Permintaan

Surat balasan buat Evaliana berjudul Berawal Dari Sebuah Kamar

Halo Va,
Terima kasih atas kucuran doa tak terhingga, semoga doamu mengantarkan kemenangan. Terima kasih atas dukungan semangat yang tak pernah padam yang kau berikan. Kemenangan adalah milik kebersamaan.

Ya Va,
Kota kita sering sekali diguyur hujan dari hari ke hari. Kita sama-sama mencintai hujan, rintiknya adalah musim yang bersemi. Hujan rinyai yang kita nikmati dengan secangkir kopi.

Baiklah Va,
Kau kini mengajakku mengenang. Pertemuan tentang perjalanan waktu yang gamang. Dalam sebuah ruangan, kau bercerita panjang tentang masa lalu yang teramat suram.  Tentang cinta yang menjadi buram. Aku bukan hendak melukaimu dengan kata-kata tajam. Tapi terkadang kita butuh tamparan. Aku hanya ingin kau menyadari bahwa kesalahan besar mungkin terulang.

Kita tahu,
Cinta selalu memiliki dua kepingan. Masa kini dan kenangan. Masa gelap dan terang. Masa senyap dan kencang. Tak ada satupun manusia bisa berlari menghindar. Karena cinta ingin kita berdiri tegar.

Kau tahu,
Sering kali aku merindukan percakapan denganmu hingga ujung malam. Melampiaskan segala kekesalan, berbagi rahasia terdalam. Namun sekarang, aku tak punya lagi cerita petualangan.

Aku menginginkan sebuah petualangan. Menjajaki sebuah perbukitan atau kau ajak aku ke pantai Pangandaran. Melihat ombak lalu lalang. Melihat pohon-pohon bertebaran. Ini adalah permintaan, sebelum aku mati digerogoti kebosanan.

Aku pamit duluan, punggungku sakit tak karuan.

Suatu hari, di ujung siang.
Previous
Next Post »