![]() |
| SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung |
Saya pernah menginjakkan kaki ke Belitung. Namun, tidak seperti Bangka, ingatan saya hanya berkutat pada waktu itu saya sedang bekerja, pemandangan pantai, dan lepas laut. Saya bahkan tidak ingat kapan, tahun berapa, dan tempat apa saja yang saya kunjungi. Entah karena pengalaman itu sudah berlalu lama sekali, saya terlalu sebentar di sana, atau memang tidak ada kesan yang mendalam dan saya luput mencatatnya.
Maka saat buku SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung ini ada di tangan, saya sangat bersemangat. Siapa tahu ada secuil ingatan dan kesan yang terbuka di dalam diri saya. Namun, saya mesti kecewa sebab saya benar-benar tidak ingat meski membaca buku ini berulang kali. Di sisi lain, hal ini membuat saya bersemangat sebab saya seperti menyusuri tempat yang benar-benar baru.
Ketika
pertama kali membaca seri SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Bangka, saya melihat
bagaimana Yunis Kartika menjadikan perjalanan bukan sekadar aktivitas berpindah
tempat, melainkan cara untuk memahami sejarah, masyarakat, dan ruang hidup yang
ia kunjungi. Kesan serupa saya temukan kembali dalam SEPATUALANG Edisi
Jalan-Jalan ke Belitung, meskipun kali ini dengan nuansa yang sedikit berbeda.
Jika perjalanan sering kali identik dengan daftar destinasi yang harus
dikunjungi, Yunis justru mengajak pembaca berjalan lebih pelan dan menikmati
Belitung melalui pengalaman, percakapan, kenangan, dan lanskap yang ia temui
sepanjang perjalanan.
Keterangan
Buku
Judul : SEPATUALANG
Edisi Jalan-Jalan ke Belitung
Penulis : Yunis Kartika
Penerbit : Stiletto Book
Tebal : 113
halaman
Proofreader : Tim Stiletto Book
Tata
letak isi : Tim
Stiletto Book
Desain
kover : Tim Stiletto Book
Cetakan : 1, Agustus 2024
ISBN : 978-623-409-435-0
E-ISBN : 978-623-409-436-7
(PDF)
Blurb
Balitong
atau Belitong demikian penduduk setempat menyebutnya. Pulau kecil penghasil
timah ini kini dikenal dengan sebutan Negeri Laskar Pelangi berkat tetralogi
novel Laskar Pelangi beserta filmnya yang menggambarkan keindahan panorama alam
Pulau Belitung dan budaya penduduk setempat.
Geliat
pariwisata meningkat serta memengaruhi kehidupan dan perekonomian penduduknya
yang multietnis. Belitung pun dipercaya sebagai salah satu lokasi pelaksanaan
Konferensi Tingkat Tinggi G20 tahun 2022 lalu.
Pada
edisi kedua seri jalan-jalan Sepatualang ini, Olwen featuring 3Some
Travelers mengajak Anda untuk menikmati pulau yang kaya sejarah dan hasil
bumi. Menikmati pantai-pantainya yang indah, airnya yang biru jernih, berpasir
putih, dengan gugusan batu-batu granitnya yang memesona dan ombaknya yang
jinak. Hopping islands atau berkeliling pulau-pulau kecil dengan perahu
merupakan kegiatan yang tak boleh dilewatkan. Bukan hanya layak, Belitung
begitu istimewa untuk Anda kunjungi.
.png)
SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung
Belitung:
Laut dan Ruang Ingatan
Buku
setebal 113 halaman yang diterbitkan Stiletto Book ini berisi catatan
perjalanan Yunis menjelajahi berbagai sudut Pulau Belitung. Mulai dari Danau
Kaolin, Rumah Adat Belitung, Replika Sekolah Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea
Hirata, Pantai Serdang, Pantai Bukit Berahu, Tanjung Kelayang, hingga
pengalaman island hopping yang menjadi salah satu daya tarik utama
wisata Belitung. Namun, sebagaimana seri Sepatualang lainnya, daya tarik buku
ini bukan terletak pada banyaknya destinasi yang dikunjungi, melainkan pada
cara penulis memaknai setiap tempat yang ia datangi.
Hal
pertama yang paling saya rasakan setelah membaca buku ini adalah kehadiran laut
yang begitu dominan. Laut tidak hanya muncul sebagai pemandangan atau latar
belakang foto-foto perjalanan. Laut hadir sebagai ruang hidup masyarakat
Belitung, sebagai sumber penghidupan, sekaligus ruang kontemplasi. Hampir di
setiap bagian buku, pembaca akan menemukan hubungan yang erat antara masyarakat
dan laut. Dari nelayan penangkap cumi di Pantai Serdang, perkampungan nelayan
Tanjung Binga, hingga perjalanan menyusuri pulau-pulau kecil di sekitar Tanjung
Kelayang, semuanya memperlihatkan bagaimana laut menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat Belitung.
Meski
tema besar di buku ini laut, Yunis tetap konsisten dengan kecenderungan minatnya
terhadap tempat bersejarah. Namun, kekuatan lain dari buku ini bukan terletak
pada tempat bersejarahnya melainkan kemampuannya menghadirkan nostalgia.
Beberapa bagian terasa sangat personal dan hangat. Saat mengunjungi Rumah Adat
Belitung, misalnya, Yunis tidak hanya mendeskripsikan bentuk bangunan atau
informasi sejarahnya. Derak lantai kayu dan aroma pernis justru membawanya pada
ingatan tentang kampung halaman sang nenek. Pengalaman sederhana tersebut
kemudian berkembang menjadi refleksi tentang identitas dan akar kehidupan.
Kalimat yang menurut saya sangat mewakili semangat buku ini adalah ketika Yunis
menulis:
Nyatanya sejauh apa pun melangkah, kita tidak pernah bisa lepas dari tradisi dan akar kehidupan, karena ia adalah bagian dari identitas.
-Hal. 23-
Nuansa
nostalgia juga terasa kuat ketika Yunis mengunjungi Replika Sekolah Laskar
Pelangi. Sebagai pembaca yang pernah mengenal kisah Ikal dan kawan-kawannya
melalui novel maupun film, saya dapat memahami mengapa tempat ini menjadi salah
satu destinasi yang berkesan. Namun yang menarik, Yunis tidak hanya berbicara
tentang Laskar Pelangi sebagai fenomena sastra atau wisata. Ia menghubungkannya
dengan pengalaman masa kecil, ruang belajar sederhana, dan kenangan banyak
orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang jauh dari kata
mewah. Bagian ini membuat pembaca tidak sekadar mengenang sebuah karya populer,
tetapi juga merenungkan kembali pengalaman belajar mereka sendiri.
Gaya
menulis Yunis dalam seri SEPATUALANG juga terasa konsisten dan akrab. Ia tidak
berusaha menjadi pemandu wisata yang serba tahu. Sebaliknya, ia hadir sebagai
teman perjalanan yang berbagi pengalaman secara jujur. Sesekali muncul humor
ringan, komentar spontan, atau percakapan sederhana dengan orang-orang yang ditemuinya
selama perjalanan. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Pak Sugeng, misalnya, membuat
perjalanan terasa lebih hidup. Pembaca tidak hanya mengenal tempat-tempat yang
dikunjungi, tetapi juga orang-orang yang menjadi bagian dari pengalaman
tersebut.
SEPATUALANG
Tetap dengan Tiga Sudut Pandang
Seri
SEPATUALANG menjadi istimewa sebab menghadirkan tiga sudut pandang yaitu Olwen—sang
sepatu—Yunis secara pribadi, dan 3Some Travelers. Sayangnya juga, sebagai
pembaca saya tidak diberi penjelasan ap aitu 3Some Travelers. Dan lagi-lagi,
Yunis masih terjebak dengan gaya bahasa yang sama. Saya sangat berharap untuk
buku ketiga, Yunis telah menemukan karakter setiap sudut pandang sehingga
memang menawarkan pandangan yang berbeda bukan sekadar gimik.
Catatan-Catatan
Kritis
Meski
bernapas sebagai buku perjalanan, saya juga mengapresiasi keberanian Yunis
menyisipkan catatan-catatan kritis. Dalam beberapa bagian, ia menyinggung
persoalan tambang timah yang selama bertahun-tahun membentuk wajah Bangka
Belitung. Pada bagian pengantar, ia bahkan secara terbuka menuliskan
kegelisahannya terhadap kasus korupsi tata niaga timah yang mencuat ketika
proses penyuntingan buku berlangsung.
Di
bagian lain, ia menyoroti kondisi beberapa destinasi wisata yang memerlukan
perawatan lebih baik. Kritik-kritik tersebut memang tidak dibahas panjang
lebar, tetapi cukup memberi warna dan menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu
harus berisi pujian terhadap tempat yang dikunjungi.
Potensi
Eksplorasi dan Pola Repetitif
Meskipun
demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Menurut saya, beberapa bagian terasa
lebih deskriptif dibandingkan reflektif. Ada sejumlah destinasi yang sebenarnya
memiliki potensi cerita yang menarik, tetapi hanya disajikan dalam bentuk
informasi singkat dan pengalaman kunjungan. Pembaca yang menyukai pembahasan
sejarah, sosial, atau budaya yang lebih mendalam mungkin akan merasa ada ruang
yang masih bisa dieksplorasi lebih jauh.
Selain
itu, karena sebagian besar destinasi berada di kawasan pesisir, beberapa bab
memiliki pola yang mirip. Pembaca akan menemukan deskripsi pantai, pasir putih,
batu granit, perahu nelayan, dan panorama laut yang berulang. Untungnya, Yunis
berusaha mengimbangi pengulangan tersebut dengan menghadirkan sudut pandang
yang berbeda pada setiap lokasi sehingga buku tetap nyaman untuk diikuti hingga
halaman terakhir.
Sebuah
Perjalanan untuk Menemukan yang Terlupakan
Tak ada yang mudah dalam hidup, bahkan untuk menikmati secangkir kopi diperlukan perjalanan panjang.
-Hal. 51-
Terlepas
dari catatan tersebut, saya menikmati perjalanan yang ditawarkan dalam buku
ini. Sepatualang Edisi Jalan-Jalan ke Belitung bukan buku yang membuat saya
tergesa-gesa ingin mencentang daftar destinasi wisata. Sebaliknya, buku ini
membuat saya ingin duduk lebih lama di tepi pantai, memperhatikan perahu-perahu
yang berangkat melaut, atau sekadar menyeruput segelas kopi sambil mendengarkan
cerita orang-orang setempat.
Pada
akhirnya, buku ini menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu tentang seberapa
jauh kita pergi. Kadang-kadang perjalanan justru mengingatkan kita pada hal-hal
yang selama ini terasa dekat tetapi jarang diperhatikan seperti kenangan masa
kecil, akar budaya, hubungan manusia dengan alam, dan rasa syukur atas
pertemuan-pertemuan sederhana di sepanjang jalan.
Bagi
pembaca yang menyukai catatan perjalanan dengan bahasa ringan, personal, dan
penuh nuansa nostalgia, SEPATUALANG Edisi Jalan-Jalan ke Belitung adalah buku
yang layak menemani sore yang tenang. Sebab seperti laut yang berkali-kali
hadir dalam halaman-halamannya, buku ini tidak berusaha membuat pembaca takjub
dengan gelombang besar. Ia justru mengajak kita menikmati riak-riak kecil yang
perlahan meninggalkan kesan mendalam.



No comments:
Post a Comment