Hanya Satu Pertemuan

Credit

Selamat sore, El-Carronte.

Saat ini mataku sedang terpejam membayangkan sosokmu yang telah lama hilang. Rambutmu yang keriting dan panjang. Alismu yang tebal dan tajam. Tubuhmu yang kurus namun tetap terlihat jantan. Juga bibirmu yang manis dan hitam. Lalu … ah, aku tak ingat benar.


Saat ini pikiranku ingin sedikit mengenang. Sekadar berselancar ke masa silam. El, ingatkan aku tentang pertemuan pertama kita, meskipun sungguh tidak berkesan. Waktu itu, grup teaterku sedang mengadakan pertunjukan. Bersama teman-temanmu kau datang menyaksikan. Pertunjukan yang membosankan. Kau datangi aku demi memuaskan mulutmu yang gatal ingin berkomentar. Perkenalan yang menyebalkan.

Dalam rentang waktu yang panjang, kau dan aku saling mengenal. Katamu, wajahku tak rupawan. Katamu, kau terpikat isi kepalaku yang berangasan. Kuberi tahu sebuah rahasia, aku tahu benar cara memikatmu. Satu hal yang baru kusadari, kau juga tahu betul cara mengikatku. Aku perempuan yang cepat bosan, bersamamu kulewatkan dua puluh empat bulan. Katakanlah kenyataan itu mirip keajaiban.

El, keajaiban tak sering datang dalam kehidupan. Maafkan aku yang lekas berpaling dan berganti hati. Tenang saja, lelaki yang merenggutmu dariku hanya sekadar selingan. Hanya Tuhan yang tahu, kenapa dulu aku bisa begitu kejam.

El, katakan padaku, apa yang paling berkesan dari pertemuan pertama? Bagiku tak pernah ada. Kenangan tak bermula dari satu pertemuan. Namun harus kuakui ada satu pertemuan pertama yang tak lekang dalam ingatan. Pertemuan pertamamu dengan Dewa Kematian.

El, tolong sampaikan pada Dewa Kematian, pertemuan pertamamu dengannya telah menjadi titik balik satu kesadaran. Dosa paling nista adalah saat cinta tersia-siakan. El, setiap yang hidup hanya butuh sekali pertemuan dengan malaikat pencabut nyawa. Pertemuan pertama penuh kengerian, pertemuan pertama penuh ketenangan. Tolong sampaikan pada Dewa Kematian, pilihkan waktu ketika aku bisa tersenyum dan melihat sosokmu menyongsong di gerbang. Gerbang kedamaian.
Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
5 Februari 2015 04.27 delete

wah cerita yang memilukan hik hik hik ,,,

Reply
avatar
Fikri Maulana
AUTHOR
5 Februari 2015 04.37 delete

Keren kak, suka banget :)

Reply
avatar
5 Februari 2015 22.54 delete

Evi, tulisannya selalu keren :)

Reply
avatar
9 Februari 2015 03.10 delete

Makasih Mbak Lianny :)

Reply
avatar