sebagai satu-satunya tokoh perempuan yang menonjol di dalam novel hampir tidak berperan apa-apa. Tokoh ini hanyalah pendengar, sesekali pengingat. Tokoh yang terasa sebagai “tempelan” dari pada tidak ada sama sekali, dan jika dihilangkan juga tidak mengubah plot cerita.

 

Selain itu, memasuki bab-bab akhir, penulis sering kali berorasi. Sebagai pembaca, kerap kali saya merasa diceramahi. Bagi saya, hal itu mengurangi kenikmatan membaca.

 

Menutup tulisan ini, terlepas dari keresahan saya, novel ini tetaplah sebuah fiksi kuat yang mampu memotret isu sosial dengan baik. Sebuah fiksi yang memberi harapan bahwa semarjinal apa pun, sebuah kaum memiliki siasat bertahan hidup.

 

“Tahi itu gratis, Nak. Kami tidak perlu bersinggungan dengan dunia luar untuk mendapatkan tahi. Pemerintah Republik tidak bisa memperkarakan hanya karena kami makan tahi. Toh kami tidak mencuri tahi-tahi itu, bukan?”

-Hal. 83-

Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

Selamat datang di dunia Evi Sri Rezeki, kembarannya Eva Sri Rahayu *\^^/* Dunia saya enggak jauh-jauh dari berimajinasi. Impian saya mewujudkan imajinasi itu menjadi sebuah karya. Kalau bisa menginspirasi seseorang dan lebih jauhnya mengubah peradaban ^_^

No comments:

Post a Comment