Soal Percintaan



Aloha Eva,
Enggak tahu kenapa, baca surat kamu "Soal Kebiasaan" bikin ngakak. Selama ini, jadi kamu punya brand cappuccinoholic dikarenakan enggak berani ngerasain kopi lain? Diluar dogaan. Kirain memang udah nyobain berbagai kopi dan akhirnya menuntukan kopi cappuccino. Aku jadi merasa tertipu (apa deh, kayak mikirin aja?).

Ngobrol-ngobrol soal kebiasaan, suka ngerasa nggak sih, kalau kebiasaan itu erat kaitannya sama cinta? Iya, CINTA! Menurut survey (lupa siapa yang survey) kalau cinta itu hanya bertahan selama lima tahun. Tapi ada aja ya, yang pacaran lebih dari lima tahun, termasuk kamu gitu. Maaf membuka luka lama *tissu mana tissu*. 


Aku sering curhat-curhatan sama teman. Kebanyakan dari mereka bilang, salah satu faktor yang bikin bertahan dengan satu hubungan adalah kebiasaan. Bayangkan selama bertahun-tahun sebagai pasangan tentu punya banyak momen, kenangan, dan terutama waktu yang dihabiskan bersama. Ngerjain ini sama dia, ngerjain itu sama dia. Mau ngapain izin dulu, mau ke sana-sini izin dulu. Seringnya melakukan aktivitas bersama. Lama-lama ini jadi kebiasaan. Kayaknya ada yang kurang kalau enggak bareng pacar. Jatuh-jatuhnya kadang enggak mandiri. Kedua belah pihak enggak mandiri.

Mungkin memang itulah fungsinya pasangan, saling melengkapi. Tapi apa iya, faktor kebiasaan itu disebut cinta? Kalau udah nikah apalagi ya? Memang wajibnya bareng sama pasangan. Banyak juga teman aku yang cerita, kalau nikah itu bukan persoalan cinta tapi sayang dan tanggung jawab. Justru soal kebiasaan itu yang dibangun. Harus terbiasa dengan perangai, watak, dan karakter pasangan.

Jujur aja, faktor kebiasaan itu menjadi momok yang agak mengerikan buatku. Penginnya walaupun udah nikah, rasa cinta itu tetap ada, bukan sekadar faktor kebiasaan. Kayak Habibi dan Ainun gitu. 

Katanya, cinta yang tetap hidup adalah cinta yang tak sampai. Contoh, Romeo dan Juliet, Jack dan Rose, Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri. Banyak pokoknya. Cerita seperti itu, lebih dikenang. Kenapa ya? Apa mungkin karena kebanyakan pernikahan didasari oleh faktor kebiasaan belaka? Dibalik semua itu, ada rasa bosan tapi enggan keluar dari zona nyaman. Semoga kita enggak menjadikan faktor kebiasaan sebagai landasan utama untuk mempertahankan hubungan.

Waduh udah jam setengah sepuluh, udah injury time pengiriman surat ke Kak Lio.
Nanti kita sambung via offline aja, ok?

Salam penuh cinta
Sang pecinta
Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
Agung Rangga
AUTHOR
7 Februari 2014 19.30 delete

sampai segitu mengerikan kah? :|

Reply
avatar
HM Zwan
AUTHOR
7 Februari 2014 20.07 delete

hiyyyyaaa...cappucinoholic,pantesan...emang enak sih,apalagi ditambah cokelat bubuk,errrrrrrr

Reply
avatar
Eva Liana
AUTHOR
7 Februari 2014 23.23 delete

Hemph, aku bingung mau komen dan balas apa (..)7

Reply
avatar
8 Februari 2014 18.30 delete

Kalo cm krn kebiasaan, kl aku ya bikin bosen. Setiap detik adl segala rasa...dan cinta itu begitu.
*apa sih komenku agak absurd

Reply
avatar
11 Februari 2014 07.35 delete

Saya sukanya green tea latte atau vanilla latte :)

Reply
avatar
11 Februari 2014 07.35 delete

Udah bikin balasannya, kan? Udah enggak bingung lagi berarti :D

Reply
avatar
11 Februari 2014 07.36 delete

Biarpun absurd, tapi aku ngerti Mbak :)

Reply
avatar