Prompt #17 : Hukuman

        
gudangotak(dot)com

        “Kami mengucapkan maaf sedalam-dalamnya dari pihak sekolah. Bapak Toni yang berperilaku buruk terhadap Rara sudah kami keluarkan dari sekolah,” ucap Pak Doni.


       “Syukurlah. Mau jadi apa generasi muda jika pengajarnya berkelakuan amoral seperti itu?!” kata Mama.

      Ruang tamu itu mendadak hening. Mama memandang tajam Pak Doni yang merupakan kepala sekolah SMA anaknya. Pak Doni menunduk dalam.

        “Tolong jangan sampai media tahu kasus ini ya, Bu.”

        “Bapak pikir, saya akan dengan tega mengumbar aib anak sendiri?!”

       Bulu kuduk Mama meremang. Membayangkan anaknya mesti diwawancara mengenai pelecehan yang dilakukan gurunya. Di negara ini, kaum perempuan tetap akan disalahkan. Bagaimana kalau anaknya dituduh menggoda lelaki jahat itu? Rara akan dipandang sebagai perempuan murahan! Belum lagi foto-foto tidak senonoh itu akan bertebaran di berbagai media cetak dan tv. Mau dibawa ke mana masa depan anaknya?

      “Maaf, saya tidak bermaksud begitu. Kami telah menghilangkan semua jejak yang dapat membahayakan kita semua. Foto-foto, kamera, dan laptop Pak Toni sudah kami hancurkan.”

     “Kalau tidak ada yang mau Bapak bicarakan lagi, silakan keluar. Saya tidak mau Rara terganggu dengan percakapan ini. Rara masih trauma!”

        “Sekali lagi, kami minta maaf, Bu.”

***
    Aku mendengarkan obrolan Mama dan Pak Doni dari kamar sambil menahan tawa. Akhirnya Pak Toni dikeluarkan juga dari sekolah! Skenarioku berhasil!

       Siapa yang sangka, akulah yang mencuri kamera dan laptop Pak Toni. Kupotret diri sendiri dalam berbagai pose seksi. Foto-foto itu kucetak dan simpan di meja kepala sekolah diam-diam.

        Wajahku yang ketakutan dalam foto itu berhasil menipu banyak orang.

       Habis, suruh siapa Pak Toni selalu menghukumku kalau ketahuan baca buku-buku detektif. Hi hi hi….
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

Selamat datang di dunia Evi Sri Rezeki, kembarannya Eva Sri Rahayu *\^^/* Dunia saya enggak jauh-jauh dari berimajinasi. Impian saya mewujudkan imajinasi itu menjadi sebuah karya. Kalau bisa menginspirasi seseorang dan lebih jauhnya mengubah peradaban ^_^

30 comments:

  1. rara nakal yah,,hehehe..

    salam kenal ;)

    ReplyDelete
  2. Rara kebanyakan baca buku detektif jadi kaya begitu T~T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dia bakat jadi penjahat di bukunya ;p

      Delete
  3. Sedikit bingung karena namanya mirip sekali, Toni-Doni, mgkn kalau beda jadi lebih mudah, IMHO :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukannya, Mbak. Untuk tulisan berikutnya ^_^

      Delete
  4. Hapaaahhh? Cuma gegara gitu? Hempph. Klo gw jadi Pak Doni pasti akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Mau amoral kok nanggung cuma ama 1 siswi motif dan buktinya kurang valid #eh *kebanyakan nonton serial detektif* :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha... Kayaknya mesti dipanjangin jadi cerpen nih ;p

      Delete
  5. pengen tak pithes ini rara, #jangan ditiru ya pemirsaaaaah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak boleh banget ini ditiru! Heu :D

      Delete
  6. Ya ampuun Rara, sebegitunyya kamuu. ..
    Berarti kepala sekolahnya bohong ya, Mba. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kepala sekolahnya enggak bohong, tapi enggak tahu :D

      Delete
  7. ini namanya guru belum tentu kencing, eh malah murid kencing berlari. buat pemirsah sekalian yg rajin menabung dan juga tak sombong, jangan diikutin ya si rara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, iya jangan diikutin ya si Rara.

      Delete
  8. wah ini mah muridnya yg posesif..guru aja sampe digituin :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muridnya enggak posesif, malah pengin ngeluarin gurunya :D

      Delete
  9. Setuju kata Teh Orin. Pertama kali baca jadi bingung, jadi sebenernya yang bermasalah itu Pak Toni atau Pak Doni.
    Rara licik banget ya. Hiiiyy menyeramkan kalau punya murid seperti dia. Pembalasannya pol banget, padahal sebabnya sepele :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukannya, Putri.

      Untuk FF selanjutnya namanya diusahakan berbeda ^_^

      Delete
  10. Kalo aku, mungkin jadinya...

    Habis, suruh siapa Pak Toni selalu menghukumku kalau ketahuan baca majalah porno. Hi hi hi….

    :mrgreen: udah si anak emang dibikin ngeres aja gitu hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... bagus juga digituin ya, Mbak.

      Tadinya mau kasih sedikit penjelasan kenapa Rara bisa secerdas itu ngejebak gurunya :D

      Delete