Sepenggal Perjalanan Mencari Diri Sendiri Bagian 2

Sepenggal Perjalanan Mencari Diri Sendiri Bagian 2
Ujung Goa Sinjang Lawang


Briefing selesai pukul sembilan malam. Kebetulan saya punya teman di Pangandaran, namanya Hendro, teman lama di teater kampus. Sejak siang saya sudah menghubungi dia untuk datang ke penginapan. Sesuai janjinya, dia datang. Kami bercakap-cakap di depan penginapan sampai larut malam sambil menyantap mie rebus dan teh manis. Percakapan kami seputar kawan-kawan lama, bagaimana kabar mereka sekarang, kegiatan kami masing-masing, dan nostalgia masa kuliah.


Sekali lagi, saya dibawa mengunjungi masa lalu, masa muda yang nakal dan berenergi. Masa-masa itu harus kami lewati sebagai pembekalan hari ini. Saya dan Hendro menghabiskan waktu kuliah lebih lama dari waktu normal. Katakanlah kami keasyikan dengan dunia kami, bukan hanya teater, melainkan unit kegiatan mahasiswa yang menaungi kami melenakan. Siapa yang tak suka mendapat sahabat dan keluarga yang bisa menerima apa adanya? Lalu coba tanyakan pada diri sendiri, menerima apa adanya itu seperti apa? Apakah membiarkanmu tak berkembang? Saya dan Hendro sepakat, ‘rumah’ kami yang dulu itu seperti rahim ibu. Nyaman, aman, dan damai. Kami sama-sama terbuai hingga lupa bahwa dunia begitu luas.  Hingga satu saat, satu per satu di antara kami tersentak, mata kami terbuka, sudah saatnya kami ‘pergi’. Yang namanya berada di rahim, takkan bisa selamanya. Kita harus ‘lahir’, kalau tidak, kita dan ‘ibu’ akan mati. Siapakah yang patut dipersalahkan ketika ‘kematian’ itu terjadi? Tentulah diri kita sendiri.

Kemudian saya berkaca kembali, kadang saya hanya mengalami pengulangan dalam hidup. Memang keadaan tidak sama persis. Kondisi pengeroposan itulah yang serupa. Terkungkung ‘kenyamanan’ maupun ‘kehampaan’ melahirkan bayi-bayi jiwa yang jumud.

Pertemuan dengan Hendro menyadarkan saya akan arti perjalanan ini. Menemukan kembali diri sendiri, membuka mata dan hati saya. Saya belum mau mati dalam kehidupan. Dan apa yang saya definisikan sebagai kemapanan hidup masihlah berupa harapan. Perbincangan dengan Hendro mengalirkan kembali keberanian saya mengambil keputusan untuk bergerak. Bukankah saya pernah berhasil berlari dan terbang? Kali ini pun saya yakin bisa. Ketakutan-ketakutan hanya ada dalam kepala saya. Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Dan semua itu tidak benar-benar terjadi.

Saya harus bisa membuktikan saya bisa melawan ketakutan. Bukan pada siapa-siapa, cukuplah pada diri saya sendiri. Melawan ketakutan pertama adalah menghadapi phobia air. Di Goa Sinjang Lawang dan Citumang, saya bisa menaklukan ketakutan terhadap air, kendati tidak sempurna betul. Bukan hanya Hendro yang menyadarkan saya untuk bersikap berani, alam pun memberi pertanda. 

Masuklah ke dalam Goa Sinjang Lawang, kamu akan dilingkupi kegelapan. Kamu mungkin menggunakan headlamp sebagai alat bantu penglihatan, kamu bisa menikmati keindahan ukiran alam pada atap goa. Namun tentunya kamu tak ingin berdiam diri terus di dalam goa, kan? Kamu tentu merindukan cahaya. Maka berjalanlah terus kamu ke depan. Di ujung goa, telah menunggumu limpahan cahaya. 

Bicara soal pertanda, setiap orang bebas menafsir. Barangkali tafsiranmu dan tafsiranku berbeda. Membaca pertanda adalah membaca diri kita. Maka dengan mantap, saya kembali mengimani keputusan akan suatu pilihan. Dalam hidup, saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Saya tahu pasti orang pertama yang harus saya bahagiakan adalah diri saya sendiri. Saya bukan lilin pun bukan matahari. Saya hanya manusia biasa. Biasa sekali. Ketika saya membaca buku sejarah hidup saya, ada hal-hal yang saya syukuri, ada hal-hal yang saya sesali. Menyesal bagi saya ketika saya diam saja padahal saya sadar sedang terperosok semakin dalam. Saya mesti bangkit, membenahi luka agar tak semakin bernanah.

Piknik memang tidak serta merta menyelesaikan masalah. Namun piknik lahiriah, menikmati pemandangan, bermain-main, dan lain sebagainya itu seringkali dibarengi dengan piknik spiritual. Meresapi dan menghayati. Bertemu orang-orang dan belajar pada mereka. Perjalanan jiwa mengambil jarak agar tidak tersesat. Kepulangan dan perjalanan, dua hal yang niscaya. Serupa pertemuan dan perpisahan. Dan, di sinilah saya hari ini, pulang pada kedalaman jiwa, pulang pada hati kecil saya. 
Previous
Next Post »

5 komentar

Write komentar
tian lustiana
AUTHOR
30 November 2015 15.02 delete

Yess bener piknik ga begitu saja membuat org bahagia. Ga banyak piknik pun kl bahagia sih ya bahagia aja hehe

Reply
avatar
Lusi
AUTHOR
1 Desember 2015 09.20 delete

Perenungannya dalem banget & guanya itu keren.

Reply
avatar
Renal Wijaya
AUTHOR
25 Januari 2016 05.22 delete

Saya setuju dengan segala curahannya :)

Reply
avatar
Mariana
AUTHOR
8 April 2016 00.41 delete

ayoo piknik, ajak akuh :D

Reply
avatar
Agung Rangga
AUTHOR
8 April 2016 06.37 delete

dengan piknik dan jalan-jalan, mungkin juga bisa melepaskan sedikit beban di pikiran dan hati. :)

Reply
avatar