Problem Kemalasan


Malas-Giat

Loha Eva,
aku sudah baca suratmu tentang "Perkara Menunggu", oke, aku jadikan catatan. Semoga lain kali aku enggak membuatmu menunggu (lama). Baiklah, kita lupakan soal tunggu-menunggu. Aku akan kembali mengungkit tema lama kita, seputar bosan ditambah malas.

Semalam, aku mengisi sharing di grup What'sapp LOBALOID, temanya tentang strategi menawarkan naskah ke penerbit. Salah satu teman bertanya padaku, "Pernah nggak bosan nulis? Lalu bagaimana menyiasatinya?" 

Pertanyaan yang sering kuterima. Jawabannya pun selalu sama, "Pernah. Biasanya kalau lagi bosan atau jenuh nulis, aku main game, nonton film, baca buku, jalan-jalan, atau ngeblog."

Jawabanku dipatahkan dengan manis oleh teman yang lain. Panggil saja dia, Mas Yan. Beliau orang yang mendapatkan kebijaksanaan lewat pengalaman. Berikut aku kutip kembali pernyataan beliau.

"Seperti Evi, saya pernah juga merumuskan problem saya dalam proses menulis adalah 'bosan menulis'. Belakangan saya sadar bahwa rumusan itu nggak bener. 

"Tak pernah ada jalan keluar atas kebosanan kepada sesuatu yang kita senangi. Tak pernah ada jalan keluar atas kebosanan kepada profesi kita sendiri. Tak pernah ada jalan keluar atas kebosanan kepada hak dan kewajiban kita.

"Yang sering kita kira sebagai 'jalan keluar' atas kebosanan terhadap hal-hal tadi ternyata tak lebih dari pelarian saja. Misal, kita mengira kita bosan menulis maka solusinya adalah jalan-jalan atau nonton bioskop. Cobalah timbang lagi, apa betul jalan-jalan atau nonton bioskop dapat mengatasi kita terhadap menulis? Saya kira, tidak.

"Jalan-jalan, makan-makan, nonton bioskop bukanlah jalan keluar atas 'kebosanan kita terhadap menulis'. Semua kegiatan itu adalah pengalihan perhatian saja; dan mungkin pelarian saja dari problem sesungguhnya yang kita hadapi dalam menulis. 

"Jadi, ketika saya mulai sadar bahwa rumusan saya keliru, maka saya tak pernah menyebut problem saya sebagai 'bosan menulis'. Saya, dan juga Anda, seharusnya lebih jernih merumuskan problem dalam proses kreatif kita. Bisa jadi, promblemnya adalah badan kita capek. Jalan keluarnya jelas: istirahat.

"Bisa jadi,  problem kita adalah menghadapi kebuntuan dalam menulis, tak punya ide. Solusinya adalah mengelaborasi gagasan. Bisa jadi problemnya adalah kekurangan bahan, maka solusinya adalah riset. Tapi ketika kita merumuskan problem kita adalah 'bosan' atau 'jenuh', jadi tidak pernah mendapatkan solusi."

Aku kemudian bertanya, "Tapi masalah besarnya memerangi rasa malas."

"Malas itu bukan masalah, Evi. Malas itu pilihan. Kalau memilih malas, ya tanggunglah pahalanya. Kalau memilih giat, ya terimalah akibatnya. Kita nggak bisa mendapatkan arah kanan jika kita memilih arah kiri di perempatan jalan," jawab beliau.

Sungguh, Va. Ucapan-ucapan Mas Yan itu menohok sekali. Menohok karena sekarang aku mengamininya. Benar. Kadang kebenaran menyakitkan jika dikatakan. Selama ini aku suka malas, bosan, dan jenuh menulis. Problemnya karena aku enggak bisa melihat masalahnya di mana. Mungkin masalahku sebenarnya enggak fokus, mungkin juga enggak bisa bagi waktu.

Selain persoalan menulis, ucapan Mas Yan bisa diterapkan pada profesi apa saja. Pada hal apa saja.  

Malas itu pilihan, bosan itu pelarian. Dalam kamus profesi, malas dan bosan harus dihapus. Kita mesti profesional, ada orang yang membayar kita. Ada yang mempertaruhkan sesuatu pada kita. Apa jadinya kalau aku memilih malas? Pastinya enggak akan ada penerbit percaya dan mau menerima karyaku. Jadi kenapa aku enggak menikmati saja profesiku? Dari pada terus mencari pembenaran mending cari solusi yang tepat. Akan menjadi tepat kalau sudah jernih melihat masalahnya. 

Dulu sekali, seorang teman pernah bilang padaku, orang menjadi sukses karena mengorbankan hal yang paling menyenangkan di dunia, 'kemalasan'.

Aih, suratnya berisi petuah ya? Huahahaha.... Hanya mau berbagi denganmu apa yang kudapat tadi malam. Nggak sabar baca balasan darimu ^_^

Salam semangat,
Evi yang ingin memilih giat.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

12 comments:

  1. Hai, postingan yang bagus. Ijin blogwalking ya :-)
    Ada info lomba seru nih, kamu bisa cek ini dan ini
    Makasih sebelumnya :)

    ReplyDelete
  2. *ikutan tertohok sekaligus tertampar*

    post yang bermanfaat, sebagai orang yang suka terlena dalam kemalaan, saya menghaturkan ucapan terima kasih buat ceu Evi dan Mas Yan - yang mendapatkan kebijaksanaan lewat pengalaman. *sungkem*

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru nyadar udah typo. "kemalasan" bukan "kemalaan" *palm face* x'))

      Delete
  3. wew .... ini surat terpenting yang pernah kubaca dalam dua belas hari menulis surat.

    ReplyDelete
  4. Bikin aku jadi semangat lagi nih vi.

    ReplyDelete
  5. Suka isi suratnya. Bagus banget...bisa jadi 'cambuk' buat yang masih suka malas-malasan (kayak aku). Maksih buat sharing suratnya, ya...:)

    ReplyDelete
  6. wahhh bner bgt solusinya adalah istirahat, banyakin olahraga juga lho biar badan ikut fresh nggak cuma otak doang :)

    ReplyDelete