Prompt #38: Rindu

Credit

Anila terus berlari. Dia tahu waktunya sempit. Berlari di antara belukar, bebatuan, dan duri. Beberapa kali dia terjatuh. Gaunnya tercabik. Anila tidak peduli, yang ada dalam pikirannya cuma satu: Panji.
***

Panji terus berlari, menembus kabut dan hujan. Matanya hanya bisa menangkap jarak sepuluh meter saja. Beberapa kali kakinya terantuk akar, celananya sobek beberapa bagian. Panji tidak peduli, yang ada dalam pikirannya hanya satu: Anila.
***


Anila merapalkan doa dalam hati, semoga waktu berpihak padanya. Semoga kereta yang menjemput kekasihnya datang terlambat. Semoga kakinya bersayap dan membawanya terbang. Atau semoga ada badai yang menerpa desa lelakinya hingga menunda keberangkatan kekasihnya menuju negeri seberang.
***

Panji merapalkan doa dalam diam, semoga takdir memihaknya. Semoga kencana yang membawa calon suami kekasihnya diserang gerombolan pencuri. Semoga ada keajaiban yang membuat kakinya berlari secepat cahaya. Atau semoga istana megah tempat perempuannya menikah terbakar hingga pernikahannya dihentikan.
***

Anila tahu harapannya sia-sia. Dia tahu apa yang dilakukannya percuma. Tapi dia tak kuasa menghentikan degup jantungnya yang bergemuruh karena rindu. Lebih baik jantungnya berhenti berdetak daripada melepaskan cinta sejatinya.
***

Panji tahu asanya kosong. Dia tahu apa yang diperbuatnya tak berguna. Tapi dia tak bisa menipu hatinya. Nyeri yang dirasakannya setiap mengenang senyum Anila. Lebih baik hatinya membusuk daripada menipu diri seumur hidup.
***

Anila merasa hutan tempatnya berjibaku dengan peluh memiliki ruh. Ruh-ruh pohon yang membimbing kakinya bergerak. Di hadapannya terbentang lapangan kosong. Di sana, matanya menangkap bayangan kekasihnya. Ini pasti mimpi.
***

Panji merasa hutan tempatnya bertarung dengan insting memiliki jiwa. Jiwa-jiwa bumi yang membimbing kakinya melangkah. Di hadapannya terbentang lahan melompong. Di sana, penglihatannya menancap pada bayangan perempuan. Ini pasti kejaiban.
***

Anila berlari. Panji berlari. Menyambut hangat satu sama lain. Berpelukan. Seolah waktu berhenti. Semesta merestui.

Terdengar tepuk tangan riuh memenuhi arena teater. Beberapa penonton berdiri. Ada yang menghapus air matanya, ada yang mencibir.


Lea dan Bimo menunduk bersamaan, memberikan penghormatan pada penonton. Tangan mereka erat menggenggam satu sama lain. Ini malam terakhir pertunjukan. Besok mereka akan kembali ke kota masing-masing. Kembali kepelukan pasangan masing-masing. Diam-diam mereka berdoa, seandainya drama yang mereka mainkan menjadi kenyataan.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

26 comments:

  1. wah, ternyata pementasan drama toh...dan endingnya itu loh...ternyata mereka sama-sama suka ya...

    ReplyDelete
  2. Wah cinlok ini ya vi. Tapi aku uda dempet hanyut pada adegan-adegannya :)

    ReplyDelete
  3. sepertinya saya kesulitan memahaminya bos, hehehe.........

    ReplyDelete
  4. Aahh..aku udah asik di dunia dongeng.. hehe. Berhasil :D

    ReplyDelete
  5. aih, ending-nya jadi 'twist'! XD
    keren banget kak! :D

    ReplyDelete
  6. wuedan, cinlok di panggung? pantes begitu menghayati peran! wahahaha

    ReplyDelete
  7. Gambarnya mendukung cerita bgt, jadi terbawa deh sama cerita teaternya :)

    ReplyDelete
  8. Keren Vi, kirain fan fiction, Twist endingnya asik nih

    ReplyDelete