Sunday, June 28, 2015

The Art of Storytelling Part 2

The Art of Storytelling
The Art of Storytelling 

Baca dulu The Art of Storytelling Part 1

Major And Minor Plot Point
The art of storytelling atau seni bercerita ada yang namanya plot mayor dan minor. Dalam cerita, ada titik-titik penting yang menggerakkan aksi. Penataan plot dibagi menjadi titik-titik ini.

Plot pertama adalah suatu ‘kecelakaan’ yang menggerakan peristiwa. Contoh: Novel Gone with the Wind mengawali ceritanya dengan peristiwa pertunangan Ashley, laki-laki yang dicintai Scarlet O’hara dengan perempuan lain.

Plot kedua adalah konflik dan konsekuensinya. Contoh: Scarlet berusaha mengajak Ashley kawin lari, namun ditolak. Patah hati, Scarlet menikah dengan sepupu Ashley. Konsekuensi dari tindakan tersebut adalah Scarlet terjebak dalam kehidupan rumah tangga tanpa cinta.

Plot ketiga mendekat klimaks. Datang konflik selanjutnya. Contoh: Setelah berbagai kejadian, akhirnya Scarlet menikah dengan Reth Buttler. Suatu hari, Scarlet dan Ashley berciuman di pabrik kayu. Ketika itulah mereka menyadari kalau perasaan mereka telah berubah. Peristiwa itu diketahui seseorang dan menyebar.

Plot keempat penyelesaian. Contoh: Scarlet menghadapi isu perselingkuhan dengan tegar. Perasaan telah jelas bahwa dia mencintai Reth.

What’s At Stake?
Karakter yang tak terlupakan pasti memiliki pertaruhan terhadap apa yang ingin dicapai.

Rumusnya: Jika A, maka B. Karena itu, jadikan C.
Contohnya: Harry Potter harus mengalahkan Voldemort demi kedamaian dunia.

The Beginning
Dimulai dengan “inciting incident”.
Segala sesuatu yang menghasilkan “inciting incident” disebut sebagai “backstory”.
Sebelum “inciting incident”, semuanya berada dalam posisi “equilibrium”.
Inciting incident” membuat awal menjadi tidak seimbang.
Lalu di sinilah cerita bergerak.

The Art of Storytelling Part 2
Timeline novel

The Goal
Semua cerita dimulai dengan tokoh utama (protagonis) memiliki SATU target/tujuan jangka panjang dan SATU ATAU LEBIH target/tujuan jangka pendek.

Protagonis menginginkan sesuatu. Target membuat cerita terfokus dan terencana.

Let’s Create the Obstacle
Dengan menciptakan masalah, maka konflik bisa lahir. Tanpa masalah, cerita menjadi datar. Masalah hadir untuk membangun karakter dan melancarkan perjalanan alur cerita.

Protagonist And Antagonist
Protagonis mewakili keinginan untuk mengubah situasi atau status-quo

Antagonis mewakili resistensi untuk perubahan, keinginan untuk tetap atau kembali di posisi sebelumnya.

Antagonis tidak selalu hadir dalam bentuk karakter, tapi bisa berupa paradigma, pandangan umum dalam tema cerita.

Character Types that Build A Story
Protagonis
Antagonis
Cermin
Penjaga
Mentor/Guru
Pendukung Antagonis
Pembawa Kabar

Element In Setting
Lokasi
Tahun
Hari
Jam
Mood dan atmosfer
Cuaca
Alam
Setting buatan manusia
Sejarah
Keadaan sosial/politik/budaya
Populasi
Keturunan/nenek moyang

Setting Is Very Important
Setting bukan cuma berfungsi sebagai backdrop saja. Setting yang bagus menciptakan hubungan interaktif dengan plot dan karakter. Saya ambil contoh novel Gone with the Wind. Scarlet O’hara sangat mencintai perkebunan Tara. Perkebunan itu bukan hanya menjadi tempat bertumbuh. Tara adalah obat penenang dan alasan perjuangan hidup Scarlet.

Tips for Building Suspense
Suspense adalah suplemen agar cerita tidak bosan. Suspense membuat pembaca penasaran!

Kejutkan pembaca!
Antagonis yang kuat
Mimpi buruk menjadi kenyataan
Protagonis takut/fobia terhadap sesuatu. Misalnya fobia batu akik atau ruang sempit.
Tunjukkan bahaya yang nyata
Jangan permudah masalah protagonis
Gunakan situasi eksternal yang di luar kendali protagonis
Hantui protagonis dengan masa lalunya
Ciptakan deadline/waktu
Final twist di akhir cerita

Good Writers break the rules!
...tapi mereka tahu bagaimana melakukannya! Artinya, uraian di atas adalah teori. Penulis tahu caranya menulis tanpa terpatok teori. Kamu bisa eksplorasi dan menciptakan teori sendiri.

Selamat menulis, selamat membangun ceritamu sendiri ^_^


Biografi Clara Ng

Ng lahir di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1973 dengan nama Clara Regina Juana, dan tumbuh besar di Kemayoran. Selama masa kecilnya di Jakarta, Ng telah menunjukkan ketertarikannya pada dunia sastra. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Jakarta, Ng hijrah ke Amerika Serikat untuk belajar di Ohio State University. Setelah lulus pada tahun 1997, ia bekerja di AS selama setahun sebelum kembali ke Indonesia untuk bekerja di sebuah perusahaan perkapalan. Setelah tiga tahun bekerja di sana, Ng berhenti dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis profesional. Novel pertamanya, Tujuh Musim Setahun (2002), menyusul trilogi Indiana Chronicle (2002, 2005). Sejak itu, ia telah merilis beberapa novel, berbagai cerita pendek (termasuk satu antologi), dua puluh satu buku anak-anak, dan beberapa koleksi dongeng.



Ng menulis di waktu luangnya saat berada di rumah. Genre novelnya beragam, mulai dari fiksi dewasa hingga sastra anak. Novel dewasanya seringkali mengisahkan tentang kelompok minoritas. Sedangkan buku-buku anaknya dimaksudkan untuk mengajarkan empati. Karya satra anaknya telah memenangkan tiga Penghargaan Adhikarya dari Asosiasi Penerbit Indonesia, dan kelompok LGBT memuji novelnya yang berjudul Gerhana Kembar (2007).

Sumber biografi: Wikipedia.
Sumber gambar:
http://img.scoop.it/pMZ9yf9hwmBOgm5qWRYN44XXXL4j3HpexhjNOf_P3YmryPKwJ94QGRtDb3Sbc6KY
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

8 comments:

  1. Harus diboomark ini mah ...

    ReplyDelete
  2. Naaa ini jelas banget teorinya. Teori di blog2 lain umumnya cerita ttg proses dia sendiri aja, nggak applicable utk org lain. Kalau yg ini bisa utk segala macam gaya menulis, tinggal ngembangin sesuai kegilaan masing2 heheee

    ReplyDelete
  3. detil banget nih penjelasannya, bisa dijadiin panduan kalau mau bikin cerita
    ternyata panjang juga ya prosesnya

    ReplyDelete
  4. Seru eung. Kudu belajar pisan hal seperti ini. Secara gitu, aku mah bodoh banget nulis fiksi teh. Padahal pengen bisa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak bodoh, Teh. Tinggal latihan aja. Semangat *\^^/*

      Delete