Persahabatan Cewek dan Cowok, Mungkinkah?

Persahabatan Cewek dan Cowok, Mungkinkah?
Persahabatan Cewek dan Cowok, Mungkinkah?

Kamu percaya nggak sih persahabatan antara cewek dan cowok? Apa mungkin ada persahabatan yang murniiii … tanpa rasa-rasa lain atau rasa terpendam? Banyak kasus dimana awalnya cewek dan cowok dekat, bersahabat, kemudian jadi friendzone #ups karena nggak mau ada yang berubah. Duh, dia suka juga nggak ya? Dia kan perhatian banget! Kalau aku ngomong, dan ternyata dia cuma nganggap sahabat, dia bakal berubah nggak ya? Kondisi kayak gitu menyiksa banget, kan? Sumpah ini bukan curcol, walaupun saya pernah ngalamin ha ha ha.


Jauh sebelum saya menulis artikel ini, saya sempat ngobrol panjang sama seorang sahabat, cewek tentunya. Kami mengingat-ingat, apakah kami punya sahabat cowok? Pertanyaan ini susah-susah gampang buat dijawab. Mesti jujur sama diri sendiri dan mengusir kegeeran dalam diri. Kalaupun kamu bilang dia sahabat, kamu juga pasti tahu kok perasaanmu. Hati nggak bisa bohong. Dan kalaupun kamu nggak punya rasa, apa benar kamu nggak tahu sahabatmu itu nggak ada rasa juga? Pada dasarnya, kamu punya sinyal buat memilah-milah.

Setelah lama mikir, akhirnya, ada satu nama dalam benak saya. Arthur Puntuan. Ya, seorang Art adalah ‘sahabat sejati’ buat saya. Sedikit nostalgia. Arthur adalah kakak kelas saya waktu SMA, dua tahun diatas saya. Waktu saya masih pakai seragam putih biru, yang pasti bukan pakaian anak Frozen alias baju Elsa, Arthur ini yang nge-MOS saya. Sumpah, tampangnya seram banget. Mana badannya kurus, tinggi, rambutnya keriting, dan tatapannya itu lho, tajam! Termasuk kakak kelas yang paling ditakuti. Saat itu, boro-boro saya mau dekat-dekat dia, lihat aja penginnya ngibrit.

Ada satu persamaan saya dan Arthur, kami sama-sama gila organisasi atau di sekolah kami disebut hobi grup. Dia aktif di tujuh organisasi, dan saya lima organisasi. Dari sebanyak organisasi itu, nggak ada satu pun kami satu hobi grup. Paling-paling kalau ada acara, kami satu kepanitiaan.

Suatu hari, saya yang suka baca ini, menemukan taman bacaan dekat sekolah. Namanya Comic Corner. Di sana, saya bisa baca komik sepuasnya dengan harga yang murah banget dan tempat nyaman. Nggak disangka, Arthur dengan penampilan garangnya, suka baca komik juga. Dari satu pertemuan demi pertemuan yang nggak disengaja itu, kami mulai suka janjian di Comic Corner. Kedekatan kami memang nggak menyolok karena waktu itu Art sedang persiapan ujian masuk kuliah. Mulai jarang ada di sekolah.

Hubungan persahabatan kami berlanjut hingga kami sama-sama kuliah, kerja, dan sampai sekarang. Yang namanya persahabatan, ada pasang surut. Ada kalanya, kami kehilangan kontak, lalu kami saling mencari kabar lewat jejaring sosial.

Timeline hidup Art termasuk lurus, kuliah pas, kemudian kerja tepat waktu. Sedangkan saya, kuliah aja butuh waktu tujuh tahun. Banyak ketertinggalan dan perbedaan dimensi hidup dalam persahabatan kami. Arthur adalah tipe cowok petualang, bukan urusan cewek, kalau tentang itu sih dia setia. Hampir setiap tahun, Arthur berganti tempat kerja. Tiba-tiba ada di Aceh, ada di Kalimantan, ada di perkebunan, ada di tempat-tempat yang nggak terpikirkan oleh saya. Saya sendiri tetap di Bandung. Bidang yang kami geluti juga berbeda, saya di dunia menulis, teater, dan marketing. Sedangkan Arthur di dunia hukum, dan segala tetek bengeknya. Anehnya, setiap kali bertemu, kami tetap klik satu sama lain. Seperti nggak ada jarak ribuan hari kami nggak bertatap muka.

Soal cinta? Jangan ditanya. Kami saling terbuka soal itu. Kami berbagi pandangan soal keluarga, hubungan pasangan, sosial, dan ideologi hidup. Meski kami nggak selalu ada dalam masa-masa sulit, saya tetap menganggap Arthur sahabat saya.

Saya suka berandai-andai, bagaimana kalau Arthur seiman dengan saya, apakah kami akan saling jatuh cinta? Jawabannya, enggak. Kami memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat bukan kekasih. Kami mengerti satu sama lain dalam taraf tertentu. Barangkali, kami mengerti jiwa masing-masing, dan kami tahu, jiwa itu akan terisi oleh orang lain.

Bulan puasa tahun ini, saya mendapat kabar gembira. Arthur menemukan belahan jiwanya. Sayangnya, saya enggak bisa menghadiri upacara sakral tersebut. Saya hanya bisa berdoa dari jauh, Arthur bahagia bersama istrinya.

Arthur dan Istri (sumber foto: FB Arthur)

Sebelum saya menulis artikel ini, saya mencari-cari foto kami. Ternyata, saya enggak punya foto berdua bareng Arthur. Rupanya, karena pertemuan kami begitu jarang, dan biasanya hanya pada bulan puasa dimana Art punya hari libur, kami terlalu asyik berbagi cerita sampai lupa mengambil gambar. Saya berpikir, persahabat bukan disahkan oleh foto, persahabatan disahkan oleh hati. Berharap, persahabatan kami akan terus berlangsung hingga maut memisahkan.

Jika ada orang yang bertanya pada saya, “Persahabatan antara cewek dan cowok, mungkinkah?” Saya bisa menjawab dengan mantap, “Ya, mungkin!” Menurutmu gimana?
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

27 comments:

  1. Sebenarnya berat bersahabat dengan lawan jenis murni tanpa ada tambahan rasa apa-apa jika ,mungkin, seiman dan intens bertemu. Tapi biasanya rasa itu hinggap pada salah satu saja, ah beruntunglah jika ada yang hinggap pada keduanya... Setidaknya itu menurut (pengalaman) saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang berat tapi bukan enggak mungkin :)

      Delete
  2. Saya pun salah satu sahabat arthur.. Memang dia sangat supel, open minded, dan sangat terbuka dgn kritik. Gak pernah tersinggung pdhl saya klo ngomong ama dia ceplas ceplos nampol. Hehe..
    Hmmm keknya saya sih gak setuju klo persahabatan antara pria & wanita bisa murni tnp ada rasa.. Setidaknya ada rasa SAYANG, itu pasti. Makanya kita gak mau sahabat kita tersakiti atau terjerumus ke hal2 gak bener. Gitu sih klo kata aku.. Memang kdng kenyamanan mengalahkan logika..
    Btw evi, keknya kita seangkatan deh. Aku jg 2 thn di bwh arthur dan anak paskibra prova..hahahahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ester, kayaknya (mungkin) kita pernah ketemu ya he he he.

      Menurutku rasa sayang dan cinta itu beda. Rasa lain di sini adalah cinta yang ingin memiliki :)

      Delete
  3. Asal belum ada ceweknya aja hahahaaa... Biasanya ceweknya suka ribet! Lain kalau sudah beristri, setelah kenal istri & anak2nya bisa kyk saudara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, Mbak. Setelah punya pasangan memang rada ribet, asal pasangannya ngerti sih masih bisa sahabatan terus :D

      Delete
  4. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran ... aku percaya itu adalah prinsip yg baik dalam sebuah persahabatan.

    Kasih dalam segala bentuknya adalah expresi dari kenyamanan dalam sebuah persahabatan, dan logika menjaga agar kenyamanan itu tetap terjaga.

    Thx for the friendship and all moments we shared :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak Art atas rasa persahabatan yang tulus itu :)

      Delete
  5. Menurutku persahabatan antara cewek dan cowok tentu saja bisa terjadi. Aku juga punya seorang sahabat cewek. Kami sudah bersahabat sejak SD. Kemudian terpisahkan oleh SMP karena kami berada di sekolah yang berbeda. Bertemu kembali di SMA. Komunikasi lancar. Dia orangnya cantik. Tapi meski dekat, aku sama sekali gak punya rasa "ingin memiliki" dirinya, seperti orang-orang pada umumnya. Kadang kami suka bertukar pikiran. Bertukar cerita. Membuka aib sendiri (saking saling percayanya). Aku lebih senang kalau kami bersahabat aja. Dan semoga aja persahabatan ini bisa terus berlangsung hingga maut memisahkan :3

    Mampir ke blogku ya kak :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga persahabatan kalian langgeng ya :)

      Delete
  6. Wajah sahabatmu tampak familiar yah? He he he.

    Whuaa, senangnya Arthur sudah menemukan pendampingi hidupnya.

    Hemp .. Mungkin karena aku selalu terbuai akan perhatian lawan jenis sehingga segala bentuk perhatian suka disalahartikan oleh perasaanku sendiri.

    Dan aku lebih suka menamainya teman dekat bukan sahabat. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, kayaknya kalian saling kenal deh.

      Teman dekat atau sahabat boleh saja, yang penting definisinya sama :D

      Delete
  7. Mungkiiinnnn...
    Eike begitu soalnya...
    :)

    ReplyDelete
  8. Suami saya gak percaya dengan persahabatan cewek dan cowok Mak. Kalau menurut saya, meski mungkin persahabatan itu pernah dihiasi dengan adanya perasaan di salah satu atau kedua pihak, yang namanya sahabat pasti akan memilih tetap untuk bersahabat atau kembali untuk hanya bersahabat. Pengalaman pribadi saya sih..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak. Persahabatan itu bentuk konsistensi kasih sayang dan pilihan juga :)

      Delete
  9. ntahlah mba...mungkinyg ini ga berlaku utk aku... pernah dulu punya sahabat co, trs kita malah jd suka, pacaran, putus, dan skr walo udh baikan, tp ada jarak...ga bisa kyk dulu lg.. bbrp pengalaman dr sepupuku, 2 org malah, sahabat co yg mrk punya, ujung2nya malah jd tempat selingkuh dr suami masing :(.. iya sih, aku ngerti ini tergantung dr pribadi masing2... tp buatku, sprtinya emg ga mungkin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, tergantung komitmen juga ya :)

      Delete
  10. Mungkin aja kalo menurut aku sih. Soalnya aku juga punya sahabat cowok dari jaman kuliahan sampe hari ini ^^ Dan emang ngga pernah ada perasaan lain sih.. Kita sobatan, nikah dengan pasangan masing2, ngga ada masalah :) Aku sobatan sama dia udah sampe taraf ngga manggil nama lagi :D Dan "Nyed" adalah sapaan masing2 :)))

    *btw suka ke zoe comic corner juga yaaaa? tos dulu ah ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada teman yang suka ke Comic corner juga yeay!

      Iya Mbak, semoga persahabatannya selalu langgeng ya :)

      Delete
  11. Mungkin saja, tapi kebanyakan berakhir di pelaminan. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak apa-apa berakhir di pelaminan. Bagus juga. Katanya pernikahan yang langgeng menurut penelitian di Australia adalah dengan menikahi sahabat sendiri :D

      Delete
  12. mungkin aja sih menurutku mbak, yang penting kan "Kami mengerti satu sama lain dalam taraf tertentu.", asal batas taraf tertentunya gak terlewati, mungkin tetep nyaman aja sahabatan, aku udah buktiin kok :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, Kang. Sahabat ada batasan juga, batasan itu yang mesti dipegang :)

      Delete