Connecting the Dots: Kreatif Dalam Kata-kata

Connecting the Dots - Sumber gambar: http://chapter-next.com/connecting-the-dots/

Creativity is about making a lot of quick connections about the things you know, the things you’ve seen.
-Jerry Della Femina-

Selama tahun 2016, produktivitas saya dalam menulis blog menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya menyadari masalah-masalah yang saya hadapi berkisar membagi waktu dan kejenuhan menulis. Kesulitan membagi waktu sudah mendarah daging bagi saya. Terbukti dengan seringnya saya terlambat datang ke pertemuan-pertemuan. Sementara kejenuhan menulis tumbuh karena saya merasa menulis kata-kata yang itu-itu saja.


Masalah pertama yang berhubungan dengan membagi waktu, seorang teman menyarankan saya untuk membeli jam tangan. Katanya, dengan kehadiran jam tangan akan memberi efek positif menghargai waktu. Boleh juga saya coba. Saat ini memang ada trend baru bernama smartwatch. Fungsi smartwatch memang banyak karena bisa disambungan dengan ponsel pintar selain tentunya fungsi utama menunjukan waktu. Beberapa fitur dari smartwatch adalah bisa melakukan panggilan telepon, SMS, adanya informasi cuaca, mengendalikan kamera, stopwatch, dan lain-lain. Harga smartwatch sebenarnya berkisar antara seratus ribuan sampai jutaan. Saya bisa membeli yang terjangkau sesuai kemampuan dan kebutuhan.

Masalah kedua, pertengahan bulan Januari, saya meminjam buku berjudul Kreativitas itu “Dipraktikan” karya Tim Wesfix diterbitkan oleh Grasindo. Tim Wesfix adalah kumpulan dari beberapa penulis yang memiliki aspirasi untuk membagi ilmu. Melalui medium buku, Tim Wesfix memberikan informasi yang disajikan secara sederhana namun enak dibaca. Tema-tema yang dibahas adalah tema-tema sekitar humaniora dan kreativitas.

Buku setebal 144 halaman itu berisi tulisan, gambar, dan checklist yang mudah dipahami dan dipraktikan. Ada satu bab yang menarik bagi saya terutama ini merupakan salah satu jawaban terhadap masalah kejenuhan menulis. Bab itu berjudul Connecting the Dots. Bagi saya bab itu merupakan panduan agar kreatif berpikir yang bisa digunakan dalam segala bidang, pada kasus saya melahirkan kreatif dalam kata-kata. Karena  itulah saya ingin membaginya padamu dalam artikel ini.

Kreativitas itu “Dipraktikan” - Sumber gambar: Goodreads

Lateral Thingking
Lateral thingking merupakan sebuah tema yang selalu ada dalam pembicaraan tentang berpikir kreatif. Selain brainstorming, metode ini juga kerap dipakai.

Dalam lateral thingking kamu diminta untuk melakukan penghubungan. Ada dua kata yang seolah tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Lalu kamu harus berupaya keras berpikir tentang hubungan-hubungan apa saja yang bisa dibuat dari kedua kata tersebut. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah titik pijaknya, yaitu apa yang hendak menjadi tujuannya.

Ambil contoh, kamu ingin membuat novel baru. Dan, kamu belum terpikir sama sekali tentang tema yang ingin kamu buat. Yang kamu tahu, kamu menginginkan sesuatu yang baru.

Ambillah kata: pisau dan kata monyet. Olahlah kedua kata itu. Catatlah semua kemungkinan. Barangkali: fabel tentang monyet yang mati di ujung pisau, pisau yang termakan oleh monyet, atau pisau yang digunakan untuk menukar monyet? Metode ini bisa digunakan untuk pencarian ide di segala bidang.

Membuat Asosiasi-asosiasi
Membuat asosiasi merupakan kegiatan yang menyenangkan. Manusaia adalah makhluk yang unik sebab merupakan satu-satunya yang memahami simbol dan bermain-main dengannya.

Apa yang dilakukan ketika membuat asosiasi? Ini merupakan salah satu cara untuk menghubungkan suatu kata acak dengan suatu kemungkinan penemuan ide baru yang brilian.

Aspek kreatif benar-benar berperan di sini karena dalam asosiasi kita sengaja menggunakan dua buah kata yang seolah tidak nyambung untuk kemudian diotak-atik sehingga tanpa sengaja menemukan relevansinya.

Bagaimana caranya?
Pilihlah sebuah kata acak, misalnya: kamera
Carilah kata-kata yang paling sedikit sambungannya dengan kamera. Misalnya: kram.
Dari dua kata tersebut: kram – kamera, mulailah mencoba mentrasformasikannya. Sebisa mungkin carilah apa yang bisa menghubungkannya.
Dari sini, kamu bisa menemukan ide-ide yang benar-benar segar, entah inovasi, entah plot cerita.

Membuat Oksimoron
Oxymoron berasal dari bahasa Yunani. Oxy berarti tajam, dan moron berarti tumpul. Jadi dua kata yang saling berlawanan menjadi satu kata baru. Oxymoron berarti satu kata baru dari dua kata yang berlawanan.

Oxymoron merupakan permainan bahasa yang menarik untuk dilakukan. Kamu bisa mempraktikannya sekadar untuk membuat pikiranmu terisi dengan kemungkinan-kemungkinan yang lucu. Dari situ, pikiran kamu akan terangsang untuk membayangkannya. Bagaimana kamu bisa membayangkan kata-kata unik seperti definitely maybe, cahaya gelap, senyuman luka, tertawa pahit, dan sebagainya.

Semakin banyak kata yang kamu buat semakin kamu tergelitik untuk menyelami sesuatu yang biasanya tak terbayangkan. Inilah langkah-langkah untuk akhirnya menjadi terbuka pada segala inspirasi.

Menginventarisasi Problem-problem
The creative process to me is like an exercise in problem solving.
-Matt Groening-

Secara literal, kamu memang benar-benar harus cari masalah sebanyak dan sesering mungkin. Dengan demikian, kamu dapat menjadi kreatif. Mengapa? Karena pada dasarnya kreativitas adalah problem solving.

Hampir semua inovasi kreatif terpikir oleh si penemu karena si penemu bergulat dengan problem sehari-hari. Orang-orang pada umumnya mungkin tidak begitu ambil pusing tapi orang-orang kreatif ini justru cari gara-gara. Mereka mempermasalahkan hal-hal yang kita anggap biasa.

Mungkin pula ini saatnya kamu untuk mendaftar masalah yang kamu miliki lalu pecahkan dengan kreatif.

Anita Roddick yang mendirikan perusahaan penyuplai kosmetik Body Shop, awalnya adalah perempuan yang kesulitan karena ditinggal suaminya ke Amerika Selatan. Ia butuh duit sementara suaminya berlibur. Apa yang harus dilakukan? Setelah putar otak, ia justru mendirikan Body Shop itu.

Michael Jordan adalah seorang yang sukses di bidang olah raga basket. Tahukah kamu, ia juga orang yang pertama kali memopulerkan trend fashion atlet basket dengan celana pendek hingga selutut. Jordan menemukannya ketika ia cari cara supaya ia tetap bisa memakai celana basket kesayangannya yang mendatangkan kemenangan. Akhirnya ia pakai celana model lutut supaya celananya yang di baliknya tidak kelihatan.

Richard Branson awalnya hanya mengeluhkan tidak tersedianya tiket penerbangan ketengan, setelah ia terdampar di Puerto Rico. Ini membuatnya berpikir untuk mendirikan Virgin Airways yang melayani penerbangan one way.

Oke mungkin ketiga contoh di atas tidak terlalu relevan untuk kasus mengatasi kejenuhan saya. Tapi saya punya perspektif lain. Ada dua hal yang bisa saya ambil dalam menginventarisasi problem-problem. Pertama tentu saja membuat daftar masalah menyangkut kejenuhan menulis. Kedua membuat daftar masalah menyangkut isi novel atau artikel saya.

Misalnya begini: Masalah menyangkut kejenuhan menulis adalah keterbatasan kosakata, bosan dengan tema, kurang referensi buku, sedang tidak ada uang buat beli quota, dan lain-lain.

Masalah menyangkut isi artikel: tidak menguasai tema, kurang referensi, sedang tidak ada uang buat beli quota, dan sebagainya.

Ketika sudah mengetahui masalah baru bisa cari solusi. Contohnya untuk masalah sedang tidak ada uang buat beli quota, saya bisa berjalan-jalan ke taman yang ada akses wifi. Selain saya bisa menggunakan internet secara gratis, saya menemukan suasana baru, dan mungkin ide baru ^_^

Seperti judul buku Tim Wesfix, Kreativitas itu Dipraktekin! So, setelah membaca artikel ini segeralah ambil kertas, laptop, atau ponsel pintarmu. Dan segeralah praktikan poin-poin connecting the dots: kreatif dalam kata-kata. Semangat!

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but having new eyes.
-Marcel Proust-

Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

Selamat datang di dunia Evi Sri Rezeki, kembarannya Eva Sri Rahayu *\^^/* Dunia saya enggak jauh-jauh dari berimajinasi. Impian saya mewujudkan imajinasi itu menjadi sebuah karya. Kalau bisa menginspirasi seseorang dan lebih jauhnya mengubah peradaban ^_^

2 comments:

  1. BTW, saya suka seri bukunya "Dipraktekkin!" Tim Wesfix

    Ada buanyak banget, pernah baca yang marketing itu dipraktekkin. Bagus :D

    ReplyDelete