Saturday, April 18, 2015

Cerita Tentang TBC Usus: Tips Menginap di Rumah Sakit

Cerita Tentang TBC Usus Bagian Kedua
Sakit perut karena TBC Usus


Hari pertama di rumah sakit, saya menjalani tiga tes untuk mengetahui apa benar saya sakit usus buntu, Pertama, saya diambil darah dulu sebanyak dua tabung kecil. Saking takutnya lihat jarum, saya tutup mata saja selama proses ini. Iya, saya enggak pernah donor darah sebelumnya, karena berat badan saya selalu kurang atau tekanan darah rendah.

Sambil menunggu hasil tes darah, saya diminta memasukkan urine ke dalam tabung kecil buat tes. Setelah itu baru tes darah di daerah telinga. Hasil tes ini enggak langsung keluar, mesti nunggu besok harinya.


Selain kedua tes tersebut, saya juga harus rontgen dan USG. Sejak jam 12 malam, saya harus puasa. Boleh minum air putih tapi enggak boleh minum atau makan yang lain-lain. Oh ya, selama ada di rumah sakit, perut saya enggak sakit. Kata susternya, itu karena ada cairan penahan rasa sakit yang disuntikan melalui lubang infus ke dalam tubuh saya. Rasanya saya sehat banget deh selama dua hari itu *\^^/*

Yang namanya menginap di rumah sakit, pasti beda banget rasanya dari rumah. Biar si sakit nggak tambah sakit, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan buat menginap di rumah sakit. Ini dia persiapan peralatan menginap di rumah sakit:

Pertama, baju ganti. Usahakan baju ganti yang menyerap keringat dan nyaman di badan. Ingat juga kalau lagi diinfus, jangan sampai baju yang dipakai mengganggu jalannya infus. Bisa-bisa darah si sakit naik ke atas.

Kedua, sandal jepit. Kalau kamu menginap di rumah sakit dan menggunakan toilet bersama, usahakan selalu menyiapkan sandal jepit biar kakinya bersih ketika kembali ke tempat tidur. Selain itu, memakai sandal jepit yang bersih ya, biar sesama penghuni kamar tetap nyaman menggunakan toilet.

Ketiga, bantal dan selimut tambahan. Selimut rumah sakit biasanya tipis, kamu bisa menyiapkan selimut tambahan buat si sakit. Biar si sakit nyaman, kamu juga bisa bawa bantal tambahan misalnya buat tangan biar enggak gerak-gerak.

Keempat, alat mandi dan handuk. Siapkan alat-alat mandi seperti sikat gigi, pasta gigi, sabun pencuci muka, sabun badan, dan handuk. Biasanya rumah sakit enggak menyiapkan peralatan ini. Kalaupun si sakit belum kuat mandi, bisa bersih-bersih muka dan sikat gigi.

Kelima, alat komunikasi. Siapkan gadget dan charger agar si sakit bisa berkomunikasi denganmu atau dengan keluarga dan para sahabat. Tetap awasi si sakit untuk menggunakan alat komunikasi seperlunya saja, takutnya malah pusing kepala.

Keenam, alat-alat hiburan. Bukan cuma yang menunggui si sakit yang merasa bosan, si sakit juga bisa merasa bosan atau stres. Siapkan alat-alat hiburan seperti buku novel atau komik, atau apa saja yang biasa si sakit sukai tapi yang praktis saja ya. Jangan lupa buat awasi si sakit agar tetap beristirahat dengan cukup.

Kembali ke cerita saya. Setelah puasa semalaman, paginya, saya disiapkan untuk USG. Sebelumnya, saya diantar ke tempat rontgen. Saya di-rontgen bagian dada saja. Lalu saya diminta untuk minum air putih banyak-banyak, ketika saya ingin pipis, saya di USG. Dokter bagian USG menanyai gejala sakit saya. Beliau agak kebingungan karena tidak bisa menemukan letak usus buntu saya.

Siangnya, saya sudah boleh makan seperti biasa. Tepat jam satu siang, Dokter Hengky (Dokter bedah) mengunjungi saya dan memberitahukan seluruh hasil tes saya.

Dokter Hengky: Evi, hasil tes kamu sudah keluar.
Saya: Gimana hasilnya, Dok?
Dokter Hengky: Semua tes kamu hasilnya bagus. Leukosit kamu normal. Biasanya kalau yang sakit usus buntu, leukositnya tinggi. Jadi hasil tes darah dan urine kamu normal semua. Hasil USG juga enggak ada apa-apa. Organ dalam kamu sehat-sehat saja. Memang ada sedikit penebalan rahim di bagian kanan, jadi ada radang tapi enggak berbahaya. Enggak ditemukan kista atau tumor juga. Emm … tapi paru-paru kamu sedikit bermasalah. Ada TBC aktif di sana, walaupun sejauh ini enggak berbahaya.
Saya: Usus buntu saya gimana, Dok?
Dokter Hengky: Usus buntu kamu enggak kelihatan karena tertutup cairan dan gas. Tapi ya dari hasil tes darah, usus buntu kamu sehat, kok ^_^
Saya: Jadi saya boleh pulang?
Dokter Hengky: Karena hasilnya baik-baik saja, kamu boleh pulang. Saya kasih resep obat. Dua minggu lagi kamu chek up ke saya, ya ^^
Saya: Yeay!

Sore itu juga saya pulang ke rumah berhubung enggak betah di rumah sakit. Yaelah siapa sih yang betah di rumah sakit? Saya membawa oleh-oleh tiga jenis obat yang harus dimakan setiap hari. Obat pembunuh bakteri, obat penahan sakit, dan obat maag.

Cerita tentang TBC Usus bersambung ke bagian ketiga. 
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

7 comments:

  1. suka kasih penasaran rupanya ^-^

    ReplyDelete
  2. lalu sakit perutnya itu kenapa? ._.

    ReplyDelete
  3. di rs memang suka penat kalau nggak ada gadget ya :)
    wah, selamat. hasilnya baik-baik saja..

    ReplyDelete
  4. Hasilnya nggak baik-baik aja :(

    ReplyDelete
  5. Saya jg skr mengidap tbc usus baru sebulan ini . Sedih bgt rasanya :'(

    ReplyDelete