Mengarungi Samudera Milenial Dengan Sastra


Fungsi sastra adalah untuk melembutkan hati. -Ahmad Tohari-

Mengarungi samudera sastra di era milenial. Ketika tema itu disodorkan pada saya ada dua pertanyaan yang membesit: mengapa samudera sastra? Sastra seolah menjelma lautan lepas tak bertepi. Sedang bagi saya sendiri, sastra menjelma perahu, kendaraan menjelajahi lautan kehidupan dan banjir informasi. Lalu pertanyaan lain adalah apa fungsi sastra di era milenial?

Mengarungi Samudera Milenial Dengan Sastra
Mengarungi Samudera Milenial dengan Sastra 

Sebelum saya mendapat jawaban dari kedua pertanyaan di atas, saya mundur ke belakang. Sastra di Indonesia terbagi menjadi sastra lisan dan tulisan. Kendati sastra tulisan seolah telah mendominasi, sastra lisan tetap merajai. Menurut catatan sejarah, sastra tulisan di Indonesia lahir jauh sebelum kita mengenal nama Nusantara. Babad dan kitab pada masa kerajaan berupa lontar. Sastra tulisan kita disahkan pada 1800an yaitu angkatan Pujangga Lama yang didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Kita mulai mengenal buku. Maju ke sastra koran dan majalah dimulai angkatan 1950an. Loncat lagi pada 2000an terciptanya cyber sastra. Dan pada masa kini, sastra seakan kita temui di mana-mana. Media sosial menjadi perantara kehidupan sastra. Betapa sastra bisa hidup dalam berbagai zaman menggunakan media-media yang tersedia.

Di era milenial yang identik dengan dunia digital, sastra atau lebih tepatnya kata-kata, bahasa, gaya bahasa, tidak lagi terisolasi. Dia melepaskan diri dari jerat kertas yang meloncat di pagi hari, yang menyusup lewat celah pintu, yang menunggu di kelokan terminal atau gang menanti untuk diraih. Kata-kata merasuk dalam genggaman setiap orang. Kata-kata, bahasa, gaya bahasa, cerita, dongeng, dan semua itu menjelma keseharian setiap manusia.

Dunia digital meleburkan sastra adiluhung dan sastra pop yang konon tumbuh pada era 1980an. Dunia digital melumerkan pembacaan dengan membaca. Sebuah contoh, kita bisa saja menaruh quotes Pramoedya Ananta Toer: 
... seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. 
Tanpa mesti tahu diambil dari buku apa, siapa tokoh yang mengatakan, dan dalam konteks apa kalimat tersebut diucapkan. Sastra digital cukup menyuarakan hati seseorang tanpa dibarengi gagasan yang lebih besar. Tapi itu tak mengapa, selama sastra dapat menjaga kewarasan manusia.

Mengapa saya katakan bahwa sastra menjaga kewarasan manusia? Sebab di era digital kita dibanjiri informasi. Informasi-informasi yang didesain seolah mendesak harus kita ketahui saat itu juga. Bahkan kita sering limbung manakah informasi yang benar? Tanpa sadar manusia terjebak pada penyajian informasi yang disajikan media massa atau media sosial. Terjebak pada agenda setting berbentuk framing. Framing bukan sebuah penyajian kebohongan informasi namun pelaku media memilih dan membingkai informasi sesuai cara pandangnya. Di sinilah sastra mesti berfungsi.

Pada 2016 saya menghadiri perhelatan Majelis Sastra Asia Tenggara untuk Novel di Bogor. Malam pembukaan, sejumlah sastrawan Indonesia seperti Pak Ahmad Tohari, Pak Triyanto Triwikromo, Pak Agus R. Sarjono, dan Ibu Abidah El Khalieqy berlaku sebagai pembicara. Tak ketinggalan sastrawan dari Malaysia dan Brunei Darussalam pun turut hadir.  

Menurut pemaparan Pak Ahmad Tohari, pada era pascakemerdekaan Indonesia, sastra memiliki kedudukan yang cukup tinggi. Diberi porsi besar dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Memasuki era Presiden Soeharto, pelajaran sastra dipangkas lebih dari setengah. Ilmu pasti dan ekonomi mengisi kekosongan tersebut.

“Fungsi sastra adalah untuk melembutkan hati. Jadilah generasi yang terbentuk selepas sastra terpinggirkan adalah generasi yang membangun perekonomian bangsa namun kurang peka,” ucap Pak Tohari.

Sastra merupakan bagian dari literasi. Literasi sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dalam mempelajari sastra kita diwajibkan untuk membaca dan menulis. Membaca dan menulis adalah belahan jiwa. Tanpa membaca kita tak bisa menulis, tanpa menulis kita tak sempurna menebarkan ilmu pengetahuan.

Di atas saya katakan bahwa dunia digital melumerkan pembacaan dan membaca. Kita tidak lagi betah membaca tulisan panjang namun merasa cukup tahu dengan uraian sebanyak 300 kata atau video selama 5 menit bahkan beberapa detik. Lalu kita dipaksa mengunyah informasi lain lagi. Ketika kita membaca sastra kita melakukan pembacaan secara menyeluruh. Membaca konteks bukan saja teks.

Tapi saya percaya, generasi milenial, generasi Z, dan generasi ke depannya merupakan generasi yang kritis. Generasi yang akan tertarik pada sastra dimulai dari sebuah quotes. Generasi yang lembut hatinya sehingga menyikapi informasi dengan bijak. Tentunya kita membutuhkan informasi namun tidak membutuhkan kebanjiran informasi.

Era milenial semacam gerbang terbuka bagi siapa saja untuk menjadi penulis. Media sosial mengakomodasi terbentuknya penulis digital. Yang disebut penulis tidak melulu menerbitkan buku, ada banyak tawaran profesi lain seperti content writer, blogger, copywriter, selebtwit, selebgram, dan sebagainya. Betapa orang bisa cepat meraup untung dan ketenaran dari profesi-profesi tersebut. Semua orang berebut viral. Sungguh itu sah-sah saja selama kita berkarya. Di sisi lain efek yang ditimbulkan adalah plagiat. Sejak zaman dulu praktik plagiat memang sudah ada namun kini mudah terdeteksi sebab keluasan akses media. Sederhananya menurut saya, maraknya plagiat disebabkan eksistensi karena kecepatan arus informasi dan media sosial seolah memaksa kita untuk terus berproduksi. Menjadikan kita semacam pabrik atau mesin konten.

Karya yang mencatat zamannya, yang datang dari hati dan jujur telah usang saat kita memilih menjadi pabrik konten. Padahal karya-karya yang berumur panjang adalah karya-karya yang memiliki gagasan, menyuarakan zaman.

Kesempatan yang sama tahun 2016, saya berkata pada Pak Tohari, “Profesi penulis terutama penulis sastra pada masa kini masih dipandang sebelah mata. Orang-orang bertanya, apakah saya bisa hidup dari menulis?”

"Jangan berkecil hati menjadi penulis. Orang pandai itu banyak, yang peka sangat sedikit." Jawaban Pak Ahmad Tohari membuat saya tertegun.

Saya teringat satu adegan di film Dead Poets Society ketika Mr. Keating meminta murid-muridnya menyobek teori bedah puisi. Mr. Keating berkata:

“Sekarang, kalian akan belajar kembali cara berpikir untuk diri kalian sendiri. Kalian akan belajar untuk menikmati kata-kata dan bahasa. Tidak masalah orang-orang menganggapmu apa, kata-kata dan gagasan dapat mengubah dunia. Sepertinya sastra abad ke-19 bukan apa-apa dibandingkan dengan sekolah bisnis atau sekolah kedokteran. Benar? Mungkin. Saya mempunyai sedikit rahasia. ...

“Kita tidak membaca dan menulis puisi sebab hal itu manis. Kita membaca dan menulis puisi sebab kita merupakan anggota dari umat manusia. Dan umat manusia dipenuhi dengan gairah.

“Pengobatan, hukum, bisnis, teknik: itu semua adalah pekerjaan yang mulia dan diperlukan untuk mempertahankan hidup. Tetapi puisi, kecantikan, asmara, cinta... berguna bagi kita untuk tetap hidup. Dikutip dari Whitman:
O me, O life of the questions of these recurring.
Of the endless trains of the faithless.Of cities filled with the foolish.What good amid these, O me, O life?
Jawabannya bahwa kalian di sini. Bahwa kehidupan itu ada dan memiliki ciri khas. Bahwa sebuah kuasa sedang berlangsung, dan mungkin kalian menjadi bagian peran utama.”

Dan begitulah, mengarungi era milenial dengan sastra adalah upaya merayakan kehidupan itu sendiri.

*Tulisan ini saya buat untuk acara Talkshow Pekan Sastra Komhuk UNPAS HMI dengan tema 'Mengarungi Samudera Sastra di Era Milenial' pada tanggal 19 November 2018.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

Selamat datang di dunia Evi Sri Rezeki, kembarannya Eva Sri Rahayu *\^^/* Dunia saya enggak jauh-jauh dari berimajinasi. Impian saya mewujudkan imajinasi itu menjadi sebuah karya. Kalau bisa menginspirasi seseorang dan lebih jauhnya mengubah peradaban ^_^

12 comments:

  1. Sekarang profesi penulis terdeferensiasi ya Teh, tidak hanya yang menerbitkan buku saja

    ReplyDelete
  2. Setuju Teh, suami sudah bilang sejak dulu berkarya itu melembutkan hati 💕 terima kasih sharingnya ya

    ReplyDelete
  3. iya, bener teh.
    salah satu anjuran para sahabat Nabi saat membesarkan anak adalah mengenalkan sastra ke jiwa mereka.

    ReplyDelete
  4. Kok saya jadi inget chanel cybersastra di mIRC awal tahun 2000an dulu. Isinya orang2 yang pintar menulis.

    ReplyDelete
  5. Ah sayang tidak semua orang memahami dan mencintai sastra. Kini, sastra kembali hilang dari bangku sekolah. Tulisan ini adalah penyejuknya

    ReplyDelete
  6. Bener banget, sastra bisa melembutkan hati. Kalau membaca buku-buku sastra saya sering tertegun.

    ReplyDelete
  7. Waah ketemu Pak Ahmad Tohari kereen teh 😍 saya udah baca karya beliau yang Ronggeng Dukuh Paruk. Saya suka saya suka penggambaran latarnya the best!

    ReplyDelete
  8. Duh, banyak jlebnya nih. Iya ya, sekarang sedikit yang suka dengan sastra. Banyaknya nulis karena faktor uang. Tapi, aku gak bisa2 deh belajar sastra. Susaaaah...

    ReplyDelete
  9. Anak sastra itu keren deh pemilihan katanya kadang perlu pemikiran luas agar bisa faham. Kudu banyak baca lagi nih biar suka sasrta. Hiks

    ReplyDelete
  10. Waduh, bahasan yang sulit untuk aku. Krn aku kurang paham ttg sastra. Tapi aku setuju kalau dibilang orang peka itu sedikit hihihi.

    ReplyDelete
  11. Jadi inget dulu nyesel kenapa pas kuliah nggak ambil jurusan sastra. Padahal aku seneng banget sastra. Sekarang belajar dikit-dikit dari buku-buku sastra yang aku baca hehe

    ReplyDelete
  12. Tulisan yg bagus, Vi. Buat negara ini, mau menyimak & mau baca informasi aja udah bagus, Vi :D sastra, levelnya udah beda. Sebab di era serba cepat, baca sastra tuh kayak dibawa pelan banget. Bisa gak generasi muda suka sastra, bisa kalo dijejelin sejak dini. Kalo enggak, ya mau baca caption dgn seksama juga udah bagus :D heuheu

    ReplyDelete