Wednesday, December 30, 2015

Catatan Akhir Tahun 2015: Merayakan Kesadaran


 
Catatan Akhir Tahun 2015: Merayakan Kesadaran
Catatan Akhir Tahun 2015: Merayakan Kesadaran

Time is what we want most. But what we use worst –William Penn—

Ini bukanlah tulisan bernas yang membawamu pada pencerahan, hanya sekadar catatan akhir tahun dari sepenggal kehidupan saya pada tahun 2015. Catatan akhir tahun 2015 tentang tahun baru yang bagi saya tak pernah baru. Tahun demi tahun saya lalui dengan jumlah hari yang sama, jumlah jam yang sama setiap harinya, jumlah menit yang sama setiap jamnya, jumlah detik yang sama setiap menitnya. Yang berubah hanyalah selembar kalender bergambar artis terkenal tak lagi menempel di dinding berganti almanak digital. Waktu tak lantas mengalami pembaharuan dengan mengganti angka lima menjadi enam. Baru bagi bagi saya memiliki tolok ukur, baik bersifat kebendaan maupun metafisik. Dan waktu hanyalah instrumen yang saya pinjam untuk menakar perubahan.

Tulisan ini bukan juga kaleidoskop saya tahun 2015. Bukan rangkuman serangkaian peristiwa yang saya tuliskan dengan tekun di buku agenda. Tulisan ini sekadar renungan acak dari manusia yang merayakan kesadarannya.

***

Ritual saya setiap penghujung bulan Desember adalah evaluasi diri diiringi daftar panjang target baru. Seperti tahun kemarin, barangkali saya membuat resolusi awal tahun 2014 dan mencoretinya satu per satu sebagai tanda pencapaian. Sebagai proses yang menuai hasil. Keasyikan itu tak lagi saya temui akhir tahun ini. Seperti saya tak lagi menanti-nanti langit dihujani kembang api. Karena setiap tahun ada saja target yang tidak kesampaian. Saya bertanya-tanya, kenapa bisa begitu?

William Penn, pendiri negara bagian Pennsylvania, pernah berkata “Waktu adalah apa yang paling kita inginkan. Tapi kita menggunakannya dengan buruk.” Bicara mengenai waktu, ada satu penyakit kronis yang saya idap. Menunda-nunda. Dalam hal apa pun. Mau mandi, saya tunda. Mau menulis, saya tunda. Termasuk keputusan-keputusan besar dalam hidup, saya tunda. Hal-hal kecil menjadi besar dan hal-hal besar semakin besar.

Sedikit demi sedikit saya mengubah perilaku menunda-nunda dari hal-hal kecil seperti mencuci piring selesai makan, membereskan tempat tidur ketika bangun, atau membuang sampah sebelum menumpuk. Hal-hal kecil itu memberikan perubahan signifikan dalam diri saya. Benak saya menjerit, kapan saya membenahi hal-hal besar, toh masalahnya sama, menunda-nunda.

Tahun 2015 merupakan salah satu tahun yang terasa panjang dalam hidup saya. Waktu, punya kaidah sendiri. Relativitas. Dia akan menjadi cepat ketika kita menikmatinya, terasa lambat ketika membencinya. Agaknya lika-liku hidup membawa saya pada tepian kekosongan. Kehampaan. Dan sebuah pertanyaan klasik, untuk apa saya melakukan semua ini? Nilai-nilai luntur terbentur dinding berpupur.

Ada kalanya apa yang pernah saya putuskan dalam hidup menjadi bayangan mengerikan. Bayangan yang tak lelah membuntuti. Apakah kamu pernah mendapati diri telah jauh berbeda hingga kamu tak lagi mengenalinya? Asing sendiri.

Mimpi buruk itu datang berulangkali setiap saya sendirian. Terbaring menatapi langit-langit kamar, tertidur, terjaga untuk kemudian memaksakan memejamkan mata. Saat-saat itu saya dikerangkeng sunyi. Tak ada tempat berlari selain menghadapi diri sendiri. Saya menunda-nunda untuk berhadap-hadapan, melakukan penyangkalan, mencari ribuan pembenaran. Hampir gila. Ibarat sakit, dokter tak bisa memberikan pasien obat jika tak menganalisa.

Saya ingin kembali waras. Saya berhenti menunda, mengenyahkan seluruh kemalasan. Seperti yang saya takutkan, saya akhirnya tahu dari mana mimpi buruk itu bermula menjelma monster-monster yang menyeret saya ke persimpangan. Ah, klasik memang. Manusia mana yang tak terhindar dari pilihan. Menimbang-nimbang. Menelisik, membandingkan, dan pada akhirnya berkubang ketakutan. Lagi-lagi saya menunda-nunda mengambil keputusan.

Jiwa dan raga sejatinya tumbuh berdampingan. Namun tak bisa disangkal, raga kita menua, jiwa kita kadang keluar lintasan. Yang saya maksud adalah tingat kedewasaan. Saya teringat kalimat bijak: tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Semesta menyiksa dengan kejam barang siapa yang menolak dewasa. Ya, ada bagian kekanakan yang mesti dipertahankan, dan kamu pun pasti mengerti bagian mana yang harus dibuang. Sepanjang tahun 2015, jiwa saya lebam-lebam menerima hantaman. Saya sadar, saatnya menetapkan langkah, bersiap mempertanggungjawabkan. Karena orang dewasa di belahan dunia mana pun terpaksa memikul beban demi terlahirnya kebijakan.

Cukup lama sampai saya menjumpai secercah sinar, segenggam harapan. Menyibak kecemasan mengubahnya menjadi kekuatan. Adalah diri sendiri yang bisa memutuskan kebahagiaan. Adalah diri sendiri yang paling mengerti apa yang dirasakan. Kemudian saya menemukan jalan pulang. Kamu tahu dari mana datangnya kekuatan itu? Daya yang tak pernah usang diperbincangkan manusia sepanjang zaman, cinta. Pengertian cinta dalam semesta jiwa saya telah bermetamorfosis.

Sebuah keputusan diikuti konsekuensi. Itulah dampak yang ingin saya tunda. Apalagi keputusan yang saya buat akan mengubah seluruh hidup saya. Tapi sampai kapan saya diam? Menunda-nunda hanya akan melahirkan anak-anak penyesalan. Saya mencoba tegar menjalani. Serangkaian benturan pun terjadi, saya tak gentar. Saya ingin pulang menuju perjalanan. Membakar habis tempat berlindung semu. Mencari rumah sejati yang memberi kedamaian.

Ketika suatu keputusan telah diambil, saya mengimaninya sebagai jalan perubahan. Menuju sesuatu yang jauh lebih baik. Saya percaya, setiap keputusan berefek domino pada setiap sendi hidup. Detik-detik akhir tahun 2015 berdenyut lebih kencang, penanda saya telah berada di rel yang benar. Keajaiban datang berulang-ulang. Doa-doa saya mendapat jawaban. Target saya selama setahun berangsur-angsur terpenuhi. Tuhan pasti telah merencanakan. Saya hanya perlu melangkah, menanggalkan pernak-pernik masa lalu, menyambut rancangan Tuhan yang baru.

***

Seringkali saya mengharapkan menjadi pribadi yang baru dalam satu tatanan waktu. Saya sadar itu berlebihan. Tak perlu menunda-nunda waktu tertentu untuk mengubah keadaan, tak pernah ada waktu yang benar-benar tepat selama kita hanya mencari-cari alasan. Kesabaran bukanlah menunda-nunda.


Tahun ini memberikan saya kesadaran jika saya tidak mencapai sebuah target maka ada yang salah dalam prosesnya. Prosesnya harus dibenahi. Membenahi proses membutuhkan keberanian, keberanian untuk tidak menunda-nunda. Menunda-nunda adalah cara paling bodoh dalam menghabiskan waktu. Melangkahlah dengan hati-hati, mengindahi kata hati, dan lakukan. Tuhan bersama kita yang mencari kebahagiaan hakiki. 

  Catatan Akhir Tahun 2015: Merayakan Kesadaran Time is what we want most. But what we use worst –William Penn— Ini bukanl...

Tuesday, December 29, 2015

Lebih Dinamis Bersama Smartphone OPPO R7S

Lebih dinamis bersama smartphone OPPO R7S
Lebih dinamis bersama smartphone OPPO R7S

Huaaaa … udah bulan Desember lagi teman-teman. Selamat tahun baru, ya ^_^ Eh, belum ya? Hi hi hi. Pada mau ke mana liburan? Jangan lupa ajak-ajak saya ya. Kalau saya lebih senang menghabiskan malam tahun baru di rumah aja. Buka-buka buku diary *yaelah tahun berapa ini masih nulis diary?*. Tiap tahun saya memang membiasakan diri menuliskan evaluasi tahunan kemudian membuat resolusi selama setahun ke depan. By the way, udah check and recheck resolusi tahun 2015 belum? Berapa resolusimu yang tercapai? Kalau saya sendiri cuma tercapai target 75 % aja. Terutama di bidang menulis dan per-blog-an. Hiks.

Waktu cepat banget, ya? Rasanya kok nggak cukup setahun buat merealisasikan keinginan-keinginan saya. Kamu gitu juga nggak, sih? Kalau kamu bisa mencapai target secara sempurna, artinya kamu pintar memanajemen waktu dan energi. Padahal seminggu sama ya, tujuh hari. Sehari 24 jam. Kalau kamu punya masalah sama kayak saya, mungkin ada elemen dalam hidupmu yang mesti diperbaharui. Apa sih elemen itu? Coba renungkan apa yang pertama kamu lihat saat bangun tidur, apa yang terakhir kamu lihat saat berangkat tidur? Yes, smartphone! Setelah dipikir-pikir, saya butuh smartphone yang lebih dinamis untuk membantu saya mencapai target tahunan. Apa ya smartphone teranyar yang bikin pergerakan saya lebih cepat? Sebenarnya saya lagi naksir berat sama smartphone keluaran OPPO yaitu OPPO R7S.

Lebih dinamis bersama smartphone OPPO R7S Huaaaa … udah bulan Desember lagi teman-teman. Selamat tahun baru, ya ^_^ Eh, belum ya? Hi...

Seri Novel Dunia: Beloved Karya Toni Morisson

Seri Novel Dunia: Beloved Karya Toni Morisson
Seri Novel Dunia: Beloved Karya Toni Morisson

Seri novel dunia yang terakhir akan saya uraikan tahun 2015 ini adalah novel Beloved karya Toni Morisson. Novel ini kembali menduduki book wish list saya untuk tahun 2016.

Novel Beloved karya Toni Morisson, tidak bercerita secara kronologis; terdiri dari kilas balik, kenangan, dan mimpi-mimpi buruk. Akibatnya, sulit dipahami jika para pembaca tidak mengalami pembacaan terhadap karya-karya William Faulkner, James Joyce, atau Virginia Woolf.  Novel Beloved mempuyai plot yang kuat di setiap halaman satu ke halaman berikutnya.

Seri Novel Dunia: Beloved Karya Toni Morisson Seri novel dunia yang terakhir akan saya uraikan tahun 2015 ini adalah novel Beloved ...

Monday, December 28, 2015

Seri Novel Dunia: 1984 Karya George Orwell

Seri Novel Dunia: 1984 Karya George Orwell
Seri Novel Dunia: 1984 Karya George Orwell

Sudah lama saya mendengar tentang novel berjudul 1984 karya George Orwell ini. Namun saat itu saya belum tahu siapa penulisnya. Saya bahkan sempat tertukar dengan 1Q84-nya Murakami. Seri novel dunia 1984 karya George Orwell ini tidak masuk ke dalam book wish list saya berhubung saya sudah memilikinya.

Nineteen Eighty-Four, diterbitkan pertama kali pada tahun 1949, sebuah novel karya sastrawan Inggris George Orwell. Novel yang melambungkan namanya di jagat kesusastraan dan sering menjadi kajian-kajian sastra di seluruh dunia.

Seri Novel Dunia: 1984 Karya George Orwell Sudah lama saya mendengar tentang novel berjudul 1984 karya George Orwell ini. Namun saat...

Sunday, December 27, 2015

Seri Novel Dunia: The Sun Also Rises Karya Ernest Hemingway

Seri Novel Dunia: The Sun Also Rises Karya Ernest Hemingway
Seri Novel Dunia: The Sun Also Rises Karya Ernest Hemingway

Seorang teman editor bernama Pak Ang Tek Khun pernah mengatakan pada saya tentang teknik menulis show don’t tell. “Bacalah karya-karya Ernest Hemingway,” katanya, “dia adalah bapak dari teknik show don’t tell.” Saya sering mendengar tentang Ernest Hemingway namun belum pernah membaca karyanya, ketertarikan saya makin kuat terhadap karya Ernest Hemingway setelah mendengar ujaran Pak Ang Tek Khun. Seri novel dunia kali ini akan membahas The Sun Also Rises karya Ernest Hemingway.

Seri Novel Dunia: The Sun Also Rises Karya Ernest Hemingway Seorang teman editor bernama Pak Ang Tek Khun pernah mengatakan pada say...

Saturday, December 26, 2015

Seri Novel Dunia: Sons and Lovers Karya D.H. Lawrence

Seri Novel Dunia: Sons and Lovers Karya D.H. Lawrence
Seri Novel Dunia: Sons and Lovers Karya D.H. Lawrence

Sons and Lovers sebagai seri novel dunia adalah novel yang ditulis oleh D.H. Lawrence yang juga seorang penyair, kritikus, dan penulis naskah asal Inggris.  Sons and Lovers, terbit pertama kali pada tahun 1913 yang membuat sang penulis dikenal dan dikagumi di dunia.  80 bagian dari Novel ini sempat diedit secara serius dan besar-besaran oleh Edward Garnett pada tahun 1913. Sebelum publikasi awal, novel ini sempat diberi judul oleh Lawrence yaitu Paul Morel, sesuai dengan nama tokoh dalam cerita. Tapi diurungkan karena alasan tertentu. Membaca tentang kehidupan Lawrence sangatlah menarik mulai dari awal karir hingga mencapai ketenaran. Karakter Lawrence memperkuat novelnya.

Seri Novel Dunia: Sons and Lovers Karya D.H. Lawrence Sons and Lovers sebagai seri novel dunia adalah novel yang ditulis oleh D.H. ...

Friday, December 25, 2015

Seri Novel Dunia: Native Son Karya Richard Wrigth

Seri Novel Dunia: Native Son Karya Richard Wrigth
Seri Novel Dunia: Native Son Karya Richard Wrigth

Karya yang besar dan abadi biasanya bisa menyuarakan zamannya. Bisa menangkap fenomena dengan akurat dan dituliskan dengan cara yang cerdas. Karya Richard Wright memiliki kelengkapan karisma tersebut. Rasanya tidak salah jika Novite Son karya Ricard Wright menjadi seri novel dunia yang berpengaruh hingga saat ini.

Native Son adalah karya  sastrawan dan penyair kulit hitam Amerika Richard Wright.  Native Son merupakan novel pertama dari Richard Wright, dipublikasikan pada tahun 1940, menjadi salah satu novel paling cepat terjual dalam sejarah sastra Amerika. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk sebagian besar penulis otodidak. Cukup adil untuk mengatakan bahwa novel Native Son mengubah hidup pria berusia 32 tahun dari Mississippi itu selamanya. Dia melanjutkan untuk menulis banyak buku lain, baik fiksi dan nonfiksi.

Seri Novel Dunia: Native Son Karya Richard Wrigth Karya yang besar dan abadi biasanya bisa menyuarakan zamannya. Bisa menangkap feno...

Thursday, December 24, 2015

Seri Novel Dunia: On The Road Karya Jack Kerouac

Seri Novel Dunia: On The Road Karya Jack Kerouac
Seri Novel Dunia: On The Road Karya Jack Kerouac

Seri novel dunia yang saya bahas kali ini adalah novel On the Road karya Jack Kerouac. Dan ya, seperti biasa masuk ke dalam jajaran book wish list saya tahun 2016. Inilah latar belakang terciptanya novel On the Road yang juga telah difilmkan.

Seri Novel Dunia: On The Road Karya Jack Kerouac Seri novel dunia yang saya bahas kali ini adalah novel On the Road karya Jack Kero...

Wednesday, December 23, 2015

Seri Novel Dunia: Invisible Man Karya Ralph Elisson

Seri Novel Dunia: Invisible Man Karya Ralph Elisson
Seri Novel Dunia: Invisible Man Karya Ralph Elisson

Novel Invisible Man karya Ralp Elisson menjadi buku kedua seri novel dunia yang saya bahas sekaligus masuk dalam daftar book wish list saya tahun 2016. Mari mengenal siapa itu Ralp Elisson dan kisah Invisible Man.

Seri Novel Dunia: Invisible Man Karya Ralph Elisson Novel Invisible Man karya Ralp Elisson menjadi buku kedua seri novel dunia yang...

Tuesday, December 22, 2015

Seri Novel Dunia: To The Lighthouse Karya Virginia Woolf

Seri Novel Dunia: To The Lighthouse Karya Virginia Woolf
Seri Novel Dunia: To The Lighthouse Karya Virginia Woolf 
                                                                          
Seorang wanita harus memiliki uang dan ruang dari sendiri jika ia ingin menulis fiksi. –Virginia Woolf—

Akhir tahun 2015 ini saya memutuskan untuk membuat artikel tentang seri novel dunia. Seri artikel ini semacam penyemangat saya untuk terus menelurkan karya-karya berupa novel. Saya mesti belajar banyak pada penulis-penulis novel mendunia. Tentu saja saya punya cita-cita besar membuat karya novel yang diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Sesungguhnya seri novel dunia ini belum saya baca dan menjadi books wish list saya untuk tahun 2016. Saya akan mulai seri novel dunia ini dari buku To the Lighthouse karya Virginia Woolf.

Seri Novel Dunia: To The Lighthouse Karya Virginia Woolf                                                                             ...

Monday, December 21, 2015

Riset Makin Sempurna dengan Hisense Pureshot+

Riset Makin Sempurna dengan Hisense Pureshot+
Riset Makin Sempurna dengan Hisense Pureshot+

Penghujung tahun 2015 ini saya dan Eva punya tawaran pekerjaan yang luar biasa. Masih berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Bedanya kali ini saya mesti ekstra kerja keras buat riset. Sebenarnya kata riset ini nggak asing buat bidang profesi apa pun. Coba sebut deh profesi yang nggak butuh riset dulu? Wirausaha? Jelas butuh riset pasar. Blogger? Ya iya dong mesti riset sebelum nulis. Menulis fiksi pun harus riset. Inti dari riset kita mendapat data! Data yang digabungkan dengan pengalaman empiris itu penting banget buat semua hal yang ujung-ujungnya menjadi panduan langkah.

Riset Makin Sempurna dengan Hisense Pureshot+ Penghujung tahun 2015 ini saya dan Eva punya tawaran pekerjaan yang luar biasa. Masih ...

Friday, December 18, 2015

Blogger Bicara with All New Scoopy eSP dan Diana Rikasari

Blogger Bicara with All New Scoopy eSP dan Diana Rikasari
Talkshow bersama Diana Rikasari

Satu hal yang nggak terpisahkan dari saya adalah motor. Saya dan motor—yang saya kasih nama MuPi alias Motor Evi tapi diimut-imutin jadi mutur Epi—sudah seperti sahabat sejati. Sejak tahun 2009, saya mulai pakai motor matic. Praktis aja gitu ke mana-mana pakai motor, lebih hemat biaya dan waktu. Berhubung MuPi udah cukup tua, dia sering sakit-sakitan. Apanyalah yang mesti ganti, ininyalah yang tiba-tiba mati. Hadeuh banget. Lagi mikir-mikir buat ganti motor matic nih, emm … tapi apa ya?

Talkshow bersama Diana Rikasari Satu hal yang nggak terpisahkan dari saya adalah motor. Saya dan motor—yang saya kasih nama MuPi ali...

Thursday, December 10, 2015

Lenovo A6010: Ponsel Pintar Buat Gamers

Lenovo A6010: Ponsel Pintar Buat Gamers
Lenovo A6010: Ponsel Pintar Buat Gamers

Ada tiga hal yang bisa menghibur saya ketika bete. Baca buku, nonton film, dan main game. Tiga hal tersebut tentunya menggunakan perangkat yang beda: buku, laptop, dan ponsel pintar. Dulu sih saya suka main game di laptop, berhubung zaman udah berubah dan semakin banyak game yang ditawarkan secara online, saya lebih pilih main game di ponsel pintar. Praktis aja gitu bisa main game di mana aja dan kapan aja.

Lenovo A6010: Ponsel Pintar Buat Gamers Ada tiga hal yang bisa menghibur saya ketika bete. Baca buku, nonton film, dan main game. Ti...

Wednesday, December 9, 2015

Steak Maranggi Festival, Festival Istimewa dari Purwakarta

Tarian pembuka Steak Maranggi Festival

Steak Maranggi? Sate Maranggi kali? Begitu reaksi pertama saya mendengar nama Steak Maranggi Festival. Menu steak maranggi ini memang masih asing di telinga. Dari mana asalnya steak maranggi ini? Tentunya dari Purwakarta, daerah asal sate Maranggi. Sekali mendengar tentang Steak Maranggi Festival, saya sudah tahu festival ini pasti istimewa seperti slogan Purwakarta Istimewa.

Tarian pembuka Steak Maranggi Festival Steak Maranggi? Sate Maranggi kali? Begitu reaksi pertama saya mendengar nama Steak Maranggi ...

Tuesday, December 8, 2015

Online Revolution di Lazada.co.id Bikin Acara Belanjamu Makin Seru!

Online Revolution di Lazada.co.id Bikin Acara Belanjamu Makin Seru!
Online Revolution di Lazada.co.id Bikin Acara Belanjamu Makin Seru!

Nggak kerasa tahun 2015 udah sampai penghujung. Saya selalu suka bulan Desember, kenapa coba? Ada bulan-bulan tertentu setiap tahun yang bikin kita happy buat belanja. Seperti momen hari raya dan tahun baru. Diskon gede-gedean memanjakan kita yang hobi beli ini-itu. Nah, biasanya diskon akhir tahun ada di mana-mana.

Online Revolution di Lazada.co.id Bikin Acara Belanjamu Makin Seru! Nggak kerasa tahun 2015 udah sampai penghujung. Saya selalu suka...

Monday, December 7, 2015

[Review + Giveaway] Novel Remedy: Perihal Rahasia

Novel Remedy


Judul: Remedy
Penulis: Biondy Alfian
Penerbit: Ice Cube – Imprint KPG
Tebal: 208 Halaman
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
ISBN: 978-979-91-0818-0

Blurb:

“Lo yang nemuin dompet gue, kan?” tanya Navin.

“Ya,” jawabku.

“Berarti lo sudah–“

“Melihat kedua KTP-mu?” tanyaku. “Sudah.”

Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.

Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompet Navin di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berusia 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis penyendiri itu punya rahasia yang lebih besar darinya.

Novel Remedy Judul: Remedy Penulis: Biondy Alfian Penerbit: Ice Cube – Imprint KPG Tebal: 208 Halaman Penyunting: Katrine ...