Wednesday, February 18, 2015

Tak Ada Dua Raja Dalam Satu Negara

Perang Raja-raja
Perang Raja-raja - sumber

Nak, sambil menunggu kepulanganmu, sambil menghangatkan masakanku yang akan kita santap malam ini, kutulis sebuah surat. Surat untuk anakku yang telah bertumbuh menjadi pria dewasa.

Ibu hendak mendongeng tentang kerajaan-kerajaan di masa silam. Tentu kau pernah membacanya sekilas dalam buku pelajaran sejarah. Ibu tak kan menyebutkan nama kerajaan mana, biar kautebak saja.


Alkisah di suatu Negara, berdiri sebuah kerajaan yang digdaya. Tanahnya subur, hasil alam tumpah ruah, masyarakatnya makmur sejahtera. Di pusat kota, berdiri istana megah, berhias emas dan batu permata. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Seorang Ratu cantik nan baik hati mendampinginya.

Suatu hari, sang raja ingin mengunjungi rakyatnya. Berangkatlah ia bersama penasihatnya, mereka menyamar sebagai rakyat jelata. Berdua mereka menyusuri kampung demi kampung, sampai akhirnya kehabisan perbekalan.  Saat itu raja sangat kelelahan, duduklah ia di bawah pohon sementara pengawalnya mencari sekendi air. Tak berapa lama, melintaslah seorang wanita jelita. Karena kasihan, perempuan itu menawarkan pelepas dahaga. Raja terpana karena kecantikan dan ketulusannya.

Ketika kembali ke istana, Raja membawa serta perempuan tersebut dan menjadikannya selir. Ratu tak bisa berbuat apa-apa, seorang Raja berhak meminang siapa saja. Sampai bertahun-tahun, keadaan istana damai sentosa. Ratu dan Selir menjadi teman berbagi cerita. Keduanya memperoleh seorang putra.

Waktu berputar dengan cepatnya, Raja telah menjadi tua. Siapapun tahu, siapa penerus Raja, sang putra mahkota, anak kandung Ratu tentunya.

Anakku, kerajaan makmur subur itu menawan setiap hati untuk memilikinya. Tak terkecuali kedua putra Raja. Muslihat berkembang serupa bunga di padang rumput. Kerajaan terpecah menjadi dua bagian, siapa menawarkan untung, dia yang beruntung. Tipu daya menyebar seperti wabah. Tak ada yang bisa dipercaya, tak ada yang bisa dipegang ucapannya. Curiga mencurigai adalah makanan sehari-hari.

Negara subur itu menjadi saksi tumpah darah kedua saudara. Tombak dan panah menancap di jantung mereka. Merenggut nyawa seolah tak bermakna. Daging manusia menjadi pupuk bagi tanah kaya. Raja, Ratu, dan Selir telah habis air mata, menangisi kematian dua calon Raja. Hari naas itu dikenang sebagai perang Raja-raja.

Nak, barangkali hati wanita bisa menerima ketika kau berbagi ruh dan tubuh. Namun kau tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak ada dua raja dalam satu Negara, seperti tak ada dua Ratu dalam satu hati. Satu tetap lebih baik dari dua, karena dua bisa memusnahkan segala.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

12 comments: