Serial Cantik

Serial Cantik
Credit

Untuk Kadi Oktavianto

31 Januari 2012

Seorang anak kecil laki-laki berumur sepuluh tahun, berlari dengan lincah di lapangan tak berumput. Ia mengenakan sweater kebangsaan berwarna biru putih, hoodnya mengepak seperti sayap. Ia tertawa ketika berhasil membobol gawang lawannya. Senyumnya tipis dan manis, senyum kekanakan yang khas, senyum miliknya.

Yang aku ceritakan di atas itu kamu, Kadi. Bagaimana hidupmu sekarang? Masih hidupkah? Sudah menikah? Sudah punya anak berapa? Kamu seperti hilang semenjak memasuki SMP. Ah, aku kangen dengan lapangan sekolah kita, kangen dengan kelas-kelas reyot itu, kangen dengan pintu di mana aku sering mengintipmu. Aku kangen kamu juga *sambil malu-malu*.

Hei Kadi, aku mau bikin sebuah pengakuan, kalau aku waktu SD suka sama kamu. So long-long time ago. Aku yakin kamu juga tahu. Entah kenapa, waktu itu juga, aku punya perasaan kamu juga suka aku. Buktinya, walaupun jadwal sekolah kita suka berbeda, dalam pengertian, aku sekolah pagi dan kamu sekolah siang atau sebaliknya, kamu suka nongkrong depan kelas aku. Atau main sepak bola atau apalah yang buat kamu diam di sekolah sampai sore. Kamu juga suka datang lebih awal kalau sekolah pagi.

Pertama kali melihatmu, aku langsung tahu bahwa kamu itu seperti tokoh komik dalam serial cantik, tentu saja pemeran utama laki-lakinya. Seandainya saja aku juga jadi pemeran utama perempuan dalam komik. Seperti aku jatuh cinta pada komik begitu pun padamu. Aku masih gadis kecil berumur sembilan tahun, sebagai murid pindahan dari desa, dan kau begitu berkilau disinari matahari sekalipun berlindung di bawah pohon pojok lapangan.

Bagaimana kita saling mengenal? Aku agak lupa, kalau tidak salah di kantin atau musala ya? Pokoknya kita berantem. Padahal momen itu memang sengaja aku tunggu, masa aku terus menerus harus melihat dari kejauhan tanpa mengenalmu. Saat itu aku merasakan sebuah chemistry yang sama, kamu memancarkan ketertarikan itu. Setelah itu kita akan terus bertengkar setiap bertemu. Benar-benar seperti cerita serial cantik.

Tapi tunggu dulu, aku memiliki kembaran dan kau juga terlihat tertarik padanya. Apa-apaan ini? Aku berusaha meyakinkan diri, kau hanya tertarik padaku. Selain itu, kau juga punya sahabat, namanya Josep kan? Dia tertarik padaku, dia berusaha mendekatiku, kadang-kadang kau perduli, selebihnya tidak. Kau terlalu percaya diri rupanya.

Kadi, aku menulis segala sesuatu tentangmu di sebuah diary berwarna pink. Bahkan sampai detail terkecil yang menceritakan tentang hari ini kau memakai jaket apa, makan apa, minum apa, apa saja yang kau lakukan ketika waktu istirahat, atau hanya sekadar kejadian kecil ketika kita berpapasan. Sayangnya, diary itu sudah kubakar. Kenapa? Suatu hari ketika aku sedang menerima telpon dari seseorang yang entah siapa, kembaranku membaca diary itu. Aku melihatnya dan merasa sangat kesal. Kembaranku bilang kalau dia suka kamu dan kamu tampak menyukainya. Aku patah hati. Tapi kamu tidak bisa memecah-belah anak kembar, jadi kami memutuskan untuk berbagi. Ha ha ha ha.

Setelah lulus SD, kau beberapa kali mengunjungi sekolah lalu menghilang begitu saja. Aku berusaha mencari tahu di mana sekolahmu, tapi tak ada kabar sama sekali. Sampai detik ini, aku tidak pernah menemukanmu. Suatu hari setelah ada media sosial, aku mencarimu di Friendster dan Facebook, kamu tidak ada. Apa kamu tidak menggunakan nama asli? Sampai sekarang aku masih hafal betul nama lengkapmu dan bulan kau berulang tahun.

Hei Kadi, kalau kau tidak sengaja membaca surat ini, balaslah. Biar kita bisa sekedar bertegur sapa.
Previous
Next Post »