Poster Film Ada Apa dengan Cinta? Sumber |
Sejak hari pertama trailer film “Ada Apa Dengan Cinta 2?” diluncurkan, saya sebagai mantan
generasi remaja yang tumbuh dengan film AADC bertekad untuk menontonnya di
bioskop. Tekad nonton film Indonesia di bioskop ini bukan perkara sederhana, bagi
saya nonton di bioskop masih tetap sebuah kemewahan. Jika sebagian teman-teman
menganggap bahwa selama ini saya nonton gratisan di bioskop, itu adalah
anggapan salah karena saya membayarnya dengan apresiasi berupa tulisan. Terlepas
dari bagus tidaknya film tersebut menurut saya.
Hari minggu kemarin akhirnya saya
berkesempatan menonton film “Ada Apa Dengan Cinta 2?”, jam 8 malam. Bukan hal yang mengejutkan ketika
saya mendapat tempat duduk paling depan, di pojok pula. Penonton AADC 2 begitu
membludak. Sebagian mungkin menonton atas dasar mengunjungi kenangan, sebagian
lagi memang penasaran. Saya termasuk golongan ketiga yang ingin nostalgia masa
SMA dan penasaran.
Saya tidak punya ekspektasi berlebih pada
film AADC 2 ini karena sudah membaca beberapa review. Saya menjadi penonton
yang kalem, duduk manis menikmati sajian adegan per adegan, sesekali tersenyum
atau misuh-misuh dalam hati. Begitu keluar dari bioskop, kesan yang saya
dapatkan biasa-biasa saja memang. Saya memberi rating 3 dari 5, film yang menghibur. Namun ada yang menggelitik
otak kecil saya mengenai film AADC dan AADC 2 yaitu efek yang ditimbulkan film
terhadap gaya hidup.
Baiklah, mau tak mau saya memperbandingkan
film AADC besutan Rudi Soedjarwo dan film AADC 2 besutan Riri Riza. Dalam
pandangan saya, kecerdasan AADC terletak dari bagaimana film tersebut dapat mempengaruhi
gaya hidup remaja pada masa itu. Akan saya bahas satu per satu.
Puisi
Mari kita sepakati bahwa letak keistimewaan
film Ada Apa Dengan Cinta? adalah memasukkan unsur puisi. Puisi menjadi begitu
hidup dalam film ini pada beberapa adegan sehingga bahkan orang yang tidak suka
puisi pun bisa mengingat bait yang ada dalam film AADC. Puisi-puisi dalam film
AADC 1 ini ditulis oleh Rako Prijanto yang saat itu berperan sebagai asisten
sutradara. Masih ingat dengan puisi ini:
Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus
adalah kata
Angan, debur dan emosi
Bersatu dalam jubah
terpautan
Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu
Maka apa terucap adalah
sabda pendita ratu
Ahh.. diluar itu pasir
diluar itu debu
Hanya angin meniup saja
Lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
Menari cuma kita yg tau
Jiwa ini tandu maka duduk
saja
Maka akan kita bawa
Semua
Karena..
Kita..
Adalah..
SATU
Puisi di atas adalah karya Cinta yang
diikutkan lomba di sekolahnya. Puisi itu kalau saya tidak salah ingat dibacakan
saat adegan genk Cinta menguatkan Alya saat percobaan bunuh diri. Puisi itu
menjadi sakramen penting persahabatan antara Cinta, Alya, Maura, Milly, dan Carmen.
Kulari
ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari
ke pantai kemudian teriakku
Sepi…
sepi dan sendiri aku benci
Ingin
bingar aku mau di pasar
Bosan
aku dengan penat
Enyah
saja engkau pekat
Seperti
berjelaga jika kusendiri
Pecahkan
saja gelasnya biar ramai
Biar
mengaduh sampai gaduh
Ada
malaikat menyulam jaring laba-laba belang ditembok keraton putih
Kenapa
tak goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau
aku harus lari ke hutan belok ke pantai
Puisi di atas adalah karya Rangga yang dikirimkan
Mang Diman, penjaga sekolah yang dekat dengan Rangga. Puisi ini dimusikalisasi
puisi oleh Cinta saat dia kencan dengan Rangga. Sampai saat ini, saya masih
terkesan dengan musikalisasi puisi ini dan kerap kali memutar lagunya.
Perempuan
datang atas nama cinta
Bunda
pergi karena cinta
Digenangi
air racun jingga adalah wajahmu
Seperti
bulan lelap tidur dihatimu
Yang
berdinding kelam dan kedinginan
Ada
apa dengannya
Meninggalkan
hati untuk dicaci
Baru
sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada
apa dengan cinta
Tapi
aku pasti akan kembali
Dalam
satu purnama
Untuk
mempertanyakan kembali cintanya
Bukan
untuknya
Bukan
untuk siapa
Tapi
untukku
Karena
aku ingin kamu
Itu
saja
Puisi ini dibacakan oleh Rangga dalam adegan
perpisahan di bandara dengan Cinta. Adegan yang dramatis, melankolis, dan tak
terlupakan.
Sekali lagi saya katakan bahwa Rudi Soedjarwo
dan Jujur Prananto sebagai penulis skenario begitu cerdasnya mengemas dan
memasukkan unsur puisi sehingga puisi terasa natural dalam setiap adegan. Puisi
menjadi keren. Padahal sebelum ada AADC, puisi menjadi pelajaran yang dipandang
sebelah mata oleh kebanyakan siswa di sekolah, setidaknya itu yang saya alami
dulu.
Hal lain yang membuat puisi menjadi keren
dalam film AADC adalah pemilihan tokoh Cinta. Cinta dan genknya itu diceritakan
sebagai genk populer. Saya sempat berdiskusi dengan Eva mengenai hal ini,
kenapa sih AADC 1 mesti menceritakan genk populer? Kami mendapat jawabannya
kemudian: agar puisi menjadi hal yang populer pula, menjadi hal yang prestisius
di kalangan remaja. Di sisi lain tokoh Rangga bukan anak populer, tapi Rangga
yang ganteng, cool, dan misterius itu
adalah tipe cowok idaman remaja. Kalau tidak anak basket yang kesohor ya yang
misterius kayak Rangga. Genap sudah puisi menjadi hal yang elegan nan menawan.
Efek yang timbul dari film AADC 1 ini berdampak
terhadap gaya hidup menulis puisi di kalangan remaja masa itu. Mau digandrungi
cewek? Nulis puisi! Mau jadi cewek menarik dan cerdas kayak Cinta? Ya, nulis
puisi!
Saat saya SMA, saya termasuk anak yang gemar
menulis puisi bahkan sebelum ada film AADC. Kabiasaan saya menempelkan puisi
curhat di mading hobby group teater
saya mendapat apresiasi lebih setelah film ini booming. Beberapa kali saya dimintai teman menulis puisi untuk
mereka atau akan mereka berikan pada pacarnya. Hal seperti itu menjadi
kenikmatan tersendiri buat saya.
Membaca
Kemampuan menulis puisi tidak bisa
sekonyong-konyongnya hadir, mesti dibarengi dengan kegiatan membaca. Buktinya Rangga
sang pemenang lomba cipta puisi di sekolahnya gemar membaca buku “Aku” karya Sjuman
Djaya. Adegan yang saya ingat adalah ketika Rangga membaca buku ini di semacam
belakang sekolah, bahkan buku ini jarang lepas dari tangan Rangga. Sampai
akhirnya buku ini tanpa sengaja beralih tangan ke Cinta. Penampilan buku ini
mendapat porsi yang pas untuk diingat penonton.
Jangan lupa adegan bertengkar Rangga dan
Cinta di perpustakaan. Scene itu
menggarisbawahi kebiasaan membaca Rangga. Yang paling epik adalah scene Rangga dan Cinta jalan-jalan ke
Kwitang untuk membeli buku. Bagian ini secara lembut mengenalkan kawasan
Kwitang, tempat buku-buku bekas, sekaligus mengesankan berkat adanya adegan
Cinta yang gambek-lari-balik badan-ingin dikejar.
14 belas tahun lalu, film AADC telah
berdampak positif terhadap melesatnya animo membaca dan membeli buku puisi dan
novel di kalangan remaja. Secara tidak langsung, film AADC juga telah jadi
pondasi ramainya produksi novel teenlit
di Indonesia selain pengaruh film Eiffel
I’m In Love (Nasri Cheppy, 2003).
Menulis
Lebih tepatnya menulis diary. Genk Cinta
dalam film “Ada Apa Dengan Cinta?” boleh dibilang unik, mereka bukan genk
populer yang ha-ha-hi-hi doang. Salah satu pengikat di antara mereka adalah
menulis diary secara bergiliran. Memang dasarnya mereka ini anak mading jadi
terasa wajar saja punya kebiasaan ini. Kebiasaan yang tidak keluar dari logika
cerita.
Jika saya menelusuri ingatan, menulis diary
bareng genk ini menjadi hits di sekolah saya. Saya dan teman-teman segenk di
Teater Ah juga punya diary bersama semacam ini. Bukan cuma dengan teman segenk,
dengan sahabat sebangku saya, Icha pun punya diary bersama. Dan ketika
bercakap-cakap dengan teman-teman seumuran saya yang sekolah di tempat lain,
menulis diary bareng ini menjadi agenda wajib genk mereka. Betapa dasyatnya
film AADC menularkan virus menulis, walaupun masih dalam tataran diary. Barangkali
kebiasaan ini menjadi cikal bakal penulis-penulis di era sekarang.
Dari ketiga gaya hidup di atas atau lebih
keren disebut life style, ada satu
benang merah yaitu ketiganya berada di ranah literasi. Literasi bukanlah
sesuatu yang dipandang sebagai sesuatu yang segmented
melainkan menjadi begitu membumi dan memasyarakat.
Ada
Apa Dengan Cinta 2?
Poster film Ada Apa dengan Cinta2? Sumber |
Lantas apakah film “Ada Apa Dengan Cinta 2?”
berhasil memberikan pengaruh gaya hidup terhadap masyarakat di era sekarang?
Saya belum bisa menilai lebih jauh, namun sekilas pandang dan hasil observasi
kecil-kecilan, saya mendapat kesimpulan bahwa AADC 2 juga setidaknya berhasil
menancapkan cengkeraman gaya hidup yang sebetulnya sedang nge-hits di masyarakat yaitu travelling.
Travelling Atau Liburan?
Scene favorit
saya dalam film “Ada Apa Dengan Cinta 2?” adalah saat Rangga dan Cinta
bercakap-cakap sambil menunggu matahari terbit di Punthuk Setumbu dimana Rangga
menjelaskan apa perbedaan travelling
dan liburan. Saya sepakat dengan Rangga bahwa inti dari travelling adalah proses perjalanan bukan sekadar destinasi. Buat
blogger travelling sebenarnya argumen
Rangga tidaklah asing, lain hal dengan orang-orang di luar itu. Tentu kita
telah mengenal istilah “kurang piknik” yang disinyalir sebagai obat stress.
Piknik disini bisa berarti liburan bisa juga travelling tergantung mau menjalani yang mana.
Belum sebulan dari penayangan perdana film “Ada
Apa Dengan Cinta 2?” paket liburan dengan destinasi sesuai film tersebut
diluncurkan berbagai travel agent.
Harganya pun beragam mulai dari ratusan ribu hingga jutaan.
Omong-omong soal paket liburan ini rasanya
agak sulit jika dikategorikan sebagai gaya hidup yang terpengaruh dari film
AADC 2 karena setiap orang butuh liburan berbeda dengan travelling, agaknya pengaruh film tersebut hanya sampai ranah
tujuan wisata saja. Berbeda dengan liburan, travelling
membutuhkan energi dan adrenalin tersendiri. Barangkali setelah tayangan AADC 2
ini booming akan lahir para traveller-traveller baru, mungkin?
Positifnya, Yogyakarta jadi semakin ramai
didatangi orang. Tumbuh pesatnya hotel-hotel raksasa di Yogyakarta sudah siap
menyambut banjirnya wisatawan penggemar AADC 2 militan.
Literasi
Apakah film “Ada Apa Dengan Cinta 2?” bisa
mempertahankan kecenderungan mentrigger penontonnya mengenal budaya literasi?
Boleh jadi. Salah satu buktinya buku puisi karya Aan Mansyur “Tidak Ada New
York Hari Ini” telah cetak ulang sebanyak empat kali hanya dalam waktu dua minggu
dari waktu rilisnya. Ini sungguh pencapaian luar biasa dalam sejarah buku
perpuisian Indonesia.
Pertanyaan selanjutnya, setelah membaca buku
kumpulan puisi Aan Mansyur ini pembaca akan melahap buku puisi yang lain? Tentu
ini bukan tanggung jawab Aan Mansyur, Riri Riza, atau Mira Lesmana sebagai
produser AADC 2.
Sekali lagi saya minta maaf jika harus
memperbandingkan kekuatan puisi dalam film “Ada Apa Dengan Cinta?” dan film “Ada
Apa Dengan Cinta 2?” dimana pengadegan masuknya puisi hanya lewat begitu saja.
Prima Rusdi dan Mira Lesmana tak cukup memberi porsi pada puisi, puisi hanya
menjadi pemanis atau alat agar Rangga tidak kehilangan identitasnya. Puisi
menjadi keresahan Rangga semata tak menjadi keresahan berjamaah atau minimal
keresahan Rangga dan Cinta yang menggiring penonton masuk ke dalam ruh puisi. Sangat
disayangkan karena puisi-puisi karya Aan Mansyur ini sebetulnya bagus-bagus
(meski saya bacanya di goodreads dan mendengar sekilas di film).
Puisi yang saya ingat dan hasil observasi
kecil-kecilan di Facebook dengan menelusuri wall
teman-teman yang habis nonton film AADC 2 (sebetulnya saya kepo keterlaluan) ternyata
adalah petikan puisi yang ada di trailer:
Lihat tanda tanya itu, jurang antara
kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. Dan satu petikan puisi
paling sederhana yang saya dengar di film AADC 2: Meriang, meriang, aku meriang. Kau yang panas di kening. Kau yang
dingin dikenang.
Adegan membaca buku pun jarang ada. Padahal
ada scene Rangga menenteng buku Aan Mansyur
“Melihat Api Bekerja” yang bisa jadi ikon baru setelah bukunya “Aku” Sjuman
Djaya.
Agaknya memang goal dari film “Ada Apa Dengan
Cinta?” dan film “Ada Apa Dengan Cinta 2?” berbeda. Sebetulnya wajar-wajar dan sah-sah saja, mengingat penulis skenario, sutradara, dan keadaan masyarakat yang
berubah.
Travelling memang sudah mulai mewabah, terutama setelah mulai banyaknya blogger traveller. Film AADC2 semakin mempercepat naiknya trend tersebut. Pemilihan Yogyakarta sangat tepat menurut saya, karena ia adalah representasi dari daerah wisata dan masa muda.
ReplyDeleteUlasan yang sangat menarik sekali, Mbak Evi..
Ulasannya menarik sekali teh, aku yg ga ngerti apa" tentang film jadi punya gambaran tentang film ini :D
ReplyDeleteUlasannya bagus banget teteh :)
ReplyDeleteYa bener kerasa banget bedanya, puisi di AADC bener" jadi ruh buat para penonton, kalo sekarang kayak cuma jadi pelengkap, ga terlalu berkesan. Mungkin tema AADC2 lebih ke travelling terinspirasi dari butuh piknik anak kekinian.
Bikin puisi lagi teh di blognya :)
Wah bener banget teh dampaknya memang ke gaya hidup, sebenarnya sy baru nonton AADC 1 minggu lalu stlh nonton AADC 2. Yg saya ingat waktu SD lihat bibi saya yg bawa2 buku AKU kemana-mana dan baru sadar kemarin, oh ternyata itu efek AADC 1 saya baru sadar dan akhirnya menilai lebih positive efek nya AADC 1 pantas saja generasi saat itu skr penasaran dg AADC 2 selain film yg memang bagus mereka juga kayaknya menanti Rangga, sama seperti cinta. Hehehe
ReplyDeleteBeda jaman mba. Mungkin produsernya ingin merangkul penonton baru, generasi baper agar AADC ini bisa berterusan gak mandeg di generasi pertama. IMHO sih..
ReplyDeleteBetul, goalnya yang berbeda. Puisi hanya benang merah. Bukan roh filmnya
ReplyDeleteEfeknya mungkin bukan cuma ke Yogyakarta, tapi juga Magelang dan daerah-daerah sekitarnya juga. Soalnya kan gereja ayam dan Punthuk Setumbu itu di Magelang. Semoga semakin banyak yang berwisata tapi kawasan wisatanya nggak rusak ya cuma karena ada orang yang mungkin ikut tren AADC.
ReplyDeleteWhuaaaaa reviewnya udah keluar ...
ReplyDeleteReview yang cerdas dan melihat dari sisi lain, tidak seperti review yang sudah beredar sebelumnya.
Dan iya, film lanjutan/sekuel atau apapun sebutannya memang memiliki beban yang lebih berat apalagi jarak film pertama dan kedua sekitar 14 tahun ditambah sutradaranya pun berbeda.
Generasi 90an pasti mempunyai ekspektasi lebih mengenai kelanjutan perjalanan Cinta dan Rangga dalam AADC 2, sisanya yah sekedar rasa penasaran kekinian yang menjalar.
Satu hal yang kuat dari AADC selain hubungan Cinta dan Rangga adalah persahabatan Cinta yang sangat kuat di AADC 1 namun seperti ada GAP di AADC 2, entah kenapa gap itu terasa banget ... apakah karena faktor sudah sibuk dan rumah tangga masing-masing atau memang persahabatan SMA dan persahabatan usia 30-an agak berbeda?
Kok kalau aku ngga gitu yah? Malah semakin kuat dan heboh setiap kali ketemuan karna pasti susah banget mau ketemuan kalau udah berkeluarga.
Ya AADC 2 sih sekedar pengingat bahwa dulu ada film AADC 1 yang menjadi sukses dan bangkitnya kembali film indonesia. Cocok banget buat yang susah move on. Helookkk!!!! Putus selama 9 tahun masih aha grogi dan gregretan kek anak smp! (ini sih ga masuk akalnya keterlaluan yah) :))))
Film pertama nggak nonton, film kedua belum ada dorongan buat nonton :)
ReplyDeleteNggak punya teman nonton juga, karena suami dan anakku yang remaja nggak mau :D
Saya nontonnya juga karena daripada liburan nganggur di rumah. Btw emang genk cinta itu populer ya? Gak deh perasaan. Genk biasa aja layaknya genk2 di sekolah2. Bukan grup cislider ato apalah2 hehe.
ReplyDeleteMba Evi menulisnya komplit. Detail. Dan meskipun tulisannya panjang, saya nggak bosan membaca sampai akhir. Tak ada satu kalimat pun yang dengan sengaja saya lewati. Saya suka Mba..
ReplyDelete:)
Aih pengamat film banget ulasannya😊😀
ReplyDeleteTapi iya emang bener, penonton diajak meresapi karakter dengan akting yang memukau, tapiiiiii ditinggal gitu aja tanpa kejelasan di scene tertentu.
Ketika Tunangan Cinta mergokin ada Rangga..selanjutnya ga tau gimana lagi kan yg tiba2 aja Cinta langsung ngendarain mobil dan hampir kecelakaan.hmmm.
Tapi sumpah, aku dibawa baper sm film ini. Ulasan di blog aku itu, aadc2 kisah cinta belum tuntas. Karena ang belum tuntas😂😂
Saya lupa euy, di adegan mana Rangga megang buku. Kalau AADC 1, Aku-nya Sumanjaya emang berkali2 'tampil' ya. Jadi heboh banget pada penasaran sama bukunya. Ulasan yang menarik, Mbak.
ReplyDeleteOh ya.. Satu lagi yg saya simpulkan dari film itu. Menulis belum bisa dijadikan 'pegangan' hidup sepenuhnya. Seperti Rangga walau telah menjadi kolomnis di salah satu majalah ternama tapi tetap harus berbisnis. CMIIW :-)
Sama..saya jg lupa kalau ada adegan rangga megang buku
DeleteAaaaaaah aku suka reviewnya. Beda banget dari semua review yang bertebaran yang udah aku baca. Kece banget nih mak penulisannya. Makasi sharingnya ya Maaaaak
ReplyDeleteIya yah ngambil travelingnya....
ReplyDeleteSuka reviewnya krn gak mlulu soal cintah
suka baca review yg ini, beda goals AADC1 dan AADC 2 ya.
ReplyDeleteRiview film ini luas yah, bisa dari puisi, romantisme, karakter, tempat wisata, saya masih penasaran sama tampilan hasil seni di film itu, ky gambar, patung, musik, apalagi pepermoon puppet theater mgkin film ini mo nunjukin kesenian selain puisi.. bagus mba reviewnya... yg paling aku inget dan nangis saat scene di pepermoon puppets ..yg lain mengelitik .
ReplyDeletemenarik reviewnay dari sudut pandang lain. ah, puisi aku selalu suka
ReplyDeleteReview yang bagus, menganalisa dari sisi mendalam sebuah film.
ReplyDeleteYang seperti ini yang saya harapkan muncul di pemikiran penggemar-penggemar AADC terutama yang militan...
Di AADC 2 puisi berubah menjadi semacam tempelan, pemikat. Saat AADC pertama dunia masih terbatas lingkup lokal. Di AADC 2 dunia berubah jadi lebih global. Realita. Traveling.
Dulu nonton AADC zaman sd atau smp *lupa* cuma ikut tren, belum ngerti maksudnya, semenjak disiarin ulang di tv, baru ngeh, dan asli film ini bikin saya pun penasaran sama 'Tiada New York Hari ini'
ReplyDeleteUlasan yang cerdas, mba Evi..seneng bacanya.. :)
ReplyDeleteSoal gaya hidup,mungkin memang beda ya anak remaja SMA dengan ibu2 muda atau dewasa muda. Contoh dikehidupan nyata aja,saya yang juga punya teman segenk SMA berempat cewek semua,sekarang udah sibuk masing2,mana mungkin bisa ngisi diary yg begitu populer di zaman SMA.bisa liburan bareng aja syukur2 tuh,biasanya liburannya y bareng keluarga inti alias anak dan suami.cuma memang yg disayangkan adalah porsi puisi.saya berharao lebih,pgn nostalgia gitu..=D
ReplyDeletekalau istilah sundanya, saya enggak kezamanan film AADC ini, tapi membaca ulasan mbak evi ini saya jadi penasaran. :D
ReplyDeletePuisi hihihi keinget jaman SMA dulu, saya mau deketin cowok cool ya pake'nya puisi, yg emang kalo pas lagi mood ide menulisnya keluar begitu saja.
ReplyDeleteDan diary itu mengingatkan pada almarhumah sahabat saya, jaman SMA jg tukeran dulu namanya Album Kenangan, diisi satu2 oleh teman genk. Sewaktu ia telah berpulang, nggak sengaja buku itu saya temukan lagi. Sedih, saya posting di grup BB genk SMA, dan mereka kaget saya masih menyimpannya :)
Oiya banyakan yg nulis review ini jaman SMA yak, duh saya tu'an dikiiiit keknya, pas itu saya malah udah kuliah *sapayangtanya* :D
Eviiiiii,..
ReplyDeleteSelain puisi, ada beberapa dialog di AADC 1 yang kayaknya melekat banget dan hampir jadi semacam trend, kayak misalnya kalimat : BASI! madingnya udah terbit! Aku inget kata BASI langsung jadi nge-hits banget.
Trus ada juga : emang salah gue? salah temen2 gue?
Sampai sekarang aku masih sering menyelipkan kalimat itu di blog buat sekedar lucu2an aja bhahahaha *berasa Cinta*
Untuk AADC 2 ini, masih belum kedengeran dialog yang fenomenal dan pengen dijadiin trend sih, kecuali mungkin 'sekian purnama' aja hehehe..
Tapi aku tetap nonton di bioskop sih, biar kekinian hehehe...
Puisi dan quote AADC 1 emang lebih ngena dibanding yang kedua. Yang kedua unggul di latar tempat dan life style kayak travelling dan ehm lipstiknya itu ya, Vi. Tapi tetep suka juga sih dengan AADC2 ini. Ga nyesel nontonnya.
ReplyDeleteAKU BELUM NONTON FILM INI AAAAK AKU NGGAK GAUL ~(^з^)-☆
ReplyDeleteFilm yang digandrungi banyak orang.
ReplyDeleteTerima kasih resensinya kebetulan saya belum nonton film ini.
Salam hangat dari Jombang
huhuhu akuh belum nonton penasaran pisan sebenarnyaaa
ReplyDeleteUlasan yang apik, Vi. AADC 2 memang perlu penjembatan di beberapa bagian. Selebihnya..... ya ampyuuuun Ranggggaaaa.. dekil banget siiih..
ReplyDeleteehm, maksudku, Rangga-nya lebih mirip Gie. Begitu.
Tapi, aku masih tetap jatuh cinta sih. Hauft.
Aku rasa pengaruh tersebar dari aadc2 adl gaya pacaran anak muda yg akan mengikuti Rangga dan Cinta.
ReplyDelete