Sepasang Sepatu Tua Dalam Lemari Kayu

Sepasang Sepatu Tua Dalam Lemari Kayu
Sepasang Sepatu Tua Dalam Lemari Kayu

Sepasang Sepatu Tua Dalam Lemari Kayu
: Yunis Kartika

Selamat pagi Sista sayang, semoga pagi ini seperti pagi kemarin dan pagi esok hari penuh syukur dan kebahagiaan. Serupa kata yang senantiasa kau sematkan dalam status BBM-mu, “Bismillah-Alhamdulillah.”


Kubayangkan pagi ini kau tengah bergegas menyiapkan sarapan, membangunkan Athaya, dan mengantarkan ia ke sekolah. Mobilmu melaju hati-hati di tengah gerimis dan gemeletuk gigimu. Kini kau meluncur menuju rumah Ayah dan Mama, sekadar menjenguk dan menyapa mereka, orang tua kita. Jangan juga kau lupakan janji pertemuan kita tepat pukul tujuh ini.

Sudah kusiapkan dua gelas kopi sebagai pengantar perbincangan hangat agar embun tak melekat di dadamu. Bibirmu yang sedikit tebal akan berbicara khusyu mengenai buku yang sedang kau tulis. Aku pun tak ketinggalan. Sesekali kita akan menyisipkan obrolan mengenai cinta yang rasanya sulit digenggam. Tentang pasangan yang kita rindukan, tentang air mata kering dan tak sempat menetes.

Dalam sekejap kopi kita telah tandas. Tenang saja, meski persediaan kopiku sudah habis, aku akan menyajikan teh hitam yang likat dan gurih. Kau akan sedikit mengernyit sembari berkata, “Aku tak suka teh, Sista.” Namun percayalah, minum sedikit saja, terkadang kita harus keluar dari kebiasaan agar mendapat pengalaman baru. Walaupun tak semua pengalaman seperti kita harapkan.

Kisahkan padaku petualanganmu bersama sepatu-sepatu. Tanah seperti apa yang sudah kau injak? Udara seperti apa yang telah membelai kulitmu menjadi cokelat? Dan dengan siapa saja kau bertegur sapa? Ah, sudah lama aku ingin bilang, belilah tongsis kabel, Sista. Agar dengan mudah kau abadikan setiap kenangan. Tak perlu bersusah-susah menunggu pejalan kaki lewat, atau meminta orang yang tak kau kenal mengambilkan gambar. Cukup kau dan jarimu.

Percayalah Sista, keadaan tak selamanya akan begini. Satu hari aku percaya, ada sepasang sepatu mengiringi langkahmu. Dentuman suaranya begitu mantap penanda ia begitu sigap mendampingimu melewati musim demi musim, melintasi gelap terang, hingga sol sepatu kalian terkelupas dan menipis. Lalu kalian akan menyimpan sepasang sepatu penuh sejarah dan menggantinya dengan yang baru. Kemudian sepasang sepatu baru menjadi lusuh dan luruh. Kalian menyimpannya baik-baik dalam lemari kayu. Begitu seterusnya hingga kalian sulit menghitung berapa jumlah pasangan sepatu dan menambah lemari kayu yang telah sesak itu.

Sista, telah banyak orang mengatakan, kau begitu menyilaukan. Mereka benar. Maka bersabarlah Sista, sesuatu yang berkilau pantaslah berdampingan dengan cahaya agar melahirkan semburat pelangi.

Teh hitamku sudah habis tak bersisa namun tehmu masih sedia kala. Ah, kau memang keras kepala. Seperti adik kembarku, katamu sambil bercanda. Kau tengok jam di gawaimu. Saatnya aku pergi, katamu lagi. Kita berpelukan. Kuantar kau ke gerbang, memandangi punggungmu hingga hilang di kelokan. Tubuhmu begitu tegap dan percaya diri, begitulah kau, Sista.

Kita kembali diseret kesibukan dan kebimbangan masing-masing hingga satu waktu kita akan saling memuntahkan dan menertawakannya seolah film komedi sedang diputar, seperti pagi ini. Dan begitulah kita menerima hidup kita yang bertautan. Berbahagialah Sista, seperti kemarin dan esok hari. Karena kebahagiaan seperti yang kita tahu, kitalah yang memutuskan. Putuskanlah dalam benakmu, segera tiba saatnya ada sepasang sepatu tua dalam lemari kayu.


Sepasang Sepatu Tua Dalam Lemari Kayu
Teh Yunis dan Evi

Sumber gambar:
http://berlinhappens.com/wp-content/uploads/2016/01/desain-rak-sepatu-kayu-minimalis.png
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

3 comments:

  1. Cerita yang menarik sob, saya bacaany sambil manggut-manggut, ternyata enak juga membaca sepatu dalam lemarinya. salam BW mbak.

    ReplyDelete
  2. sesekalikeluar dari zona nyaman auntuk mendapatkan pengalaman baru ya

    ReplyDelete
  3. Jangan bimbang, mantapkan yuuuuk. ;)

    ReplyDelete