Tuesday, March 21, 2017

Sahabat Baru itu Bernama Jam Dinding



Sumber foto: MatahariMall


Pada suatu pagi selesai hujan yang berangin, Ayah mengetuk pintu rumah saya. Tidak biasanya. Setiap pagi Ayah memang datang ke rumah untuk mengecek persediaan air bagi dua kontrakan di depan rumah saya lalu pergi begitu saja. Sangat jarang Ayah mampir ke rumah atau sekadar duduk melepas lelah. Rupanya Ayah membawakan paket berisi jam dinding yang sudah beberapa hari saya tunggu-tunggu.



Dengan rasa ingin tahu seperti anak-anak, Ayah menunggu saya membuka paket tersebut. Betapa herannya Ayah ketika melihat sebuah jam dinding berangka romawi yang nampak klasik. Ayah kemudian berkata, baik buat saya punya jam dinding mengingat kebiasaan saya yang suka terlambat. Sebelum pulang, Ayah membantu saya memaku dinding rumah yang tebal. Kami sama-sama memandangi jam dinding tersebut dengan rasa puas yang ganjil.



Semenjak kehadiran jam dinding itu, saya jadi sering melihat waktu ke arah tembok ketimbang melirik gawai atau ujung bawah laptop. Ada kenangan masa kecil menyelinap tanpa diundang setiap kali saya melakukannya. Saya termasuk generasi yang dibesarkan dengan kehadiran jam dinding sebagai penunjuk waktu. Teringat ketika setiap malam saya diam-diam membaca buku novel atau komik sampai larut malam atau dini hari. Sesekali Mama memeriksa apakah saya sudah lelap atau masih terjaga. Biasanya saya akan pura-pura tidur. Paginya, saya terbangun oleh jeritan Mama yang mengingatkan saya untuk bersiap pergi ke sekolah. Waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi. Saya akan mengukur waktu salat dan mandi sekitar 15 menit. Seringkali saya gagal karena berlama-lama bermain air di kamar mandi.



Ada tiga perubahan yang saya rasakan dengan kehadiran jam dinding berangka romawi tersebut. Pertama, saya tidak perlu menyentuh gawai sehabis mandi dan harus mencuci tangan untuk mengoleskan pelembab ke wajah. Kedua, jika ada kawan yang bertamu cukup lama dan saya rasa sudah waktunya ia pulang, saya tinggal melirik jam. Salah satu kebiasaan manusia yang cukup unik adalah jika sedang berkumpul dan seseorang melihat ke suatu arah maka orang di sekitarnya akan spontan mengikuti pandangan seseorang itu. Maka ketika saya melirik jam dinding, kawan saya akan melihatnya juga. Dia akan segera sadar bahasa tubuh saya untuk sekadar mengingatkan bahwa sudah waktunya ia undur diri. Ini tidak mungkin dilakukan jika saya melihat gawai atau sudut bawah laptop. Kawan saya mungkin hanya menangkap pesan kalau saya mengecek media sosial saja. Ia juga akan spontan membuka gawainya tanpa mengerti maksud saya yang sebenarnya. Dan perubahan ketiga adalah saya lebih sadar kehadiran waktu. Bonus lainnya, Mama angkat saya yang menyarankan untuk memasang jam dinding tersenyum senang karena keinginan beliau saya gubris.



Meski kehadiran jam dinding itu menimbulkan semacam kegembiraan anak kecil memiliki mainan baru pada diri saya, tak serta merta membuat saya jadi disiplin seperti diucapkan Mama angkat saya. Ya, itu sih kembali ke niat saya untuk berubah.



Harga jam dinding minimalis itu memang tidak seberapa jika saya ingat-ingat. Nilainya melebihi harga nominalnya. Jam dinding itu menjadi sahabat baru saya mengarungi hari. Setiap bunyi yang timbul adalah setiap detik yang saya lewati dalam hidup. Ketiga perubahan di atas saya rasakan semenjak kehadiran jam dinding beberapa hari ini. Entahlah jika jam dinding itu lebih lama menemani saya. Mungkin ia akan sering berteriak-teriak girang atau kesal menyaksikan keseharian saya. Berteriak girang setiap kali saya bergegas dan bersemangat melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dan menjerit kesal setiap saya bermalas-malasan. Semoga saja jam dinding sahabat baru saya itu tidak bosan mengingatkan saya betapa waktu tak pernah menunggu. Tak pernah menyesal. Tak pernah peduli. Kendatipun ia serupa lingkaran yang bergerak dari satu titik dan akan kembali ke titik tersebut.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

2 comments:

  1. iya ya dulu ga perlu cek gawai pasti kita sering melototin jam y mba sekarang mungkin jam juga sedih krn kita uda lama ga memandangnya penuh arti :)

    ReplyDelete
  2. Sy jg mulai jarang lirik gawai utk lihat jam, soalnya udah punya jam dinding yg dibeli dari job review :-)

    ReplyDelete