Menjadi Sinar

sinar tidak akan berarti tanpa bayangan, dan
bayangan terlahir atas kehadiran sinar


Mereka tak pernah sendirian, setidaknya begitu dugaan semua orang. Alina dan Anila terlahir kembar. Mereka hampir identik jika saja tidak ada perbedaan berat badan. Keduanya tidak cantik tapi cukup menarik. Tumbuh dewasa bersama, memiliki hobi dan kemampuan hampir sama. Sejak dalam kandungan hingga dewasa mereka bersama, tak heran banyak kebiasaan, pemikiran, dan ketertarikan yang sama.

“Alina lebih feminin ya, Anila itu tomboy!”
“Anila lebih cantik, Alina itu ayu!”
“Alina lebih kurus ya, Anila sih gendut!”
“Anila lebih supel ya, Alina agak pendiam!”
“Alina tuh sabar, Anila cenderung pemarah!”
“Anila tuh kuat, Alina cenderung lemah!”

Hanya sebagian dari pendapat orang. Begitu banyak perbandingan yang diberikan pada anak kembar, sekalipun Alina dan Anila telah terbiasa, namun rasa gundah seringkali menyelinap.

Sinar dan bayangan adalah fitrah. Ada sinar ada bayangan, tak terpisahkan. Katanya matahari itu kembar. Kembaran matahari bernama “Dark Sun”. kenapa harus Dark Sun? Seperti kisah Bawang Merah dan Bawang Putih, kenapa harus ada terang dan gelap?

Alina dan Anila terlahir seperti matahari kembar. Uniknya dunia ini tidak pernah membuat mereka menjadi paten. Adakalanya Alina menjadi sinar, Alina menjadi bayangan, adakala sebaliknya. Ketika salah satu diantaranya menjadi sinar, berprestasi, menawan, dan cantik. Lainnya menjadi terpuruk, buruk, dan canggung.

Mereka tidak pernah ingin menjadi sinar dan bayangan, hanya dunia menjadikan mereka begitu. Betapa lelahnya menjadi objek perbandingan seumur hidup. Mereka ingin menjadi sinar. Sayangnya, sinar tidak akan berarti tanpa bayangan, dan bayangan terlahir atas kehadiran sinar. Ada satu yang tidak diketahui oleh dunia, bahwa mereka adalah sinar bagi satu sama lain. Hanya di dunia mereka berdua, mereka sama-sama menjadi sinar.

“Alina, aku udah punya pacar!” cerita Anila suatu hari ketika mereka sama-sama di bangku SMA.
“Wah… selamattt!! Sama kakak kelas itu ya?” Anila mengangguk.
Tak berapa lama dari situ, Alina juga punya pacar. Lucunya ketika Anila putus, Alina juga ikut putus.

“Anila, aku mau menikah, doakan aku ya..” ujar Alina.
Anila tergugu diam, bukan karena iri, lebih karena merasa kehilangan. Satu sisi ingin melihat kembarannya bahagia, sisi lain merasa terenggut belahan jiwa.
“Baiklah, aku mendoakanmu bahagia, lelaki itu harus orang yang bisa membuatmu bahagia.”
“Bagaimana kalau kita sama-sama menikah?”
“Baiklah”
Namun Anila mengingkari janji itu, tak sanggup mencintai seorang lelaki melebihi Alina.

Waktu berlalu begitu cepat, Anila tetap sendirian, hanya saja dia telah menerima kesendiriannya. Kejadiannya begitu tiba-tiba, sesuatu yang buruk menimpa Alina. Rumah tangganya kandas.

“Tidak apa, sekarang kita bersama lagi saja. Selama ini kita selalu bersama kan?” ucap Anila. Alina mengangguk haru.
“Tapi sekarang kita tidak lagi bisa berdua, ada Risa, tidak apakah?”
“Tidak, tidak apa, Risa adalah belahan jiwa kita juga”.
Previous
Next Post »