Sepenggal Perjalanan Mencari Diri Sendiri Bagian 1


We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next to find ourselves. We travel to open our hearts and eyes and learn more about the world than our newspapers will accommodate.

Awalnya, kita bepergian untuk ‘menghilang’; kemudian kita bepergian untuk menemukan diri kita. Kita bepergian untuk membuka hati dan mata kita serta mempelajari lebih banyak tentang dunia lebih dari yang diberikan oleh surat-surat kabar. --Pico  Iyer


Ada masa-masa dalam hidup saya terasa sulit. Masa-masa saya kehilangan diri sendiri, gairah, kehilangan tujuan mengejar impian, dan puncaknya saya kehilangan cinta. Lentera hidup saya barangkali memang impian. Ketika impian itu tak lagi menjadi matahari, saya hidup dalam malam.

Menjadi tua dan membosankan, itulah yang selama ini saya takutkan. Fase itu kerap menghampiri saat saya hanya bergumul dengan materi. Kebutuhan akan materi mengeroposi sisi kanak-kanak yang mati-matian saya pertahankan. Sisi kanak-kanak buat saya adalah menjadi manusia penuh ingin tahu, ingin mencoba ini itu, berani mengambil risiko, polos, dan tulus. Ternyata ada yang lebih menakutkan dari menjadi tua dan membosankan, kehilangan cinta. Malam bahkan masih memiliki bulan. Sedangkan saya sudah kehilangan keduanya, matahari dan bulan. Jika harus saya ilustrasikan, saya adalah manusia yang terperangkap dalam sumur tanpa dasar. Gelap, sempit, menghimpit. Hati saya berkata, saya harus mengambil keputusan. Berat. Berat sekali. Bahkan bisa mengecewakan banyak orang. Saya takut. Takut sekali.

Tuhan memang baik. Ditengah kesesakan hidup dan cobaan bertubi-tubi, sebuah pesan WA menyelematkan saya. Perempuan muda bernama Landra dari Net TV yang ramah dan manis menawarkan kesempatan menggiurkan, berlibur selama empat hari di Batu Karas, Pangandaran.

“Jadi Acara Morning Show Indonesia itu salah satu segmentasinya ada ‘One Day In …’ yang ngajak teman-teman Blogger sebagai host tamu. Saya sedang mencari Blogger dari Bandung buat dua episode di Pangandaran. Teteh kembar, kan? Nah, Teteh sama kembaran Teteh mau nggak?”

“Landra tahu kami dari mana?” tanya saya.

“Dari Sefiin yang bareng Teteh di Blogger Camp,” jawab Landra.

Sefiin, teman satu tenda saya di Blogger Camp 2015 lalu. Anaknya ceria dan menyenangkan. Silaturahmi katanya mendatangkan rezeki, ternyata perkenalan saya dengan Sefiin berbuah rezeki. Ah, andai anak itu ada di depan mata saya, sudah habis saya peluk dan cium.

Tanpa pikir panjang, saya dan Eva memutuskan menerima tawaran Landra. Itu berarti besok pagi, kami sudah berangkat ke Pangandaran. Malamnya kami packing terburu-buru. Perlengkapan yang kami bawa cukup lengkap membuat tas perjalanan berwarna merah saya gembul. Tas ini tas tenteng, sebenarnya kurang nyaman dibawa ke luar kota. Saya sedang berpikir-pikir untuk punya tas gunung Eiger biar lebih nyaman ketika travelling.

Saya butuh piknik. Saya ingin merasakan momen apa yang disebut Pico Iyer sebagai ‘menghilang’. Menghilang bukan lari. Menghilang adalah momen mengambil jarak, melihat lebih jernih segala sesuatunya.

Keesokan hari, kami sepakat bertemu sekitar pukul sembilan pagi. Tempat janjian kami dan Landra adalah Mc.D Istana Plaza Bandung. Ketika kami sampai, teman-teman lain sedang sarapan. Landra mengenalkan kami pada Oswald dan Erwin, cameraman. Ada juga Kang Kaisar, tour leader kami di Pangandaran, Pak Dadang dan Kang Erik, driver

Kami menaiki dua mobil, Kang Erik bersama Oswald dan Erwin. Peralatan kamera dan segala sesuatunya memang cukup menghabiskan tempat. Sedangkan saya dan Eva bersama Landra dan Pak Dadang di mobil lainnya. Waktu tempuh cukup panjang, dari pukul sebelas siang, kami sampai di penginapan RiverSider, Batu Karas, Pangandaran, hari sudah magrib. Kami memang sempat berhenti untuk santap makan siang di sebuah tempat makan sederhana dengan menu andalan masakan khas Sunda. Biar kecil, tempat makan itu tidak pernah sepi pengunjung.

Selama perjalanan, kami bercakap-cakap ringan, saling mengenal satu sama lain. Ternyata Landra ini masih belia sekali. Saya kagum atas keberaniannya mencoba hal-hal baru tanpa rasa takut. Angan saya melayang pada masa saya seumuran Landra. Umur 22 tahun, saya masih kuliah, saat pertama kali dengan nyali besar saya turun ke dunia bisnis. Tak ada rasa cemas akan ambruk. Energi optimisme melimpah ruah. Biarpun berakhir gagal, tetap merasa gagah. Ah, masa muda, masa pencarian, masa petualangan.

Sedangkan Pak Dadang adalah pemilik rental mobil yang sudah bekerja sama dengan beberapa stasiun tv swasta sebagai penyedia kebutuhan transportasi luar kota.

Magrib di Batu Karas, Pangandaran, terasa sunyi. Jalanan lengang. Sesekali kendaraan bermotor lewat depan penginapan, suaranya berdesing seperti lalat terbang. Penginapan RiverSider terletak di pinggir sungai Cijulang yang ujungnya bermuara ke laut, sekitar 3 Km dari penginapan. Lampu-lampu menyala memantul genit ke permukaan sungai gelap.

Kamar grup perempuan dan laki-laki bersebrangan, berjarak beberapa langkah saja. Model kamarnya seperti rumah panggung. Di bawahnya ada bale-bale menghadap sungai, dan toilet.

Makan malam tiba. Teman-teman yang telah selesai mandi mulai berkumpul di semacam ruang pertemuan untuk briefing acara besok. Karena Kang Kaisar ada keperluan, hadirlah sosok laki-laki kecil mungil berwajah ramah, beliau adalah Kang Yaya. Kang Yaya menceritakan pada kami asal muasal kenapa Goa Sinjang Lawang ini menjadi tempat wisata. Di wilayah Pangandaran ini, masih ada sekitar 150an goa perawan.

Mencari pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat Pangandaran terasa sulit. Kekayaan alam menjadi korban. Bukit-bukit kapur dikeruk, pohon-pohon ditebang demi memenuhi kebutuhan hidup. Prihatin melihat kondisi tersebut, sekelompok masyarakat berinsiatif membuka cagar alam goa menjadi tempat wisata. “Biar masyarakat jadi guide, tour leader, atau life guard saja. Dengan begitu, masyarakat akan meninggalkan pekerjaan mengeruk dan menebang,” ujar Kang Yaya. Gerakan ini rupanya cukup efektif.

Saya sendiri sempat melihat gelondongan kayu-kayu di pinggir jalan menuju penginapan. Sekarang saya paham kenapa begitu banyak pemandangan tersebut terlihat. Kemudian saya ingat novel Ayu Utama yang berjudul Bilangan Fu. Ingat tokoh Parang Jati yang memerangi pengrusakan alam dengan membangun dan memberdayakan SDM sekitar. Kalau tidak salah, setting novel tersebut di Watugunung, dekat Pangandaran. Kalau tidak salah.


Sesaat saya merasa malu. Malu karena selama ini saya masih sibuk dengan diri sendiri. Pencarian diri yang tak berkesudahan mengalihkan saya terhadap fenomena-fenomena dunia sekitar. Di usia yang kata orang sudah matang ini, apa yang sudah saya lakukan demi kemaslahatan manusia? Saya takkan bisa bergerak sampai sana jika saya tak selesai mengenali diri, mengetahui apa yang saya butuhkan.

Keasyikan merenung, hampir saja membuat saya melewatkan penjelasan Kang Yaya tentang teknis cave tubing di Goa Sinjang Lawang. Katanya, di dalam goa ada air yang kedalamannya mencapai 7 meter. Diam-diam, saya dan Eva merinding. Kami ini punya phobia air. 

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Putri
AUTHOR
20 Januari 2016 02.15 delete

Wah saya suka dengan tulisan mbak kadang kta memerlukan waktu unutk menghilang.. salam kenal mba :)

Reply
avatar
Marfa
AUTHOR
20 Januari 2016 02.44 delete

Samapi bingung mau komen apa, antara terlalu banyak kata yang mau dketik malah jadi speechless x) yang pasti setuju banget sama Silaturahmi, bisa dikatakan ini juga bagian dari perjalanan itu sendiri :)

Reply
avatar