Rumah di Pojok Jalan

Setiap Daerah punya legenda kota, begitupun di sini. Legenda itu bisa jadi berasal dari kisah nyata atau hanya desas-desus masyarakat kota.

Di dekat rumahku, di kota Bandung, ada sebuah rumah bertingkat dua yang terletak di pojok jalan. Rumah itu tidak terlalu besar dan megah, namun cukup luas dan indah. Bentuk rumah itu normal saja tidak seperti kastil, dengan sebuah pintu besar dari kayu jati, dua buah jendela kecil di lantai bawah dan dua buah jendela besar di lantai atas. Memiliki halaman yang cukup luas. Ada beberapa pohon yang tumbuh di sana, seperti pohon jambu air, pohon mangga, dan pohon lengkeng. Pohon-pohon itu selalu berbuah dengan lebat setiap tahunnya, buah-buah nya sering jatuh ke jalan dan menggiurkan namun anehnya tak seorang pun menggambilnya. Pernah satu kali, aku tergiur memunguti lengkeng-lengkeng gemuk di halaman rumah itu. Ibu menegurku keras, "Jangan! Nanti kena tulah."

Menurut masyarakat sekitar, rumah itu dulu ditinggali oleh keluarga kecil yang memiliki banyak pembantu. Kepala keluarga tersebut adalah seorang pejabat, memiliki dua orang anak. Seorang gadis yang beranjak dewasa berumur akhir belasan bernama Anila dan seorang anak laki-laki yang masih kecil berumur tujuh tahun bernama Boni. Di dalam rumah itu juga tinggal satu keluarga yang menjadi pembantu setia keluarga tersebut. Ada seorang anak laki-laki yang sebaya dengan anak gadis keluarga tersebut, namanya Kama. Mereka tumbuh bersama sejak kecil sampai akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Ayah Anila tidak menyetujui hubungan itu dan berusaha memisahkan mereka, begitu juga kedua orang tua Kama, karena merasa berhutang budi pada keluarga tersebut. Ini memang seperti kisah sinetron, namun kisah ini tidak berlama-lama dan perpanjang-panjang sampai akhirnya bahagia.

Suatu hari sepasang kekasih tersebut memutuskan untuk kawin lari. Pada malam buta keduanya berjanji bertemu di suatu tempat. Malam itu sang ayah resah karena anak gadisnya mengurung diri di kamar, tidak mau makan dan berbicara pada siapapun. Sementara anak laki-lakinya yang kecil menghampiri ayahnya dan memberikan sepucuk surat yang dititipkan Anila. Surat itu seharusnya diberikan keesokan harinya, namun adik anak gadis itu tidak mengerti.

Sang Ayah murka membaca surat itu. Amarah menyeruak seketika, lelaki itu mendobrak masuk ke kamar anak gadisnya tepat ketika Anila hendak keluar melalui jendela. Dengan kasar ditarik rambut Anila kemudian mendaratkan beberapa tamparan di pipi. Kama yang menanti di bawah jendela menyaksikan kejadian itu, segera memanjat jendela menuju lantai dua. Konon kabarnya, Ayah Anila sering membawa-bawa pistol ke mana-mana. Maklum, saat itu, keluarga mereka kelewat mentereng di daerah kami. Dengan pistol itulah, Ayah Anila yang makin geram, mengarahkan pelatuk ke arah kepala pemuda. Sebuah letusan mendarat tepat di antara alisnya, Kama seketika tewas. Anila menjerit, ketakutan melihat kekasihnya bersimbah darah.

Kejadian itu menggegerkan seisi rumah bahkan para tetangga. Namun kejadian itu dapat segera ditutupi. Bagi Ayah Anila yang seorang pejabat, membersihkan masalah seperti itu adalah perkara mudah. Anila yang kehilangan kekasihnya dikabarkan menjadi gila. Keluarga itu pindah entah ke mana. Sementara keluarga Kama yang tetap merasa berhutang budi pada keluarga Anila, merelakan saja kepergian putra mereka. Karena kebaikan keluarga Kama, Ayah Anila menghadiahkan rumah tersebut. Keluarga Kama terlalu sedih untuk tinggal di rumah itu, akhirnya memutuskan pulang ke kampung halaman.

Banyak tetangga bertanya perihal menghilangnya anak lelaki mereka dan kejadian malam itu. Mereka menjawab, bahwa Kama telah merantau ke ibu kota dan malam itu tuan rumah sedang mencoba senapan berburu saja. Para tetangga tidak bodoh untuk percaya begitu saja, mereka tahu bahwa ada anak lelaki terbaring di tanah diantara pepohonan untuk selamanya.

Rumah itu tetap terawat dan asri, sesekali dalam beberapa bulan, para tetangga masih bisa melihat keluarga pembantu setia membersihkan, mengecat dan menata taman. Tapi para tetangga tetap enggan mendekati rumah itu.

Jika kau tidak sengaja lewat rumah itu, sendirian, kau akan disapa oleh seorang pemuda yang tampan. Apalagi bila kamu adalah perempuan, berkulit putih, berambut panjang dan bermata bulat. Jangan takut, perilakunya sopan dan ramah, dia mungkin akan menegur dan memangilmu “Anila”. Kau mungkin akan tersipu malu. Pemuda itu tidak kurang ajar, dia hangat dan baik. Tapi kalau kau berpikir untuk mengenalnya lebih jauh, perhatikan dulu, apakah kakinya menyentuh tanah atau tidak.
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Ara AnggARA
AUTHOR
4 Juni 2015 08.40 delete

ini cukup seram kok bagiku
apalagi pas malem gini bacanya

Reply
avatar
Eva Liana
AUTHOR
25 Januari 2016 21.15 delete

Ikh .... semuanya sudah keren tapi kesel kenapa kalimat endingnya begitu sih! hi hi hi

Reply
avatar