Situs Astana Gede Bagian 1

Situs Astana Gede Bagian 1
Situs Astana Gede

Pernah dengar tentang sejarah Perang Bubat? Tentang sejarah Putri Dyah Pitaloka Citraresmi? Berangkat dari kepenasaran akan hal tersebut, saya sering berandai-andai untuk menginjakkan kaki ke Situs Astana Gede tempat berdirinya kerajaan Sunda tersebut.

Sebuah perjalanan mengantarkan saya ke Ciamis. Tentu kesempatan itu saya pakai sebaik mungkin untuk mengunjungi Situs Astana Gede. Kebetulan teman yang saya kunjungi di Ciamis yaitu Teh Wida dan Kang Toni memang suka mengunjungi ‘makam’ bersejarah.


Situs Astana Gede Bagian 1
(Ki-Ka) Kang Toni, De Kania, Evi, Teh Wida, De Iqbal

Letak Situs Astana Gede
Rencananya kami, termasuk Kang Ridwan, seorang teman teater di Ciamis, akan ke Situs Astana Gede dari pagi untuk kemudian bertolak ke Panjalu. Namun kesehatan De Kania, anak Teh Wida dan Kang Toni sedang menurun. Jadilah kami memutuskan ke Situs Astana Gede saja. Saya dan Kang Ridwan berangkat duluan. Kami menyusuri jalan desa yang hijau dan rimbun. Dalam waktu kurang dari sejam kami sudah sampai ke depan Situs Astana Gede yang terletak di kaki Gunung Sawal, Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali.

Situs Astana Gede Bagian 1
Parkiran Situs Astana Gede

Situs Astana Gede berdiri di atas tanah seluas 5 hektar. Nggak perlu khawatir dengan parkir kalau kamu ingin mengadakan studi tour dari sekolah karena area parkirnya cukup luas. Kamu hanya perlu membayar tiket sekitar Rp2.000 saja.

Sejarah Penemuan Situs Astana Gede
Menurut sejarah, Situs Astana Gede ditemukan oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Hasil penelitiannya di Pulau Jawa yang menyinggung soal prasasti Kawali dibukukan dalam buku History of Java (1817). Sementara itu penelitian mengenai prasasti Kawali dilakukan juga oleh orang Indonesia, salah satunya oleh Saleh Danasasmita (1984) dan Atja (1990).

Tujuan Mengunjungi Situs Astana Gede
Setelah berkeliling, kami sempat beristirahat di depan lapangan tempat biasanya diadakan acara budaya Nyiar Lumar. Sambil menikmati kacang kapri, Kang Toni bercerita bahwa ada tiga macam tujuan orang-orang mengunjungi Situs Astana Gede. Pertama, untuk meneliti sejarah atau studi sejarah Sunda karena di dalamnya terdapat prasasti dan makam Raja Sunda.

Kedua, untuk ziarah. Dalam Situs Astana Gede juga terdapat makam-makan penyebar agama Islam. Begitulah masuknya Islam ke tanah Sunda dengan cara ‘halus’ salah satu caranya dengan menempatkan makam penyebar agama Islam pada situs kebudayaan.

Ketiga, untuk mencari ilmu kanuragan yaitu ilmu untuk membela diri baik secara fisik maupun spiritual.

Penemuan Sejarah Sunda
Ketika sampai di gerbang Situs Astana Gede, saya dan Kang Ridwan bertemu teman lama Kang Ridwan yang bernama Kang Ade. Kebutulan Kang Ade ini termasuk salah satu pengurus Situs, jadilah saya mendapat guide gratis hehe.

Situs Astana Gede memuat dua area yang sebenarnya lebur hanya bisa dibedakan dalam dua penemuan yaitu penemuan Sejarah Sunda dan peninggalan bercorak Islam. Berdasarkan prasasti bertuliskan aksara Sunda kuno kita dapat mengetahui bahwa ada seorang raja bernama Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana yang memimpin Kerajaan Sunda di Kawali dengan keratonnya yang disebut Surawisesa. Situs Astana Gede ini diperkirakan sebagai Kabuyutan bukan keraton. Kabuyutan di sini (merujuk pada pengertian yang saya baca di Wikipedia) tempat pendeta atau pujangga dahulu kala bekerja, atau tempat kegiatan religius. Di kabuyutanlah orang-orang terpelajar itu menulis naskah, mengajarkan ilmu agama, atau memanjatkan doa. Sedangkan letak keraton Kawali diperkirakan berlokasi tidak jauh dari sana. Sampai tulisan ini di-publish, menurut Kang Ade sedang ada penggalian di lokasi salah satu sekolah di Ciamis yang dianggap sebagai gerbang keraton.

Peninggalan sejarah Sunda di Situs Astana Gede berupa enam buah Prasasti, lokasi tempat Penobatan Raja-raja Kawali, Cikawali tempat sesuci keluarga keraton temasuk Putri Diah Pitaloka, dan Sanghiang Maya Datar.

Tempat Penobatan Raja-raja Kawali
Tempat Penobatan berbentuk batu bersusun dengan menhir di tengah-tengahnya. Di sanalah Raja-raja Kawali dinobatan.

Situs Astana Gede Bagian 1
Tempat penobatan Raja-raja Kawali

Situs Astana Gede Bagian 1
Tempat penobatan Raja-raja Kawali

Sanghiang Maya Datar
Menurut Kang Ade, Sanghiang Maya Datar adalah tempat pertemuan atau berkumpul tempat Raja memberikan petuah pada rakyatnya. Dan penemuan ini dirasa belum sahih.

Situs Astana Gede Bagian 1
Sanghiang Maya Datar
Baca lanjutannya di Situs Astana Gede Bagian 2
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

6 comments:

  1. Harga tiketnya Rp 2000 aja?

    Itu foto yang paling atas, foto tiket masuknya? dengan asesoris jemuran jaket? hihihi

    fasilitas di sana gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu kok teliti banget sih, Va? Hehe

      Iya harga tiketnya 2000 aja. Fasilitasnya ada WC umum, tempat parkir, dan wisatanya :D

      Delete
  2. wah jalan" ke kubruan ya mbak hehe tapia dem juga nih di sini yax??

    ReplyDelete
  3. wahhh menarik juga untuk dikunjungi, ya.. kirain di ciamis dan tasik cuma bisa beli kerajinan tangan di rajapolah aja... *kudet*

    ReplyDelete