Disi

Disi


Disi terbangun dengan seorang lelaki tengah tertidur di sampingnya. 

“Aaaargh! Siapa kamu?” teriak Disi membuat Dion tersadar seketika. Dia memeriksa seluruh bajunya, syukurlah pakaiannya masih utuh.

“Ini Dion, Si,” ucap lelaki itu lembut.

“Kenapa saya ada di sini? Saya tidak mengenal kamu!” ujar Disi masih histeris.

“Kamu tidak ingat kejadian kemarin?” tanya Dion heran.

Disi mencoba mengingat-ingat namun gagal. Diraihnya sebuah gunting untuk melindungi diri.

“Ini di mana? Kamu mau apa sama saya?” Disi mengacung-acungkan gunting ke arah dada Dion.

“Tenang Si, tenang. Saya tidak berniat menyakiti kamu. Kita enggak ngapa-ngapain, Cuma ngobrol semalaman,” jelas Dion

Tubuh Disi bergetar hebat sehingga dengan mudah Dion bisa merampas gunting dari tangannya. Disi menangis meraung. Dion segera menyerahkan air putih untuk menenangkannya. Perempuan itu kini meringkuk di sudut kamar.

Setelah Disi cukup tenang, Dion menceritakan kejadian kemarin. Pertemuan pertama Dion dengan Disi bisa dibilang seperti adegan dalam sinteron. Keduanya sedang berada perpustakaan kampus. Dion hendak keluar, sementara Disi baru saja akan masuk. Tubuh mereka bertabrakan dan buku-buku yang dipegang Disi berhamburan.

Sebagai permintaan maaf, Dion mengajaknya minum kopi. Mereka berdua berbincang sampai kafe tutup kemudian melanjutkannya di tempat Dion sampai ketiduran.

“Disi? Tapi nama saya Desi bukan Disi!” ucap Disi lebih kepada dirinya. “Saya tidak suka kopi dan buku. Saya … saya harus pergi sekarang!”

Disi meraih tasnya, lalu berlari pergi. Dion hanya bisa terhenyak memandangi punggung Disi hingga menghilang. Mungkin dia punya dua kepribadian, batin Dion.

Aktingku sudah meyakinkan, siap untuk pertunjukan teater. Buktinya, Dion orang kedua yang tertipu, ucap Disi dalam hati.

Happy Birthday Monday Flash Fiction

Flash fiction ini dibuat untuk memperingati hari ulang tahun Komunitas Monday Flash Fiction yang kedua ^_^
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

14 comments:

  1. Mba evi .. Aku banyak pertanyaan.motifny desi apa?ngambil duitnya ya?:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karakter yang menunjukkan sikap antagonis..

      Delete
    2. Motifnya latihan teater hehehe

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih sudah menyimak ya, Mas :)

      Delete
  3. huum motif desi atau disi apa? gak mudeng hehe

    ReplyDelete
  4. yah,saya juga tertipu,ternyata fiksi ya hehehe

    ReplyDelete
  5. Bangke!!! Latihan kok sama orang asing. Pfftt.

    Twistnya tapi kurang greget dikit Vi, dikit lagi ... hampiir nih .... :D


    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya emang Va, aku juga ngerasa nggak greget >.<

      Delete
  6. paragraf terakhirnya kurang nendan buat jadi twist meskipun sebetulnya motif si disi ini menarik hehe. dan kalo buat saya lebih masuk akal lagi kalo si dion justru gelagapan karena si disi ini kok semacam punya kepribadian ganda. komentar dion terlalu datar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Linda, saya juga ngerasa kurang nih endingnya. Makasih masukannya :)

      Delete