Cistelita

 Untuk +yunis kartika 



Dear Cistelita,
Ditanganku sekarang terdapat sebuah buku yang kau tulis, Pesta Para Janda. Maaf baru sekarang kubaca. Tapi aku yakin, bukunya pasti keren!


Cistel,
Sudah lama ya kita tidak ngobrol? Apa kabarmu? Baikkah? Walaupun beberapa kabar kudengar cukup tidak enak. Mulai dari pencurian, kerjaan menumpuk, sampai buku yang belum tersebar. Tapi aku percaya lebih dari seribu persen, kakakku yang kuat ini bisa menyelesaikan semua masalahnya.

Cistel,
Apa kabar Adikku? Hey, dia sudah abege sekarang. Tempo hari, Athaya sempat mengajakku chatting. Dia menyapa dengan Bahasa Inggris ala anak muda. Wih... begitu cepat waktu berlalu. Sebentar lagi, anak itu akan asyik dengan dunia remajanya. Anak yang keren pastinya!

Apa kabar lelakimu? Dia baik sekali. Sungguh aku bisa mempercayakanmu padanya. Dari deretan lelaki yang dekat dengamu, entah kenapa, aku langsung suka padanya. Rasanya bukan entah, dia memang baik, manis, dan memperlakukan adik-adikmu juga dengan sama lembutnya. Jarang sekali ada lelaki begitu.

Pada masa remaja, mungkin kita lebih suka lelaki yang nakal. Yeah, mereka lebih menantang. Sekarang kita sudah dewasa, tentu pilihan kita berubah, setidaknya aku begitu. Yang dibutuhkan lebih dari sekedar menantang namun menentramkan. Lelaki kuat yang mampu jadi sandaran dan berbagi beban. Lelaki yang membuat kita merasa bodoh karena mengingatkan masa remaja yang malu-malu sekaligus menjadi dewasa yang tahu rasanya berkorban.

Cistel,
Akhirnya aku sedikit mengerti apa yang dinamakan dewasa. Dewasa mungkin adalah dimana kita tidak hanya bertindak atas diri sendiri melainkan memikirkan setiap konsekuensi setiap tindakan. Kedewasaan bicara atas nama konsekuensi sosial. Setiap keputusan melibatkan orang-orang di sekeliling kita.

Rasanya tidak enak ya menjadi dewasa. Namun waktu terus bergulir mengantarkan kita pada fase ketuaan. Tua bukan berarti dewasa. Apakah kita mau menjadi orang tua yang tidak dewasa? Ah, itu bukan pilihan, melainkan keharusan.

Cistelita,
Di antara berjuta impian kita, begitu banyak yang tak teraih. Saat menjadi dewasa kita memutuskan mana impian yang mesti dikejar. Sebagian bisa kita wujudkan nanti atau barangkali tidak sama sekali.

Cistel,
Sosokmu yang kuat, terkadang rapuh, selalu menjadi inspirasiku. Kita memiliki banyak perbedaan dalam memilih prinsip, karena itulah hubungan kita berwarna.

Kata orang wajah kita mirip. Lebih serupa ketimbang Eva. Terkadang ketika melihat sosokku, mereka berkata, aku versimu yang lain. Bahkan, Kakak pertama kita, sempat menyapaku sebagaimu. Seandainya saja, tubuhku setinggi kau. Sayangnya, aku harus berbagi tinggi badan dengan Eva. Hehehehe….

Cistelita,
Impian manusia kadang menyesatkan. Entahlah. Jangan lupa untuk selalu menyertakan belahan hatimu ke dalamnya.


Salam Sayang,

Adikmu yang nakal.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

2 comments:

  1. tulisan rindu, mungkin itu yg aku rasa, hehee..

    menulis untuk seseorang adalah suatu hal yg paling menarik, sebab itu berasal dari hati, lain halnya ketika menulis fiksi, kita mencoba mengisinya dengan hati..

    terus semangat ya ka menulisnya..
    sampaikan perasaan itu kepada orang yg disayang.. hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas semangatnya Dian. Saya juga sudah mengikuti blog kamu ^^

      Iya saya lagi kangen sama Cistel *blushing*

      Delete