Aroma Senja

Hari ini senja muncul seperti biasa, Ayah
langit masih putih biru, seperti rok sekolah yang kukenakan
saat pertama kali mengerti sebuah cinta
ragu-ragu kau lepaskan gadis kecil ini menggandeng seorang lelaki

Hari ini senja muncul seperti biasa, Ayah
matahari masih setengah muncul, sinarnya kemerahan
ada banyak semburat, seperti pipi malu-malu seorang gadis
yang mendapatkan seikat bunga dan sebuah kecupan dipunggung tangan

Pada setiap senja
     : aku menemukan aroma disana

Aroma senja itu manis, Ayah
seperti secangkir kopi susu yang biasa kita minum
sambil melinting rokok, mengumpulkan tembakau dalam sebuah kaleng
lalu kita akan bercakap secukupnya

Aroma senja itu hangat, Ayah
seperti telapak tangan yang membelai lembut rambutku
lalu kita akan berbagi senyum, seakan mengerti
gadis kecil ini hendak berlindung

Aroma senja itu teduh, Ayah
seperti sepasang matamu, menatap lekat
menyimpan rindu saat aku berlarian disekitar kakimu
matamu adalah penunjuk jalan ketika arah hilang

Aroma senja itu menyenangkan, Ayah
Seperti nyanyian-nyanyian sederhana yang kau ciptakan
Untuk sekedar membuatku tergelak
Kemudian bersama-sama mendendangkannya kembali

Ayah, senja ini, aku ingin berkata:
berhentilah memilah tembakau, berhentilah menyesap kopi
tubuhmu sudah terlalu lelah
berhentilah memandangku seolah gadis kecilmu
dan berharaplah seorang gadis kecil tumbuh dirahimku
lalu kita akan bergantian mengejarnya dan mengajarinya mengeja

Ayah, pada senja yang entah:
aku dan putri kecil duduk bersisian
memandang langit di ujung hari
berbagi dongeng tentang senja
karena dia juga tahu, senja memiliki aroma sepertimu

14 Maret 2012
Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

5 comments:

  1. whuaaa puisi untuk Ayah.
    Simple yah tapi dalam nie, pake perasaan. :P

    ReplyDelete
  2. perlahan air mataku jatuh dengan sebuah senyum kerinduan,,,

    ReplyDelete
  3. Senja selalu ada, meski kadang pagi begitu memaksa tuk kembali menggantikannya. *ikutan baper* :)))

    ReplyDelete