Monday, January 20, 2014

Kunci Menulis Fiksi Tasaro GK Bagian 2

Mas Tasaro GK dan Pak Deden (CEO Noura Books)

Artikel ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian materi yang saya dapat di Noura Books Academy. Bagi kamu yang mengikuti artikel demi artikel ini, pasti rasanya seperti menunggu sekuel film yang enggak muncul-muncul :D

Mas Tasaro GK punya 7 Kunci Menulis Fiksi bisa dibaca di sini. Kunci menulis Mas Tasaro GK berikutnya adalah #5+1 (baca lima plus satu). Unik ya? Apa saja itu?

#5 adalah lambang dari panca indra manusia. Seperti yang kita tahu, terdiri dari mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah. Kita bukan mau belajar biologi, ya.

Kelima panca indra kita memiliki fungsi masing-masing. Mata berfungsi untuk melihat, telinga berfungsi untuk mendengar, hidung berfungsi untuk mencium, lidah berfungsi untuk merasa, dan kulit berfungsi untuk meraba. Intinya, dengan kelima panca indra, sebagai penulis, kita dituntut untuk peka.

Untuk memaksimalkan kelima panca indra kita, dibutuhkan indra keenam yang disebut koneksitas. Koneksitas adalah bagaimana kita menyelaraskan dan menggabungkan kelima panca indra kita. Selain itu, penulis juga harus menggabungkan pengalaman empirisnya, seperti wawasan yang didapat dari membaca, menonton, atau pengalaman kehidupan.

Ingat, kita buka bukan hanya menggunakan panca indra tapi melakukan pengindraan. Proses mengindrakan sesuatu pada pembaca kita.
 
Sebenarnya #5+1 ini mirip latihan dasar teater. Hanya beda istilah saja. Dalam dunia teater ada yang namanya latihan olah sukma, dimana kita melatihan kepekaan kelima panca indra dan imajinasi.

Terlihat sulit? Tidak juga. Mari kita praktikan.

#1 Penglihatan

Perhatikan keadaan disekeliling kita. Tajamkan matamu, lihatlah objek-objek yang ada disekitarmu.

Latihan 1:
Buat daftar objek-objek yang kamu lihat.

Contoh:
Gelas, foto, meja, helm, laptop, dan lain-lain.

Latihan 2:
Setelah membuat daftar objek, buatlah kalimat yang mendeskripsikan objek tersebut. Buatlah kalimat yang membuat pembaca bisa melihat apa yang kamu lihat.

Contoh:
Foto
Sebuah gambar berpigura kayu berwarna coklat minimalis, memperlihatkan dua orang laki-laki dan dua orang perempuan sedang tersenyum bahagia.

#2 Pendengaran
Pejamkan matamu. Konsentrasilah pada apa yang kamu dengar. Tajamkan telingamu untuk beberapa saat.

Latihan 1:
Buat daftar suara-suara yang kamu dengar.

Contoh:
Suara angin, suara orang-orang sedang mengobrol, bunyi percikan air, bunyi gelas beradu, dan lain-lain.

Latihan 2:
Setelah membuat daftar suara-suara yang kamu dengar, buatlah kalimat yang mendeskripsikan suatu peristiwa yang memiliki efek bunyi. Buatlah kalimat yang membuat pembaca bisa mendengar apa yang kamu dengar.

Kalau kamu kesulitan mendeskripsikan bunyi sesuatu, analogikanlah dengan bunyi yang lebih familiar bagi pembaca.

Contoh:
Suara orang-orang sedang mengobrol
Perempuan itu meninggikan suaranya persis seperti terompet tahun baru, sementara lelaki di sebelahnya berdehem kecil nyaris selembut belaian angin menerpa rambut.

#3 Penciuman
Boleh memejamkan mata atau menutup telinga, atau keduanya. Konsentrasilah pada apa yang kamu cium. Tajamkan hidungmu untuk beberapa saat.

Latihan 1:
Buat daftar bau-bauan yang kamu cium.

Contoh:
Harum bunga, bau tanah, aroma kopi, bau kertas terbakar, bau lantai, dan lain-lain.

Latihan 2:
Setelah membuat daftar bau-bauan yang kamu cium, buatlah kalimat yang mendeskripsikan suatu peristiwa yang memiliki efek bau. Buatlah kalimat yang membuat pembaca bisa mencium apa yang kamu cium.

Kalau kamu kesulitan mendeskripsikan bau sesuatu, analogikanlah dengan bau yang lebih familiar bagi pembaca.

Contoh:
Bau lantai
Lantai dalam ruangan ini menguarkan aroma bunga mawar, mungkin baru saja dipel.

#4 Perasa/ Pengecap
Cobalah beberapa makanan atau minuman. Konsentrasilah pada apa yang kamu rasakan. Tajamkan lidahmu untuk beberapa saat.

Latihan 1:
Buat daftar rasa-rasa yang kamu kecap.

Contoh:
Rasa kopi, rasa nasi, rasa ayam goreng, rasa wedang jahe, dan lain-lain.

Latihan 2:
Setelah membuat daftar rasa-rasa yang kamu kecap, buatlah kalimat yang mendeskripsikan rasa tersebut. Buatlah kalimat yang membuat pembaca bisa merasakan apa yang kamu kecap.

Kalau kamu kesulitan mendeskripsikan rasa sesuatu, analogikanlah dengan rasa yang lebih familiar bagi pembaca.

Contoh:
Rasa kopi
Setelah beberapa saat mengulum kopi buatannya, ada rasa buah nangka matang. Manis, asam, kesat, dan pahit menyatu di dalamnya.

#5 Peraba
Cobalah raba permukaan-permukaan yang ada di sekitarmu. Konsentrasilah pada apa yang kamu rasakan. Tajamkan kulitmu untuk beberapa saat. Bukan saja, tekstur permukaan tetapi juga suhunya. Karena ini menggunakan kulit, kamu boleh memakai kaki, tangan, pipi, dan lainnya.

Latihan 1:
Buat daftar barang yang kamu raba.

Contoh:
Lantai, laptop, meja, kasur, rambut, dan lain-lain

Latihan 2:
Setelah membuat daftar barang yang kamu raba, buatlah kalimat yang mendeskripsikan rasa tersebut. Buatlah kalimat yang membuat pembaca bisa merasakan apa yang kamu raba.

Kalau kamu kesulitan mendeskripsikan rasa sesuatu, analogikanlah dengan rasa yang lebih familiar bagi pembaca.

Contoh:
Rambut.
Rambutnya lurus seperti benang, lembut seperti sutra, dan panas seperti donat yang baru saja diangkat. Kemungkinan baru saja menggunakan alat pelurus rambut.

Buatlah perumpaan sekreatif mungkin.

#6 Koneksitas
Seperti yang dijelaskan di atas, koneksitas adalah bagaimana kita menyelaraskan dan menggabungkan kelima panca indra kita, dan juga menggabungkan pengalaman empiris, seperti wawasan yang didapat dari membaca, menonton, atau pengalaman kehidupan.

Contoh:
Kalimat 1:
Anila ingin tampil menawan untuk pergi ke pesta Bara, pujaan hatinya. Dipersiapakannya alat-alat perang seperti make up dan gaun cantik.

Kalimat 2:
Sejak pagi, Anila mengolesi kukunya dengan cat berwarna hitam. Berwarna senada gaunnya yang berlekuk dibagian pinggang. Warna hitam ini menyamarkan tubuh gemuknya. Ditambahkannya scarf berwarna merah agar memberi kesan gothic. Rambutnya sengaja diurai, menutupi pipinya yang gembil. Dipulasnya pewarna pipi dan shadow berwarna merah tipis-tipis. Sebagai penyempurna, diguratkannya pensil alis hitam di sekitar mata. Tak lupa dikenakannya sepatu hitam bertumit lima senti, membuatnya tampak lebih tinggi. Kini dia siap mendatangi pesta Bara, sahabat sekaligus cinta pertamanya.

Apa bedanya kalimat pertama dan kedua?
Kalimat pertama hanya memberi informasi bahwa Anila mau pergi ke pesta Bara dengan memakai gaun dan make up. Kalimat kedua memberikan informasi lebih bagi pembacanya, bahwa Anila bertubuh gemuk dan pendek. Paling penting, pembaca diberitahu bagaimana menyiasati penampilan untuk yang bertubuh gemuk dan pendek.

Inilah kunci koneksitas. Bagaimana penulis memberikan wawasan yang dia tahu kepada pembacanya tanpa terasa menggurui atau seperti membaca artikel.

Koneksitas bisa membuat tema yang biasa menjadi luar biasa. Seperti yang kita tahu, tema cinta adalah tema yang paling banyak dipakai oleh penulis. Maka kita harus pintar-pintar menjadikan suatu tema menjadi menarik dan terasa beda.

Catatan: Materi ini telah disarikan dan diterjemakan secara bebas oleh saya, jika ingin lebih jelas, bisa langsung bertanya pada Mas Tasaro GK.

Profil Tasaro GK

Tasaro G.K. lahir di Jogjakarta (Gunung Kidul), pada tanggal 1 September, 1980. Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). 

Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

19 comments:

  1. hrs lgsg dcoba nih..
    makasih udah dshare :)
    iya betul, lama bgt nunggu lanjutannya :p

    ReplyDelete
  2. pengandaiannya yg ane blm masuk -_-"

    tapi bagus juga artikelnya. makasih banget udah mw share ke kita ya..
    nubie pamit..

    @KataAwank

    ReplyDelete
  3. Kuncinya latihan, ya, Vi. Duh, kapan ya bisa ikutan workshop bareng doi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kelas menulis online gratisnya kok, Teh. Ikutan aja. Ada di facebook :)

      Delete
  4. Wah info penting hrs dicatat nih.. Thanks for sharing :)

    ReplyDelete
  5. mantaaap jadi semakin semangat untuk menulis :D

    ReplyDelete
  6. Bagus nih, harus sering dicoba biar semakin kreatif :))

    ReplyDelete
  7. 5+1 temuan yg mantabb..
    Kalo 1 nya jelek 5 nya membosankan dibaca. Kupikir begitu. Thanks!!

    ReplyDelete