Cerita Tentang TBC Usus: Diagnosa Sulit Tegak

Cerita Tentang TBC Usus Bagian Ketiga
Diinfus kedua kalinya hiks
Cerita sebelumnya Bagian Pertama dan Bagian Kedua

Siapa yang punya hobi makan obat? Saya sih paling males makan obat, gara-gara itu juga selama punya kewajiban makan obat, saya enggak mengikuti petunjuk dokter. Kadang diminum kadang enggak.

Mama yang khawatir dengan kesehatan saya, menyuruh mbok pijat langganan keluarga buat memeriksa saya. Sangkaan Mama, saya mungkin turun peranakan. Padahal biasanya yang turun peranakan itu orang yang baru atau sudah melahirkan. Karena saya anak yang baik ^^V saya nurut sama Mama. Si Mbok memijat saya dengan minyak zaitun dari telapak kaki hingga kepala. Ajaibnya sehabis dipijat, badan saya segar termasuk kembungnya juga hilang. Tapi-tapi-tapi ada yang aneh, bagian bawah perut kanan dekat selangkangan jadi agak mengembung, seperti ada airnya. Berhubung enggak sakit atau bengkak, saya abaikan. Mbok pijat bilang, kalau minggu depan masih sakit, saya harus dipijat sekali lagi.


Jadwal check up pun tiba. Kenakalan saya kambuh lagi, saya lewatkan jadwal tersebut karena merasa sudah sehat.

Dua minggu dari pijat, perut kanan saya mulai sakit lagi. Mengingat pesan Mbok waktu itu, saya pijat lagi. Anehnya, kali ini malah makin sakit perutnya walaupun cukup terpusat di bagian bawah perut kanan saja. Mama saya jadi jengkel sama saya karena enggak mau ke dokter lagi. Mama saya takut kalau saya ternyata sakit usus buntu, proses pijat yang salah malah bikin usus buntunya pecah di dalam. Akhirnya saya membaca beberapa artikel di internet yang menyatakan ada dua jenis usus buntu yaitu usus buntu kronis dan akut.

Saya memang sengaja menunda-nunda check up karena kalau saya benar-benar sakit usus buntu harus dioperasi. Saya takut operasi walaupun katanya proses penyembuhannya hanya seminggu. Alasan lainnya karena saya sudah ada beberapa jadwal di luar kota.

Kebandelan saya berbuntut kena batunya. Dua minggu berturut-turut, setiap weekend, saya pergi ke Jakarta. Jadwal pertama ke Jakarta, perut saya cukup bersahabat karena hari-hari lainnya saya bed rest. Gawatnya, jadwal kedua ke Jakarta, sakit perut saya makin parah sampai-sampai saya enggak bisa jalan. Sakit perutnya menjalar ke pinggang dan kaki. Perut bawah bagian kiri dan kanan terasa diremas-remas, kembungnya kayak orang hamil, dan perut hingga pinggang kram kaku seperti papan.

Sepulang dari Jakarta, tepatnya tanggal 23 Maret 2015, Mama saya memaksa saya pergi ke puskesmas. Dokter puskesmas kembali mendiagnosa kalau saya terkena usus buntu dan harus segera ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, dokter jaga IGD meminta hasil tes sebelumnya.

Saat itu juga, saya dites darah dan di-rontgen lagi. Kedua kalinya saya merasakan diinfus. Dua tube kecil obat penahan rasa sakit disuntikan pada saya. Besok paginya, saya di-USG lagi. Dua jam kemudian, dokter mengunjungi saya.

Perbandingan hasil USG yang pertama dan kedua

Dokter Hengky: Halo Evi. Sekarang kenapa lagi? Bukannya bulan kemarin kamu abis dari sini? *kemudian tersenyum geli*
Saya: I … iya, Dok *menunduk malu karena enggak check up*
Dokter Hengky: Waktu itu kenapa enggak check up?
Saya: Soalnya sakitnya hilang, Dok.
Dokter Hengky: Gini ya Evi, kamu itu enggak sakit usus buntu. Saya kan pernah bilang kalau usus buntu sakitnya enggak lama. Hasil tes darah kamu sekarang leukosit-nya tetap normal.
Saya: Terus saya sakit apa, Dok?
Dokter Hengky: Kemungkinan kamu sakit TBC Usus. Hasil rontgen-nya paru-paru kamu membaik tapi tetap TBC-nya masih aktif. Nah TBC ini menyerang usus kamu.

Cerita Tentang TBC Usus Bagian Ketiga
Perbandingan hasil rontgen pertama dan kedua

Saya: Tapi dokter saya enggak batuk-batuk.
Dokter Hengky: Nah, ini pengertian yang salah. Kebanyakan orang menyangka kalau TBC itu hanya ada di paru-paru. TBC itu banyak macamnya Evi, ada TBC kulit, TBC tulang, dan lain-lain.
Saya: Oh gitu *tampang agak cengo*
Dokter Hengky: Saya sebagai dokter bedah sih ya penginnya kamu dioperasi aja. Hahaha … Beberapa kasus karena TBC Usus dioperasi malah menyebabkan bekas operasinya basah dan bisa infeksi usus. Penderita TBC Usus yang parah mempunyai usus yang lengket dan lurus.
Saya: Hiii … saya enggak mau dioperasi, Dok.
Dokter Hengky: Makanya saya enggak menyarankan dioperasi. Saya bikin rujukan kamu ke dokter TBC saja. Biasanya kalau TBCnya terobati, sakit perutnya akan jauh berkurang.
Saya: *ngangguk-ngangguk*

Masih menurut Dokter Hengky, diagnosa TBC Usus itu sulit ditegakkan. Dalam beberapa kasus foto rontgen paru-paru enggak memberikan tanda-tanda adanya penyakit TBC bahkan ketika dilakukan dahak dan USG. Seperti dalam kasus saya, semua pemeriksaan organ tubuh dan darah normal dan sehat. Bahkan ketika USG pun hanya terindikasi adanya penebalan rahim karena radang. Penyebab radangnya enggak diketahui. Pemeriksaan tersebut juga enggak membuktikan apa-apa selain dugaan bahwa saya mungkin terkena TBC Usus.

Agar diagnosanya tegak dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut seperti CT Scan atau operasi untuk mengambil sample usus.

Cerita tentang TBC Usus bersambung ke bagian keempat.
Previous
Next Post »

9 komentar

Write komentar
El Nurien
AUTHOR
19 April 2015 01.22 delete

oh gitu,, baru mulai paham tentang tbc usus.. taunya tbc paru-paru.

Reply
avatar
19 April 2015 12.38 delete

baru tahu ada tbc usus. semoga lekas sembuh ya, teh.

Reply
avatar
19 April 2015 18.35 delete

Sekarang gimana, Teh? Sudah baikan? Moga bener2 ilang ya itu bakterinya.. serem bisa kemana2..

Reply
avatar
Aprie Janti
AUTHOR
20 April 2015 22.20 delete

Epi sakit :(
Cepet sembuh yah, Epi.. Semoga kembali pulih.

Reply
avatar
26 Mei 2015 03.56 delete

Masih ada beberapa jenis lagi selain TBC usus dan paru-paru

Reply
avatar
26 Mei 2015 04.01 delete

Sekarang masih dalam proses penyembuhan masuk bulan ketiga. Makasih doanya ^^

Reply
avatar
26 Mei 2015 04.02 delete

Makasih Aprie, kamu juga sehat-sehat ya :)

Reply
avatar
2 November 2015 22.45 delete

Saya juga baru didiagnosa tbc usus kemarin, apa benar obat tb gratis?

Reply
avatar