Putri Rasi dari Negeri Cinta

Putri Rasi dari Negeri Cinta
Putri Rasi dari Negeri Cinta


19 Januari 2012

Rasi, putri kami tercinta, mungkin surat ini baru bisa kau baca lima tahun lagi, dan baru bisa kau mengerti sepuluh tahun kemudian. Pada saat itu di manakah kita? Apakah aku masih bisa melihatmu bertumbuh, mendengar kau memanggilku “Mama Pi”, dan menggenggam tangan kecilmu sebelum tidur?

Rasi, putri kami tercinta, jauh sebelum kau lahir, betapa aku menginginkan kehadiran seorang anak perempuan. Membayangkan ada seseorang menemaniku dari pagi ke pagi, dari malam hingga malam, saling membutuhkan, saling mencintai. Saat itu tak pernah datang hingga hari ini.

Para kekasih datang dan pergi, aku tak pernah menemukan seorang pendamping. Keinginanku untuk memiliki gadis kecil kembali tertidur. Namun aku sadar, kehadiran seorang anak tidaklah harus dari rahim sendiri. Betapa bahagianya, ketika akhirnya Eva, ibumu, kembaranku, mengandung. Delapan bulan lamanya, kami sama-sama menunggu kehadiranmu. Sebisa mungkin apa pun yang diinginkan ibumu, kupenuhi. Kami sering membayangkan menghabiskan waktu bersama denganmu, bermain sampai kelelahan dan jatuh terlelap.

Suatu malam, ibumu kesakitan, ketubannya pecah. Mukanya pucat seperti mayat, terbaring, pasrah. Seandainya aku bisa menggantikan posisi ibumu saat itu. Tidak pernah seumur hidupku merasakan ketakutan sebesar itu, takut kehilangan ibumu, takut kehilangan kamu. Demi Tuhan, manusia memang tidak punya kekuatan sebesar itu untuk menggantikan posisi seseorang. Aku hanya bisa berdoa sepanjang malam. Keesokan harinya, kamu lahir. Kecil mungil, terbaring di inkubator. Kamu cantik, Anakku. Rasa syukur tak pernah cukup untuk membayar kebaikan Tuhan padaku.

Hari berganti hari, kautumbuh menjadi gadis kecil kami. Belajar merangkak dan berjalan. Kudengar kaumemanggilku “Mama”, memanggil kami. Menyanyi dan menari. Hidup sungguh ajaib. Keajaiban itu hadir di hadapan kami. Rambutmu yang keriting, cara berjalan yang aneh, suara parau seperti orang dewasa, pipi memerah malu-malu, kecupan kecil di pipi.

Malam menyapa kami, kau akan tertidur dengan dongeng bikinan ibumu, “Putri Rasi dari Negeri Cinta”. Dongeng serupa doa, betapa kami tidak pernah ingin kau kekurangan kasih sayang, cinta. Walaupun terkadang aku merasa kesal menjadi tokoh nenek sihir, demi mendengarkan tawamu lepas, tak apa.

Sebagai seorang ibu, aku memiliki banyak kekhawatiran, zaman seperti apakah yang akan kauhadapi kelak? Apakah kaubisa menjaga kehormatanmu sebagai seorang perempuan? Apakah kau akan memiliki akar kuat yang sanggup menahanmu dari arus zaman? Rasi, jadilah perempuan yang kuat, bermartabat, dan penuh harga diri. Kelak kau akan mengerti, betapa dunia terkadang bersikap tidak adil pada kita, hanya kita yang mampu mengontrolnya. Namun jangan takut sayang, ibumu ini punya cinta yang besar, sanggup menahankan segala kepedihan.

Sampai detik ini, aku tak pernah membayangkan bahwa kita akan terpisah. Namun anakku, berkumpullah bersama ayahmu, jauh di kota lain, membentuk sebuah keluarga utuh merupakan kebahagiaan terbesar. Kita tetap akan saling menyapa, menyanyi, menari, dan memainkan biola bersama. Aku akan merindukanmu, gadis kecilku.

Suatu hari nanti, mungkin aku akan memiliki keluarga kecil, memiliki anak-anak yang kukandung sendiri, namun kamu tetap gadis kecilku. Tempat cinta pertamaku bersimpuh. Berbahagialah, Anakku, berbahagialah. Doaku tak akan pernah putus, karena kau adalah Anakku, selamanya.

Evi Sri Rezeki
Evi Sri Rezeki

Selamat datang di dunia Evi Sri Rezeki, kembarannya Eva Sri Rahayu *\^^/* Dunia saya enggak jauh-jauh dari berimajinasi. Impian saya mewujudkan imajinasi itu menjadi sebuah karya. Kalau bisa menginspirasi seseorang dan lebih jauhnya mengubah peradaban ^_^

2 comments:

  1. Surat cantik untuk Rasi yang cantik. Teh Evi, Acha mendadak jatuh cinta sama blog-mu ini.

    ReplyDelete