Wednesday, May 27, 2015

Malam Renungan AIDS Nusantara

Malam renungan AIDS nusantara
Malam renungan AIDS nusantara

Saya datang terlambat, sangat terlambat. Pandangan mata saya tertumpu pada beragam manusia berderet di pinggir lapangan, sebelah tangan mereka memegang lilin. Musik syahdu, cahaya temaram, wajah-wajah sendu, udara malam menguar muram di taman Centrum, Bandung.

Saya datang terlambat, sangat terlambat. Acara sudah mulai sejak pukul tiga sore. 100 quilt bertuliskan nama korban AIDS karya tangan keluarga dan sahabat telah terbentang di lantai taman. Choir PSM Maranatha menggetarkan lapangan, membawa kita terbang ke dimensi yang berbeda. Satu persatu tangkai bunga diletakkan di atas quilt sebagai bukti solidaritas. Berlama-lama mereka berdiri di hadapan quilt seolah mengunjungi pusara, tempat peristirahatan terakhir.


Malam Renungan AIDS Nusantara
Photo Booth/ selfie spot

Saya datang terlambat, sangat terlambat. Orang-orang berdempetan, saling menghangatkan. Bukan tubuh, melainkan jiwa-jiwa yang merindu, yang kehilangan sosok-sosok keluarga tercinta. Malam itu, ratusan manusia rela meluangkan waktu untuk merenung, mereka sebut ‘AIDS Candlelight Memorial Night’. Adalah komunitas Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bernama Rumah Cemara menggagas Malam Renungan AIDS Nusantara yang diperingati setiap bulan Mei. Bersama para keluarga dan masyarakat yang datang dari berbagai wilayah nusantara untuk mengenang orang-orang yang telah meninggalkan dunia akibat penyakit AIDS.

Saya terlambat, sangat terlambat. Sebelum malam ini, nama Rumah Cemara pernah mampir ke telinga namun saya tak tahu apa-apa. Lalu saya mulai membaca sepak terjangnya. Tahun 2003, Rumah Cemara lahir karena impian membentuk Indonesia tanpa diskriminasi terhadap orang dengan HIV/ AIDS dan orang-orang yang menggunakan narkoba. Rumah Cemara berjuang untuk mengurangi dampak buruk dari kecanduan narkoba, menyediakan perawatan, memberi dukungan secara psikologis maupun sosial, dan memberikan pengobatan untuk orang dengan HIV / AIDS. Dan yang paling mengagumkan, Rumah Cemara melibatkan masyarakat umum dalam kegiatannya untuk mengurangi diskriminasi mereka terhadap orang dengan HIV dan kecanduan narkoba. Bersama lebih baik daripada sendirian.

Membaca kata ‘diskriminasi’ mengingatkan pada penyakit yang saya derita: TB usus. Mendengar kata TB, beberapa orang langsung mengasumsikannya sebagai biang penyakit. Suatu hari, saya pernah mengunjungi seorang teman yang terkena TB otak. Saya juga mendapat informasi bahwa teman yang lain sakit TB paru. Teman saya yang terkena TB paru itu berkata, “Yang berat itu bukan melawan penyakitnya atau menjalani pengobatannya. Yang berat itu adalah pengucilan dari masyarakat sekitar.” Itu baru TB yang obatnya telah ditemukan dan ada jaminan sembuh, apalagi jika divonis mengidap AIDS. Tanpa sadar, diskriminasi dan pengucilan telah mendorong pengidap penyakit semakin sakit.

Saya datang terlambat, sangat terlambat. Di penghujung perhelatan, saya baru sampai. Kaki saya terpaku di tangga paling atas menyaksikan ratusan manusia berpegangan tangan. Suara merdu Manik Laluna memanggil Ginan Koesmayadi, salah satu founder Rumah Cemara. Lelaki nyentrik itu maju ke depan, memimpin kami melafalkan doa.

“Tuhan, berikanlah kami kedamaian, untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kami ubah, keberanian untuk mengubah apa yang dapat kami ubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.”

Malam Renungan AIDS Nusantara
Quilt karya keluarga dan sahabat

Saya datang terlambat, sangat terlambat. Selesai mengucap doa, musik sendu melatari mereka yang saling berpelukan. Entah kenal, entah tidak. Mereka telah dipersatukan oleh persamaan nasib dan rasa cinta. Lagi-lagi saya dikhianati tubuh sendiri. Saya hanya diam meresapi haru dan disesaki rasa malu. Saya datang dengan tangan hampa, tak ada setangkai bunga, tak ada pula sebatang lilin. Ketika akhirnya mereka menepi, saya beranikan diri menelusuri barisan quilt. Mata saya menjejaki nama-nama yang tertera pada quilt. Angin dingin berembus di tengkuk saya seolah terompet kesadaran baru saja bertiup. Berapa banyak lagi manusia tinggal nama akibat penyakit AIDS? Saya memang datang terlambat, sangat terlambat. Namun saya belum terlambat untuk mulai peduli pada para penderita HIV/ AIDS atau setidaknya tidak mendiskriminasikan mereka. Mungkin dengan uluran tangan kita, angka kematian dapat ditekan.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

12 comments:

  1. Salut ya Vi, buat mereka yang sudah terkena vonis HIV atau AIDS tapi tetap semangat dan optimis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya salut. Salut juga buat keluarga dan lingkungan yang dukung mereka ^^

      Delete
  2. Semoga semakin hari semakin sedikit yang terserang HIV/AIDS
    Terima kasih artikelnya
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
  3. dan diskriminasi adalah pembunuh yang seringkali lebih kejam dari penyakit itu sendiri...semoga kita bisa lebih baik dalam mengaddress isu ini ke depannya..

    ReplyDelete
  4. Memang lebih berat melawan pandangan orang lain Mbak dibanding melawan penyakitnya itu sendiri.

    ReplyDelete
  5. Terharu saya bacanya. Jangan hakimi mereka. Mari kita merangkul bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbak. Ayo rangkul mereka :)

      Delete
  6. iya stigma negatif harus ditanggung penderita padahal belum tentu mereka penyebab mereka sakit .Perlu banyak edukasi pada masarakat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga perjuangan mengedukasi tersebut berbuah manis :)

      Delete