Kiat Menulis Dari Orizuka Bagian 2

Sambungan dari artikel sebelumnya Kiat Menulis Dari Orizuka Bagian 1

Sumber dari peserta Nourabooks


Karakterisasi

Mengembangkan karakter novel remaja agar dekat di hati pembaca adalah dengan :

Membuat karakter yang make-believe. Maksudnya yang membuat pembaca percaya ada karakter seperti itu di dunia. Memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada karakter yang sangat sempurna sampai-sampai pembaca sulit untuk bersimpati.


Beri ‘jiwa’ dengan cara memberi info tentang hal-hal yang dia suka, hobi, kebiasaan unik dan lain-lain. Layaknya manusia sesungguhnya, karakter memiliki hobi, misalnya hobi mengoleksi sesuatu, olah raga atau yang lainnya. Kebiasaan unik bisa saja seperti karakter Lupus yang suka mengunyah permen karet. Sampai sekarang karakter Lupus selalu lekat diingatan setiap kali karakternya bertransformasi menjadi remaja masa kini, bahkan sejak tahun 1986 pertama kali novel tersebut di luncurkan.

Sebaiknya tidak mendeskripsikan seluruh watak dan penampilan karakter di halaman pertama, simpan beberapa detail untuk disisipkan di bab-bab selanjutnya. Tidak perlu terburu-buru mendeskripsikan watak dan penampilan tokoh dalam sebuah novel remaja. Karena ini adalah novel, kamu memiliki ruang yang cukup luas untuk mengenalkan karakter. Ibarat kita mengetahui sifat seorang teman, butuh proses dari hari ke hari, seperti itu juga mengenal suatu tokoh. Berilah proses yang mengalir lembar demi lembar.

Show Vs Tell

Show
Kelebihannya adalah bahasa terdengar luwes, kaya akan deskripsi yang membuat pembaca akan berimajinasi.
Kekurangannya adalah kalau tidak cocok dengan situasi yang diinginkan atau penggunaannya berlebihan, deskripsi bisa jadi cheesy atau lebay. Alur bisa terasa lambat.

Tell
Kelebihannya adalah bahasanya lugas, singkat dan to the point.
Kekurangannya adalah kurang bisa membangun mood yang diinginkan, kurang bisa membangun imajinasi pembaca.

Contoh:
High School Paradise
“Lama amat!” seru Lando ketika Sid datang dengan napas terengah-engah. “Kita udah main dari tadi!”

Nah kalau versi tell-nya begini: Sid datang terlambat.

Kalau versi show yang lebaynya begini: Sid berlari menyusuri rerumputan, kakinya sesekali terantuk batu-batu kecil. Jalan terasa panjang tanpa ujung. Angin kencang yang datang dari arah berlawanan ikut memperlambat langkahnya. Sid berpacu dengan waktu yang terus berjalan. Dia yakin teman-temannya telah menunggu dengan kesal. Waktu terus berlalu membuat Sid makin gelagapan.

So? To show or to tell?

Berjalan beriringan, sesuai dengan adegan atau mood yang diinginkan. Show dan tell saling melengkapi.

Saya sepakat dengan Mba Orizuka. Show dan tell memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk novel remaja, penggunaan show terlalu banyak bisa menyebabkan mereka menutup buku tanpa menyelesaikannya karena terlalu bertele-tele. Penggunaan tell berlebihan membuat pembaca tidak diajak ke dalam isi bukumu. Jadi gunakan show dan tell sesuai dengan kebutuhan sehingga novel kamu tetap menarik untuk dibaca.

Dialog dan Narasi

Dialog membantu untuk menjelaskan watak dan hubungan antar karakter.
Narasi diperlukan untuk membangun mood, misalnya romantis, tegang, lucu dll.

Sering kali kita menemukan dialog atau percakapan antar dua tokoh atau lebih yang tidak diselingi dengan narasi. Bentuknya seperti ini:

“Kamu datang telat lagi!”
“Baru juga berapa menit, kan?”
“Tetap aja terlambat!”
“Cuma bentar juga!”

Tanpa adanya narasi rasanya jadi garing. Tidak terbayang bagaimana ekspresi tokoh-tokoh dalam novelmu. Coba kalau begini:

“Kamu datang telat lagi!” hardik Arya pada Kia, hidung kembang kempis saking kesalnya.
“Baru juga berapa menit, kan?” ucap Kia santai sambil melengos menuju bangku. Kia tidak memedulikan tatapan sangar semua orang dalam ruangan OSIS tersebut.
“Tetap aja terlambat!” sengit Arya kembali. Dilemparkan tatapan setajam pisau dapur ke arah Kia.
“Cuma bentar juga!” balas Kia dengan nada suara meninggi.

Proporsi Dialog dan Narasi

Dialog dan narasi harus saling melengkapi, sesuai dengan adegan dan pesan yang ingin disampaikan penulis. Jangan lupa untuk menyesuaikan dialog dengan karakter dan setting.

Contoh:
Infinitely Yours
Jingga: ceria, ceplas-ceplos, cepat akrab, kekanakan. Hobi main PSP. Kpopper sejati. Menggunakan cologne bayi.
Rayan: kaku, serius, gila bekerja, cinta Indonesia. Jenis cowok yang jaman sekolahnya selalu pake seragam rapi dan memilih untuk pergi les daripada ke mal.

Infinitely Yours
“Om,” kata Jingga lagi, membuat Rayan memejamkan mata untuk beberapa saat sebelum akhirnya menengok dengan enggan. Jingga masih tampak ceria, sama sekali tak terganggu dengan penjelasan Rayan tadi. “Golongan darah Om pasti A deh.”

Rayan mengernyit. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Om orangnya serius, sensitif, terus kayaknya introvert gitu,” jawab Jingga membuat Rayan sedikit menganga.

Setting

Latar cerita
Kunci utama latar cerita adalah riset. Riset bisa dilakukan tanpa beranjak dari tempat dudukmu dengan membuka laman Google, membaca majalah buku travelling, dan blog. Bisa juga dengan nonton film dan drama teater. Atau Interview dengan orang yang pernah datang ke tempat yang kamu jadikan latar cerita. Kalau punya waktu dan biaya, kamu bisa langsung datang tempat aslinya.

Deskripsikanlah latar dengan luwes dan bertahap, sebaiknya tidak mendeskripsikan sebuah bangunan dalam satu paragraf panjang. Deskripsi juga bisa diselipkan sebagai pendapat di dalam dialog.

Contoh:
With You
Lyla tampak memisahkan diri. Ia menghadap laut yang jernih dengan tiga gradasi biru yang mengagumkan, luas membentang di atas hamparan pasir putih bersih. Langit biru dengan beberapa gumpal awan putih pun membuatnya jadi semakin indah. Juna menatap pemandangan yang menyilaukan itu, lalu bangkit dan menghampirinya. Lyla seperti terhipnotis pada apa yang dilihatnya hingga lupa makan siangnya.

“You were right about this place,” Lyla bergumam. “It’s a piece of heaven.”

Bab Pertama

Bab pertama adalah hidup matinya sebuah novel. Maka pada kalimat pembuka, gunakan kalimat yang catchy dan mudah dicerna.

Prolog bisa digunakan untuk membuka cerita. Fungsinya untuk memberikan gambaran awal dari cerita, sehingga pembaca bisa merasa penasaran.

Contoh:
Our Story
“YASMINE!!!”

Seorang anak perempuan bernama Yasmine menengok cepat, napasnya memburu. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, menghalanginya untuk melihat dengan jelas. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat baseball.

Writer’s Block

Apa itu writer’s block? Kondisi di mana penulis tidak bisa menghasilkan karya baru. Sebenarnya kita mungkin hanya malas untuk menulis.
Saya pernah menonton riwayat hidup penulis kesukaan saya yaitu Margaret Mitchell –penulis Gone With The Wind-. Kisahnya sungguh tragis sebagai penulis, bukan karena hidupnya diakhiri dengan sebuah kecelakaan mobil tapi karena sepanjang hidupnya hanya BERANI menelurkan sebuah novel! Kenapa saya menekankah hal tersebut? Yah memang karena Margaret mengalami writer’s block dan tidak mencoba keluar dari situasi itu. Margaret tidak menulis novel kembali karena ketakutan karyanya tidak se-booming Gone With The Wind. Maukah kamu seperti itu? Saya sih, tidak mau!

Bagaimana mengatasinya?
Setiap penulis punya cara sendiri untuk keluar dari writer’s block. Saran Mba Orizuka adalah me-refresh diri kamu dengan melakukan berbagai hobi. Kamu bisa menyelingi nulis dengan bermain game, berkebun atau apa pun yang membuat kamu senang.

Lawan kemalasan dan bangkitkan motivasi dengan cara membaca buku penulis lain. Ini benar-benar mujarab loh! Coba kamu mulai berpikir, kapan ya karyamu dibaca orang lain? Karya kamu juga akan menginspirasi banyak orang!

Jangan tinggalkan naskah terlalu lama. Kalau ditinggal terlalu lama, kamu akan lupa dan kemudian punya lebih banyak alasan untuk menunda kegiatan menulis.

Ini saran saya, sebelum kamu mengalami writer’s block cobalah cari first reader yang sesuai dengan novelmu. Kalau kamu menulis novel remaja, carilah first reader anak SMA atau awal kuliah. Kamu bisa mengirim novelmu bab per bab, mintalah pada mereka untuk menagih karyamu. Secara tidak langsung kamu akan merasa ada orang yang menunggu karyamu. Semangat akan terpacu kembali!

Semoga artikelnya bermanfaat dan memacumu menulis, karena artikel ini tidak akan berguna kalau kamu tidak mulai merangkai kata.

Profil Orizuka

Bernama lengkap Okke Rizka Septani, gadis kelahiran Palembang penyuka pantai ini sangat enjoy dalam menulis cerita-cerita remaja. Orizuka telah menulis lebih dari 20 karya yang diterbitkan oleh berbagai penerbit seperti Me & My Prince Charming, Summer Brezee (diangkat ke layar lebar tahun 2008), Fight for Love, High School paradise, Love United, 17 Years of Love Song, Our Story dan lainnya.

Contact Orizuka!
Facebook Fanpage: Orizuka
Twiiter: @authorizuka
Previous
Next Post »

12 komentar

Write komentar
Jacob
AUTHOR
12 Maret 2013 10.12 delete

numpang nge-RANT!!

terus cuma gini doang?!!

IX.VIII.IX

Reply
avatar
IrmaSenja
AUTHOR
13 Maret 2013 02.33 delete

Keren banget sharenya, kebetulan aku sdg ngebet pengen belajar nulis fiksi/ buku. makasiih ya mba :)

Reply
avatar
13 Maret 2013 03.16 delete

Sama-sama Mba Irma ^^

Reply
avatar
hanifa
AUTHOR
20 Mei 2013 21.21 delete

makasih sharenya yaa :D

Reply
avatar
27 Mei 2013 06.08 delete

Sama-sama Hanifa :)

Reply
avatar
Ika Koentjoro
AUTHOR
30 September 2013 19.32 delete

Musti baca berulang-ulang nih biar nyantol ^^

Reply
avatar
rahman wahid
AUTHOR
1 Januari 2014 03.06 delete

trims secangkir semangatnya!

Reply
avatar
Mary
AUTHOR
5 April 2014 20.39 delete

Terima kasih, infonya bermanfaat sekali ^^

Reply
avatar
2 Maret 2015 08.46 delete

Kenal lebih dekat sama sang penulis yuk. Sapa sih orizuka? Orizuka adalah pengarang novel remaja yang telah menghasilkan 22 karya. Satu di antaranya yaitu Summer Breeze telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2008. cooming soon, novel karyaya yang berjudul "THE CHRONICLES OF AUDY 4R" akan diangkat ke layar lebar juga. penasaran mengenai isi buku dan sang penulis? yuk ikutan di acara BEDAH BUKU POLINES with ORIZUKA | 22 Maret 2015 | @ gedung RSG Polines| 30K | more info 089638569282, 081994925117 | buy 5 tickets get 1 FREE

Reply
avatar