Prompt #29: 27 Maret



Kata orang, waktu seperti terbang bagi mereka yang menikmati. Bagiku, waktu tak ubahnya seperti seorang nenek paranoid yang sedang menyebrang jalan. 
            
“Ada buku Sitti Nurbaya?” tanya seorang cowok berparas menarik yang entah kapan masuk ke dalam toko. Aku seperti mengenalnya. Tapi sudahlah, toh banyak orang yang datang dan pergi semenjak toko ini dialihtangankan kepadaku. Mungkin salah satu pelanggan.

       
“Ada,” jawabku singkat.
           
“Bukunya masih bagus?”
            
Malas menjawab pertanyaannya, aku bergegas menuju deretan rak yang memuat buku klasik Indonesia. Cowok itu mengikutiku dengan cepat. Sesaat dipandangi buku-buku itu. Dengan cekatan, tangannya mengambil buku yang ingin dibelinya. Dia berdecak kagum.
            
“Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Dari mana kamu mendapatkannya?”
            
“Kamu tadi masuk ke toko ini baca plang apa tidak?” tanyaku gemas.
           
Cowok itu hanya terkekeh canggung.
            
Roemah Boekoe Ayaib atau dibaca rumah buku ajaib, itu yang tertulis di plang tokoku. Memang sangat ajaib karena semua buku dari mulai era klasik hingga batas buku cetak diproduksi, tersedia di toko buku ini. Toko ini berlantai dua, luasnya tiga hektar. Sayangnya, aku tidak punya cukup uang untuk menggaji pegawai. Hanya aku yang berseliweran di sini. Tidak masalah, setiap inci tempat ini sudah seperti urat nadiku. Aku hafal betul buku apa saja yang tersedia dan di rak mana aku akan menemukannya.
            
“Ada kartu nama? Nomor telepon atau website tempat pembelian online?” tanya cowok itu setelah membayar buku.

Aku menggeleng.
            
“Sayang sekali. Mau aku bikinkan?”
            
“Tidak, terima kasih.”
           
“Kalau begitu, besok saya akan datang lagi bersama teman ke sini.”
            
“Besok tokonya tutup.”
            
“Kenapa?”
            
Aku berjalan membukakan pintu toko untuknya.
            
“Terima kasih sudah berbelanja di sini. Kapan-kapan datang lagi ya,” usirku halus.
            
Cowok itu mendekatiku, memandangku lekat.
            
“Buku ini untukmu,” ujarnya sambil menyerahkan buku Sitti Nurbaya.
            
“Lho, bukannya buku ini ingin kamu baca?”
            
“Buku ini rindu kamu baca. Toko ini, rindu kamu bersihkan. Sudah sangat berdebu. Toko buku ini juga butuh peremajaan.” Cowok itu menyisipkan buku di antara jariku.
            
“Aku akan menutup toko ini besok. Aku sudah punya bisnis yang baru.”
            
“Tindakan yang kurang bijaksana, Nona. Masih banyak yang mau membaca buku. Percayalah. Saya mau membantumu mengurusi toko ini.”

“Sampai jumpa,” tukasku seraya mendorongnya keluar.
            
Cowok itu pembual! Mana ada orang yang mau mendedikasikan hidupnya untuk toko mati ini. Zaman sudah beralih pada dunia digital. Aku saja sudah sangat bosan dengan buku, dengan toko buku. Rasanya seperti dikubur hidup-hidup dalam piramida.

Kulemparkan buku itu ke meja kasir. Sebuah foto meluncur dari dalam buku. Kuraih foto berwarna hitam putih pudar itu, kucermati, kemudian tertegun cukup lama.
            
Tanggal berapa ini? Kulirik jam tangan. Kupikir waktu sudah mati, ternyata dia masih melangkah dengan pasti. Hari ini tepat tanggal 27 Maret. Tanggal dimana Kakek membeli buku pertama kali dan jatuh cinta pada dunia literasi. Buku itu adalah Sitti Nurbaya! Ayah sering menceritakannya padaku. Aku tidak sempat bertemu dengan Kakek. Aku hanya mengenalnya lewat foto dan dongeng Ayah.

Kusapu ujung mataku yang berair. Foto yang kupegang itu adalah potret Kakek sewaktu muda. Aneh, cowok yang mampir tadi mirip Kakek. Ah, mungkin aku terlalu banyak membaca buku fantasi.


Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

25 comments:

  1. jika saat itu -yang tidak dikisahkan tahun berapa- zaman 'buku kertas' sudah digantikan dengan 'buku digital', 'mestinya sih nggak ada 'koleksi buku terbaru' dong. Buku terbaru pastinya dijual secara digital. Just a thought. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, betul. Terima kasih masukannya. Saya ubah sekarang :)

      Delete
  2. huhuhu aku suka nih flash fictionnya ^^

    ReplyDelete
  3. Jadi siapa si cowok ituh? Titisan si kakek kah? Jadi, akhirnya toko bukunya tetap buka apa di tutup? Misteri ahh misteri. Kalo ada elemen surprisenya lebih ngena nih. Plotnya teramat sederhana yah tapi diimbangi ama setting dan karakter si aku jadi cukup menarik. :D

    ReplyDelete
  4. ini udah diedit, ya mbak vi? bagus. kakeknya datang lagi untuk ngingetin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Isti, aku edit bagian yang dikasih masukan sama Mas Attar :)

      Delete
  5. Aduh, ternyata sang kakek yang datang :)

    ReplyDelete
  6. Ooh, pemuda itu semacam titisan kakeknya kah? bagus, ada pesan positif di balik cerita :)

    ReplyDelete
  7. Suka gaya penceritaannya! *dorong ide

    ReplyDelete
  8. mudah2an tidak jadi dituutp tokonya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ceritanya boleh dilanjut sendiri Mbak Lyd :)

      Delete
  9. pingin mampir ke toko bukunya...semua buku ada:). tentang tgl 27 maret, tanggal pertama kali beli buku, pasti ada kisah menarik dibaliknya, karna menjadi tanggal yg diinget. saya aja ga inget kapan pertama kali beli buku,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga enggak inget kapan tanggal pertama kali beli buku. Inget tahunnya aja :D

      Delete
  10. 'toko buku'-ku juga pake tokoh kakek tua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah baca, dan suka banget sama cerita Kaka :)

      Delete
  11. Replies
    1. Senangnya ada yang terharu baca ini T.T

      Delete