Memasak adalah Ci(N)ta dan Rasa, Catatan Memasak #2

Kemarin malam ada sebuah kejutan di kostan saya, yaitu kepindahan seorang kawan yang begitu tiba-tiba. Kami biasa memanggilnya Tante, beliau adalah penghuni kamar kostan paling ujung yang letaknya bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi. Kepindahan Tante ini ditandai dengan menghilangnya sejumlah perabotan seperti kursi dan meja yang biasa kami pakai untuk duduk sambil memasak. Selain itu sejumlah perabotan dapur  yang merupakan kepunyaan Tante juga menghilang seperti kompor dan panci. Otomatis kami yang biasanya ikut mempergunakan kompor Tante tidak lagi bisa memasak.

Seperti yang sudah saya ceritakan dalam artikel pertama, hobi baru saya adalah memasak. Memasak dengan tiga resep sederhana yang hasilnya luar biasa. Dengan menghilangnya kompor di kostan kami, mereduplah kegiatan memasak ini. Menyambung artikel kedua, bagaimanakah ci(n)ta dan rasa menjadi sebuah resep memasak, akan saya uraikan beberapa pengalaman lain disini.

Kepuasan dalam memasak adalah ketika hasil masakan kita dimakan dengan lahap. Masakan yang telah disiapkan cukup lama, membutuhkan kesabaran, keikhlasan, tenaga dan pikiran, terbayar sudah ketika orang-orang disekeliling kita memakan masakan kita hingga habis.

Kebanyakan anak, walaupun tidak semua, menganggap masakan orang tuanya adalah masakan paling nikmat di dunia. Sejujurnya tidak seperti itu, banyak masakan yang jika dinilai dari indra pengecap jauh lebih enak, tapi kadar nikmat masakan orang tua lebih dari sekedar rasa masakan karena ada rasa ci(n)ta disitu. Itulah yang membuat saya pribadi juga merasa bahwa masakan ibu yang paling enak di dunia, karena kebetulan ibu saya yang memasak di rumah. Dan secara tidak sadar yang menyebabkan orang tua bersemangat memasak adalah melihat seorang anak memakan masakannya. Masih ingatkah kalian ketika kita kecil, makan adalah kegiatan yang tidak menarik, lain soal dengan es krim atau coklat. Bagaimana ibu atau ayah mengejar-ngejar, menceritakan sesuatu, sambil menyodor-nyodorkan sendok berisi makanan ke arah kita. Ada masa seorang anak sulit makan. Lazimnya anak-anak tidak suka makan sayuran, orang tua dituntut berpikir dan bertindak kreatif agar si anak mau makan dan gizinya tercukupi. Nilai ci(n)ta dan rasa masakan orang tua pun bertambah.

Berangkat dewasa, saya masuk universitas swasta di Bandung. Selain kuliah dan mengikuti kegiatan UKM, saya juga bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah. Agar waktu kuliah tidak habis oleh kerja, saya mengatur sedemikian rupa sehingga jam kerja adalah sore sampai larut malam. Karena sering kali pulang larut inilah akhirnya saya ngekost. Sebagai anak kostan pada umumnya, saya terbiasa menyantap mie instan. Pagi, siang, sore, malam, seperti iklan mie instan, itulah menu keseharian. Sampai akhirnya terserang penyakit mag. Penyakit ini membuat saya sering muntah dan sakit. Sebagai penghuni baru di kostan dan padatnya kegiatan, saya tidak berbaur dengan penghuni kostan lainnya.

Beruntunganya, di kostan Baksil 52, tinggallah sepasang suami istri yang kerap kami sapa Bunda dan Ayah. Bunda jatuh iba melihat keadaan saya. Seringkali Bunda mengantarkan masakan ke kamar tanpa diminta. Akhirnya saya sering makan di kamar Bunda dan mengenal banyak penghuni kostan lain di sana. Selain Bunda, ada Teh Lia yang juga sering memasak. Masakan Bunda dan Teh Lia bukan masakan mewah dan rumit, menu-menu sederhana namun terasa nikmat di lidah.

Kembali pada masa sekarang, karena rumah sedang dalam keadaan renovasi, saya ngekost kembali. Di sini mulailah saya memasak. Seringkali saya membuat masakan dalam jumlah banyak karena itulah saya bagikan juga pada kawan-kawan kostan. Saya tidak tahu apakah masakan itu nikmat atau tidak di lidah mereka. Melihat mereka makan saja, saya sudah senang. Seperti mengenang masa-masa hidup bersama Bunda dan Teh Lia.

Ada sebuah resep yang saya temukan sendiri, mungkin semua koki mengetahuinya. Memperlakukan bahan masakan seperti makhluk hidup yang memiliki kehendak dan perasaan. Seperti beras, wortel, tomat dan lain-lain, perlakukan mereka dengan baik dan hormat. Entah perasaan saja, tapi saya merasa mereka kemudian memberikan rasa terbaiknya. Hingga sekarang terkumpul empat resep memasak yang sederhana.

Menanggapi komentar seorang teman pada artikel sebelumnya. Jaman dulu kita mengenal kalimat yang diturunkan dari generasi ke genarasi yaitu : setinggi-tingginya perempuan sekolah akan kembali ke dapur, kasur dan sumur. Pernyataan itu merupakan pembatasan bagi kaum perempuan tentu saja. Namun pandangan saya terhadap memasak adalah: pertama, memasak itu seperti merokok. Bagi sebagian orang dan sebagian lingkungan, rokok merupakan alat yang efektif untuk bersilaturahmi dan mendekatkan diri dengan lingkungan. Cukup dengan menyodorkan rokok lantas akan terjadi komunikasi yang alami. Hasil dari memasak yaitu masakan adalah salah satu alat silaturahmi dan komunikasi yang cukup efektif. Bagaimana akhirnya Bunda dan Teh Lia berbagi makanan dengan saya atau dengan penghuni kostan lain. Di era yang serba individualistis ini, kita membutuhkan wadah untuk terus bersilaturahmi.

Kedua, memasak adalah salah satu cara bertahan hidup, mungkin sejak dari zaman purba. Seperti yang saya ceritakan pada artikel pertama, sebagai anak kostan dan pekerja freelance yang harus melakukan penghematan dengan memasak. Mungkin cara bertahan hidup ini juga dilakukan tidak hanya oleh anak kostan tetapi juga oleh banyak pihak.

Ketiga, memasak adalah salah satu manifestasi dari perasaan cinta, contohnya seorang ibu atau ayah pada anaknya. Seorang teman mengatakan pada saya bahwa masakan ayahnya yang paling enak di dunia karena sang ayah yang juga sering memasak untuknya. Artinya memasak bukanlah milik perempuan tetapi milik manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Saya diajari memasak oleh laki-laki. Para koki, kebanyakan juga merupakan laki-laki. Walaupun sampai hari ini masih saja ada banyak pihak yang meneriakan bahwa memasak adalah perwujudan dari kelamin sosial, saya akan dengan lantang mengatakan bahwa memasak adalah perihal ci(n)ta dan rasa.
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

1 comment: